Bulan Sabit dan Bintang Kejora Muncul Berdampingan, Benarkah Pertanda Bencana?

Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Langit Indonesia, BRIN Tegaskan Tak Ada Kaitannya dengan BencanaBulan Sabit dan Venus Berdampingan di Langit Indonesia, BRIN Tegaskan Tak Ada Kaitannya dengan Bencana
Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Langit Indonesia, BRIN Tegaskan Tak Ada Kaitannya dengan Bencana .

INBERITA.COM, Senin malam, 14 September 2026, langit Indonesia menawarkan pemandangan yang mudah menarik perhatian siapa pun yang sempat menengadah selepas Matahari tenggelam.

Bulan yang sedang berbentuk sabit tampak berdekatan dengan Venus, planet paling terang yang kerap disebut masyarakat sebagai Bintang Kejora.

Keduanya terlihat di ufuk barat setelah Matahari terbenam. Bagi pengamat di sejumlah wilayah, terutama ketika cuaca cerah dan tidak banyak tertutup awan, fenomena tersebut dapat disaksikan pada rentang waktu Maghrib hingga sekitar pukul 20.00 WIB.

Kedekatan visual antara dua benda langit itu memang mencolok. Venus tampak seperti titik cahaya sangat terang di dekat Bulan, sementara sabit Bulan menjadi penanda yang membuat konfigurasi tersebut semakin mudah dikenali.

Namun, pemandangan yang menarik secara visual itu tidak berarti kedua benda langit benar-benar berada dalam jarak yang berdekatan di ruang angkasa.

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menegaskan bahwa kemunculan Bulan dan Venus tersebut tidak memiliki hubungan dengan potensi bencana di Indonesia.

“Sama sekali tidak ada kaitannya. Orang yang percaya astrologi (ilmu nujum) yang biasanya mengaitkan fenomena langit dengan bencana. Tetapi itu sekadar kepercayaan yang tidak ada dasar ilmiahnya,” ujar Prof Thomas saat dikonfirmasi wartawan.

Penegasan tersebut penting karena fenomena astronomi yang tampak tidak biasa sering kali memunculkan berbagai tafsir di tengah masyarakat. Dalam sejarahnya, kemunculan objek langit tertentu memang pernah dikaitkan dengan pertanda buruk, perubahan besar, hingga bencana.

Namun, astronomi modern menjelaskan peristiwa semacam ini berdasarkan posisi, gerak, dan orbit benda-benda langit, bukan berdasarkan pertanda atau ramalan.

Dalam kasus Bulan dan Venus pada Senin malam, kedekatan keduanya merupakan konsekuensi dari dinamika tata surya yang berlangsung secara teratur.

Prof Thomas menjelaskan, fenomena tersebut pada dasarnya merupakan kejadian yang wajar dalam pengamatan langit. Dalam kondisi tertentu, posisi Bulan dapat terlihat sangat dekat dengan sebuah planet.

Bahkan, dari lokasi tertentu di Bumi, Bulan dapat melintas di depan Venus sehingga planet itu untuk sementara tampak tertutup.

“Biasa terjadi tapi tidak ada periode tertentu, tetapi relatif sering terjadi dalam hitung tahun,” katanya.

Peristiwa ketika sebuah benda langit tampak menutupi benda langit lain dikenal sebagai okultasi. Fenomena ini terjadi ketika objek yang lebih dekat dengan pengamat berada pada satu garis pandang dan menghalangi objek yang berada di belakangnya.

Okultasi tidak hanya dapat terjadi antara Bulan dan planet. Secara astronomis, sebuah bintang juga dapat tertutup oleh Bulan atau bahkan oleh benda kecil seperti asteroid.

Ketika objek latar tertutup, kecerlangannya dari sudut pandang pengamat di Bumi dapat berkurang atau menghilang untuk sementara.

Perubahan tersebut dapat berlangsung sangat singkat. Karena itu, pengamatan okultasi secara ilmiah membutuhkan pencatatan waktu yang presisi, terutama ketika peneliti ingin menentukan kapan sebuah objek mulai tertutup dan kapan kembali terlihat.

“Itu bulan sabit dan planet Venus (bintang Kejora). Di wilayah Sumatera terlihat okultasi, yaitu planet Venus tertutupi bulan beberapa saat. Itu fenomena biasa, walau jarang terjadi,” kata Prof Thomas.

Dengan demikian, tidak semua wilayah Indonesia akan melihat kejadian yang sama persis. Bentuk Bulan dan posisi Venus dapat terlihat berbeda tergantung lokasi pengamat.

Di wilayah tertentu, keduanya hanya tampak berdekatan. Sementara dari lokasi lain, posisi Bulan terhadap Venus dapat menghasilkan peristiwa okultasi.

Perbedaan tersebut terjadi karena pengamatan benda langit sangat dipengaruhi oleh posisi pengamat di permukaan Bumi.

Garis pandang dari satu wilayah ke wilayah lain tidak selalu sama, sehingga sebuah peristiwa yang terlihat sebagai kedekatan visual di satu tempat dapat menghasilkan konfigurasi yang sedikit berbeda di tempat lainnya.

Mengapa Bulan dan Venus bisa tampak berdampingan? Jawabannya berkaitan dengan bidang orbit.

Bulan mengorbit Bumi, sedangkan Venus mengorbit Matahari. Meski sistem geraknya berbeda, orbit Bulan dan planet-planet di tata surya secara umum berada pada bidang yang relatif berdekatan.

Akibatnya, dari Bumi, Bulan dan planet sering kali terlihat bergerak di kawasan langit yang sama dan sesekali tampak berdekatan.

Prof Thomas memberikan gambaran sederhana untuk menjelaskan kondisi tersebut.

“Jadi suatu saat akan tampak berdekatan atau bulan menutup planet. Ibaratnya kita melihat kendaraan di jalan raya dari tepi jalan. Kadang melihat truk dan sedan berdekatan, lalu truk menutup sedan. Itu bisa terjadi pada semua kendaraan. Seperti itu pula ketampakan iring-iringan bulan dan planet-planet di langit,” ujarnya.

Analogi tersebut menunjukkan bahwa kedekatan yang terlihat dari Bumi tidak otomatis berarti dua benda berada dalam jarak yang sangat dekat satu sama lain. Perspektif pengamatan memainkan peran besar dalam menentukan bagaimana objek-objek langit tampak tersusun.

Fenomena seperti ini justru menjadi kesempatan menarik untuk mengenalkan astronomi kepada masyarakat. Tanpa peralatan khusus, masyarakat dapat mengamati Bulan dan Venus selama kondisi langit memungkinkan.

Arah pengamatan berada di bagian barat setelah Matahari terbenam, sehingga waktu terbaiknya relatif singkat karena kedua objek perlahan turun mendekati ufuk seiring berjalannya malam.

Pengamatan sederhana juga dapat membantu membedakan Venus dari bintang. Venus biasanya tampak sangat terang dan tidak berkelap-kelip sekuat bintang akibat pengaruh atmosfer. Ketika berada di dekat Bulan sabit, planet tersebut menjadi semakin mudah dikenali.

Yang perlu ditekankan, pemandangan langit pada 14 September 2026 bukanlah sinyal akan datangnya bencana. Tidak ada dasar ilmiah untuk menghubungkan posisi Bulan dan Venus dengan gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, atau bencana alam lainnya.

Bagi astronomi, peristiwa tersebut jauh lebih sederhana sekaligus menarik: sebuah konfigurasi benda langit yang dapat diamati dari Bumi akibat pergerakan alami objek-objek di tata surya.

Perbedaan posisi pengamat bahkan membuat fenomena yang sama dapat memberikan pengalaman pengamatan berbeda di berbagai wilayah Indonesia.

Jadi, jika Bulan sabit dan Venus terlihat berdampingan di langit barat pada Senin malam, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya sebagai pertanda tertentu.

Fenomena tersebut dapat dinikmati sebagai salah satu keindahan langit malam sekaligus pengingat bahwa benda-benda langit terus bergerak dalam pola yang dapat dipelajari dan diprediksi melalui ilmu pengetahuan.