INBERITA.COM, Sekitar 220 warga negara Jepang dan sejumlah warga asing yang terdampak konflik di Timur Tengah telah tiba di Jepang melalui penerbangan charter dari Riyadh, Arab Saudi.
Pesawat evakuasi tersebut mendarat di Narita International Airport pada Sabtu (14/3/2026). Penerbangan ini merupakan bagian dari operasi evakuasi yang dilakukan pemerintah Jepang sejak meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Penerbangan yang membawa ratusan warga tersebut merupakan penerbangan charter keenam yang diatur oleh Ministry of Foreign Affairs of Japan.
Pesawat tersebut berangkat dari Riyadh, membawa warga Jepang yang sebelumnya berada di sejumlah negara di sekitar Iran.
Sejak akhir Februari 2026, kawasan Timur Tengah mengalami peningkatan ketegangan militer setelah serangan yang melibatkan United States, Israel, dan Iran.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keselamatan warga asing yang berada di kawasan tersebut.
Menurut keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Jepang, kedatangan penerbangan terbaru ini membuat total jumlah orang yang telah berhasil dievakuasi ke Jepang mencapai 1.104 orang.
Kelompok yang dipulangkan dalam penerbangan terakhir terdiri dari warga yang sebelumnya berada di beberapa negara Teluk dan kawasan sekitar Iran.
Negara-negara asal evakuasi tersebut meliputi:
- Bahrain
- Iraq
- Kuwait
- Qatar
- Saudi Arabia
Selain warga Jepang, dua warga Taiwan juga dilaporkan ikut dalam penerbangan tersebut.
Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh media Jepang Kyodo News pada Sabtu (14/3/2026).
Pemerintah Jepang menyatakan bahwa untuk sementara waktu mereka menunda pengaturan penerbangan charter tambahan.
Keputusan ini diambil setelah sejumlah penerbangan komersial di kawasan Timur Tengah mulai kembali beroperasi secara terbatas.
Dengan dibukanya kembali beberapa jalur penerbangan komersial, warga Jepang yang masih berada di kawasan tersebut diharapkan dapat kembali ke negaranya melalui jalur penerbangan reguler.
Namun demikian, pemerintah Jepang tetap memantau situasi keamanan di wilayah tersebut secara intensif.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi keselamatan warganya.
Melalui pernyataan yang diunggah di media sosial X, Takaichi menegaskan bahwa keselamatan warga Jepang di luar negeri menjadi prioritas utama pemerintah.
“Kami akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan warga Jepang,” tulisnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah.
Operasi evakuasi warga Jepang ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.
Sejak akhir Februari 2026, kawasan tersebut menjadi pusat konflik yang melibatkan Iran serta aliansi Amerika Serikat dan Israel.
Serangkaian serangan militer dan balasan antar pihak telah meningkatkan risiko keamanan bagi warga sipil dan warga negara asing di berbagai negara Teluk.
Situasi ini membuat banyak negara mengambil langkah cepat untuk mengevakuasi warganya dari wilayah yang berpotensi menjadi zona konflik.
Meski untuk sementara menghentikan penerbangan charter tambahan, pemerintah Jepang memastikan bahwa upaya perlindungan terhadap warga negaranya tetap menjadi prioritas utama.
Kementerian Luar Negeri Jepang juga terus berkoordinasi dengan kedutaan besar dan otoritas setempat di berbagai negara Timur Tengah untuk memastikan kondisi warga Jepang yang masih berada di kawasan tersebut.
Langkah-langkah darurat akan kembali diambil jika situasi keamanan memburuk dalam waktu dekat.







