Jerman dan Uni Eropa juga Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Trump Kecewa

Ilustrasi kapal perang UNI EropaIlustrasi kapal perang UNI Eropa
Eropa Tolak Permintaan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Ini Alasannya

INBERITA.COM, Pemimpin Eropa kembali menanggapi dengan penolakan keras terhadap tuntutan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang meminta negara-negara Eropa mengirimkan kapal perang untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Penolakan ini terjadi di tengah pertemuan para Menteri Luar Negeri Uni Eropa (UE) di Brussels, yang juga membahas lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Penolakan dari Jerman terhadap Tuntutan Trump Jerman, sebagai salah satu anggota utama UE, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap permintaan Trump.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, dengan tegas menyampaikan pandangannya bahwa upaya yang diminta Trump sulit dipahami.

“Apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh beberapa kapal fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak dapat dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang kuat?” ujar Pistorius, dilansir dari Aljazirah pada Senin, 16 Maret 2026.

Pistorius lebih lanjut menekankan bahwa konflik ini bukanlah tanggung jawab Eropa, “Ini bukan perang kami. Bukan kami yang memulainya,” tegasnya, menandaskan sikap skeptis Jerman terhadap keterlibatan langsung dalam operasi militer di kawasan tersebut.

Trump dan Ketegangan dengan Eropa Sejak awal masa kepresidenannya, Donald Trump telah dikenal dengan kritiknya terhadap kontribusi militer negara-negara Eropa dalam organisasi NATO.

Pada Januari 2026, Trump membuat marah banyak pemimpin Eropa dengan menyebut bahwa pasukan sekutu NATO “main aman” dalam menghadapi tantangan global, dengan membiarkan AS bertanggung jawab lebih besar dalam konflik-konflik internasional, seperti di Afghanistan.

Selain itu, Trump juga pernah membuat pernyataan yang kontroversial terkait Greenland dan negara-negara Eropa, yang memperburuk hubungan antara Washington dan sekutu-sekutunya di Eropa.

Dalam konteks ini, tuntutan Trump agar Eropa mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz semakin memperjelas ketegangan politik antara AS dan negara-negara UE.

Jerman: Fokus pada Diplomasi dan Keamanan Regional Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan pada Senin lalu bahwa Berlin tidak berniat bergabung dalam operasi militer di Selat Hormuz.

Sebaliknya, Jerman mengharapkan AS dan Israel untuk memberi informasi lebih lanjut tentang tujuan mereka dalam konflik ini.

“Kami mengharapkan AS dan Israel memberi informasi kepada kami, melibatkan kami dalam apa yang mereka lakukan di sana, dan memberi tahu kami apakah tujuan-tujuan mereka menyerang Iran tercapai,” ujar Wadephul dalam sebuah wawancara di Brussels.

Ia menambahkan bahwa setelah mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang tujuan dan hasil dari tindakan militer AS dan Israel, Eropa bersama negara-negara tetangga di kawasan tersebut perlu mulai mendefinisikan arsitektur keamanan untuk wilayah Teluk.

“Kami yakin kami perlu melangkah ke fase berikutnya, yaitu mendefinisikan arsitektur keamanan untuk seluruh wilayah ini, bersama dengan negara-negara tetangga,” jelasnya.

Peran NATO dalam Konflik di Selat Hormuz Sebagai organisasi pertahanan yang beranggotakan sebagian besar negara Eropa, NATO belum membuat keputusan mengenai siapa yang akan bertanggung jawab atas pengamanan Selat Hormuz setelah Trump mendesak agar angkatan laut negara-negara koalisi dikirim untuk mengamankan jalur perairan vital ini.

Selat Hormuz adalah jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi saluran pengiriman sekitar seperlima minyak dunia.

Selat Hormuz: Titik Fokus Konflik AS-Iran Sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz telah menjadi salah satu kawasan yang paling rawan konflik.

Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan drone ke seluruh wilayah Timur Tengah, yang memicu ketegangan dan mempengaruhi pasar energi global.

Saat ini, Selat Hormuz praktis “ditutup” oleh Iran sebagai bagian dari strategi balasan terhadap serangan AS dan Israel, menambah ketegangan yang telah menyebabkan lonjakan harga minyak.

Ancaman terhadap jalur pelayaran internasional ini memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global, mengingat peran penting Selat Hormuz dalam perdagangan energi dunia.

Penolakan keras dari Jerman dan negara-negara Eropa terhadap permintaan Trump untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz menunjukkan ketegangan yang semakin besar antara AS dan sekutu-sekutu Eropanya.

Meski begitu, Eropa menegaskan akan lebih fokus pada diplomasi dan pengaturan keamanan regional daripada terlibat langsung dalam operasi militer.

Dengan ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut, apakah konflik ini akan mencapai titik terang melalui jalur diplomatik atau malah semakin memperburuk hubungan internasional? Hanya waktu yang akan menjawab.