Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan di Pulau Enggano, DNA Keluarga 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Dicocokkan

INBERITA.COM, Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda memasuki tahap penting setelah ditemukan jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano, Bengkulu.

Kepolisian kini melakukan pencocokan DNA untuk memastikan apakah jenazah tersebut memiliki kaitan dengan rombongan kapal cepat Arupadathu 1.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Hutapea mengatakan data antemortem milik keluarga delapan orang yang masih hilang telah diserahkan kepada Polda Bengkulu. Data tersebut diperlukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk dibandingkan dengan profil DNA jenazah.

“Kami sudah berikan data Antemortem ke Polda Bengkulu dan saat ini masih menunggu hasilnya,” kata Maruli kepada wartawan di Serang.

Sampel DNA jenazah sendiri telah dikirim Polda Bengkulu ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri (Pusdokkes Mabes Polri). Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Imam Wijayanto memastikan proses pencocokan sedang dilakukan.

“Terkait pencocokan DNA jadi untuk jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara saat ini sudah dikirimkan sampel DNA-nya ke Pusdokkes Mabes Polri untuk dicocokkan,” ujar Imam.

Temuan jenazah tersebut terjadi pada Sabtu, 12 September 2026, di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Jenazah ditemukan oleh warga bersama petugas SAR dan kemudian dievakuasi ke Kota Bengkulu untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Evakuasi dilakukan pada Senin, 14 September 2026 menggunakan pesawat Susi Air dari Bandara Enggano menuju Bandara Fatmawati Soekarno. Dua petugas kepolisian ikut mendampingi proses pemindahan jenazah untuk kepentingan pemeriksaan dan autopsi.

Polisi menyebut jenazah tersebut bukan warga asli Pulau Enggano berdasarkan pemeriksaan awal. Identitasnya belum diketahui, sehingga hasil pemeriksaan forensik menjadi kunci untuk menentukan siapa korban tersebut sekaligus mengetahui penyebab kematiannya.

Di saat yang sama, operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang terus diperluas. Kepala Kantor Basarnas Bengkulu Muslikun Sodik mengatakan tim melakukan penyisiran darat di pesisir Pulau Enggano.

“Memang benar saat ini kami melakukan penyisiran darat di kawasan pesisir Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara untuk melakukan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang saat meliput aktivitas Anak Gunung Krakatau,” kata Muslikun.

Tim Basarnas telah menyisir wilayah dari Dermaga Malakoni menuju Banjarsari. Pencarian juga direncanakan menggunakan rigid inflatable boat (RIB) Basarnas yang akan dibawa dari Kota Bengkulu ke Pulau Enggano menggunakan Kapal Pulo Tello.

Langkah tersebut dilakukan karena lokasi penemuan jenazah berada cukup jauh dari titik awal hilangnya kapal.

Delapan orang dalam rombongan itu dilaporkan hilang kontak ketika melakukan perjalanan menggunakan kapal cepat Arupadathu 1 untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dari wilayah Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026.

Mereka terdiri atas lima jurnalis, dua kru kapal, dan seorang pemandu. Hingga Selasa, 15 September, keberadaan mereka belum diketahui.

Temuan jenazah di Enggano membuka kemungkinan baru dalam pencarian, tetapi belum dapat dijadikan bukti bahwa korban merupakan salah satu dari delapan orang tersebut.

Jarak geografis antara Selat Sunda dan Pulau Enggano serta kondisi arus laut membuat identifikasi secara visual saja tidak cukup.

Karena itu, pemeriksaan DNA menjadi tahap yang sangat menentukan. Hasil pencocokan dengan data antemortem keluarga dapat memberikan kepastian identitas secara ilmiah.

Polisi juga masih menunggu hasil autopsi untuk mengetahui lebih jauh kondisi korban dan penyebab kematiannya.

Polda Banten menyatakan terus berkoordinasi dengan Polda Bengkulu setelah menerima informasi mengenai penemuan jenazah.

Maruli berharap pemeriksaan tersebut dapat memberikan titik terang bagi keluarga delapan orang yang hingga kini masih menunggu kabar.

“Masih menunggu hasilnya. (semoga ada titik terang) Amien,” kata Maruli.

Sementara itu, operasi SAR tetap berjalan tanpa menunggu hasil identifikasi. Penyisiran di Pulau Enggano menjadi bagian dari upaya memperluas pencarian, sementara tim terkait terus menelusuri kemungkinan keberadaan kapal dan para penumpangnya.

Untuk saat ini, identitas jenazah di Enggano masih belum terkonfirmasi. Kepastian apakah korban berkaitan dengan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang hanya dapat diperoleh setelah hasil pemeriksaan DNA dan forensik diterbitkan oleh pihak berwenang.