INBERITA.COM, Setelah sempat ada dua opsi jalur evakuasi, akhirnya dipastikan jenazah pendaki Gunung Slamet asal Magelang, Syafiq Ridhan Ali Razan, akan diturunkan melalui Pos Pendakian Gunung Malang di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.
Keputusan tersebut diambil setelah jalur Dipajaya di Pemalang, yang sebelumnya sempat menjadi pilihan, dinilai terlalu berat dan berisiko.
Kapolsek Karangreja AKP Arisno mengonfirmasi hal tersebut kepada Radarmas, Kamis (15/1/2026) pagi. Menurutnya, jalur Gunung Malang dipilih untuk memastikan keselamatan tim SAR dan relawan dalam proses evakuasi.
“Info terakhir, jenazah korban akan dilewatkan jalur Gunung Malang,” ujar AKP Arisno melalui sambungan telepon.
Saat ini, tim SAR gabungan sedang melakukan evakuasi jenazah yang diperkirakan memakan waktu sekitar empat jam.
Mereka akan membawa jenazah dari titik penemuan menuju Pos Pendakian Gunung Malang. Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke RSUD dr R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk dilakukan pemeriksaan dan otopsi.
Tim Dokkes Polres Purbalingga sudah disiagakan di rumah sakit untuk mendukung proses tersebut.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Syafiq Ridhan Ali Razan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di punggungan lereng puncak selatan “Segara Wedi”, tepatnya di batas vegetasi jalur pendakian. Korban ditemukan setelah 17 hari pencarian sejak dinyatakan hilang di Gunung Slamet.
Syafiq dilaporkan hilang pada Minggu (28/12/2025). Ia mendaki Gunung Slamet bersama rekannya, Hirmawan Haidar Bahran, melalui Pos Pendakian Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (27/12/2025).
Dalam pendakian tersebut, Syafiq sempat turun lebih dahulu untuk mencari bantuan karena rekannya mengalami cedera.
Hirmawan Haidar Bahran kemudian berhasil ditemukan oleh tim SAR di Pos 9 Gunung Slamet, namun Syafiq tidak dapat ditemukan di jalur yang sama.
Operasi pencarian oleh tim SAR gabungan dilakukan hingga Rabu (8/1/2026) dan sempat diperpanjang selama dua hari, namun belum membuahkan hasil.
Meski operasi SAR resmi ditutup, pencarian dilanjutkan secara mandiri oleh relawan dari berbagai unsur dan basecamp. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil meski dengan kabar duka, saat Syafiq ditemukan di kawasan segara wedi pada Selasa (13/1/2026).
Dua minggu pencarian yang penuh tantangan akhirnya berakhir dengan penemuan jenazah, meskipun pencarian tersebut sempat terkendala oleh medan yang berat dan kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Jalur evakuasi yang sempat direncanakan melalui Dipajaya, Pemalang, batal digunakan. Tim SAR menilai medan di jalur tersebut terlalu berat dan berisiko bagi keselamatan tim evakuasi.
Oleh karena itu, jalur Gunung Malang dipilih sebagai rute yang lebih aman dan memungkinkan tim SAR serta relawan bekerja dengan optimal.
Menurut keterangan AKP Arisno, keputusan tersebut diambil setelah memperhitungkan kondisi teknis di lapangan dan demi keselamatan bersama.
Dengan selesainya proses evakuasi ini, masyarakat dan keluarga korban berharap agar kejadian tragis ini menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam melakukan pendakian, terutama pada medan yang berat seperti Gunung Slamet.
Pihak kepolisian dan tim SAR juga mengingatkan agar para pendaki mematuhi prosedur keselamatan dan tidak ragu untuk meminta bantuan saat menemui kendala di jalur pendakian. (**)