Iran Gempur 3 Kapal Perang AS di Selat Hormuz, Trump Ultimatum Iran Akan Muncul “Cahaya Besar” Hancurkan Teheran

INBERITA.COM, Konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Ketegangan terbaru pecah di jalur strategis Selat Hormuz setelah Iran melancarkan serangan terhadap tiga kapal perang Amerika Serikat sebagai respons atas serangan Washington terhadap kapal tanker milik Teheran yang disebut melanggar blokade.

Insiden itu terjadi pada Kamis (7/5/2026) ketika tiga kapal perang Amerika Serikat, yakni USS Truxtun (DDG-103), USS Rafael Peralta (DDG-115), dan USS Mason (DDG-87), melintasi jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz menuju Teluk Oman.

Iran kemudian melancarkan serangan yang disebut sebagai “aksi balasan” atas tindakan Amerika Serikat sebelumnya yang menyerang sejumlah kapal tanker Iran.

Teheran menilai aksi Washington tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sekaligus ancaman terhadap kedaulatan negaranya.

Situasi semakin memanas setelah militer Amerika Serikat kembali melakukan serangan balasan pada Kamis malam waktu setempat.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau United States Central Command menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri setelah kapal perang AS menjadi sasaran serangan Iran.

“Pasukan AS mencegat serangan Iran yang tidak diprovokasi dan merespons dengan serangan untuk membela diri ketika kapal perusak rudal kendali Angkatan Laut AS melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman pada 7 Mei,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.

Militer Amerika mengungkapkan bahwa sasaran serangan mereka meliputi sejumlah fasilitas yang disebut digunakan Iran untuk melancarkan serangan terhadap armada Washington.

Fasilitas tersebut mencakup lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando dan kendali, hingga node intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

Pejabat militer Amerika juga mengklaim telah menggempur sejumlah wilayah strategis Iran, termasuk Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Kawasan tersebut diketahui menjadi titik penting aktivitas militer dan pelayaran Iran di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran memberikan versi berbeda terkait serangan tersebut. Juru bicara angkatan bersenjata Iran menyebut serangan udara Amerika Serikat justru menghantam wilayah sipil di sepanjang pesisir Pulau Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik.

Pemerintah Teheran menuding Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Iran juga menilai serangan terhadap kapal tanker minyak mereka merupakan bentuk agresi yang sengaja memicu eskalasi konflik baru di kawasan.

Sebagai respons, Teheran menyatakan pihaknya melakukan serangan terhadap kapal militer Amerika Serikat yang berada di wilayah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar.

Ketegangan yang terus meningkat dalam sepekan terakhir akhirnya memancing reaksi keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam pernyataannya di Washington DC, Trump menuding Iran sengaja mempermainkan Amerika Serikat di tengah situasi yang semakin sensitif.

“Mereka mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka,” kata Trump kepada wartawan di Washington DC pada hari Kamis – menyebut serangan itu sebagai ‘sentuhan kasih sayang’ di media sosial.

Pernyataan Trump itu langsung menjadi sorotan karena disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS tersebut bahkan secara terbuka mengancam Iran agar segera menyepakati gencatan senjata jika tidak ingin menghadapi serangan lebih besar.

“Jika tidak ada gencatan senjata, Anda tidak perlu tahu. Anda hanya perlu melihat satu cahaya besar yang keluar dari Iran. Dan mereka sebaiknya segera menandatangani perjanjian mereka,” tegasnya.

Ucapan Trump dinilai memperlihatkan sikap Washington yang semakin agresif terhadap Teheran. Meski demikian, di saat bersamaan ia juga mengklaim bahwa perundingan nuklir yang sedang berjalan antara kedua pihak berlangsung dengan baik.

Namun, Trump tetap memberikan tekanan keras kepada Iran dan menegaskan bahwa negaranya telah siap menghadapi segala kemungkinan eskalasi militer.

“Setiap rudal telah ditembak jatuh. Setiap drone telah ditembak jatuh. Dan orang-orang yang menembaknya sudah tidak bersama kita lagi,” kata Trump, menambahkan bahwa sebuah kapal tanker Iran kemudinya tertembak dan ‘berputar-putar’ untuk menghindari ‘menciptakan lingkungan yang berbahaya’.

“Seharusnya mereka tidak melakukan itu hari ini,” tegas presiden. “Kami sudah siap.”

Konfrontasi terbaru di Selat Hormuz kembali menempatkan kawasan Timur Tengah dalam situasi rawan konflik terbuka.

Jalur perairan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia sehingga setiap eskalasi militer di wilayah itu berpotensi memengaruhi stabilitas energi global.

Serangan saling balas antara Iran dan Amerika Serikat juga menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas jika tidak segera dikendalikan melalui jalur diplomasi.

Hingga kini belum ada tanda-tanda kedua negara akan meredakan ketegangan, sementara ancaman militer dan perang pernyataan terus meningkat dari kedua pihak.

Di tengah situasi yang semakin panas, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan dampaknya terhadap keamanan kawasan, perdagangan internasional, dan harga minyak dunia.