INBERITA.COM, IHSG kembali tertekan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan momentum penguatan dan justru anjlok tajam 1,13% ke level 6.301,77 pada Kamis (13/8/2026).
Penurunan ini nyaris mengembalikan indeks ke level psikologis 6.200, sebuah batas yang kerap menjadi penanda sentimen pasar.
Volume transaksi yang relatif sepi turut memperburuk situasi. Total perdagangan hanya mencapai Rp13,62 triliun dengan volume 28,43 miliar saham yang ditransaksikan sebanyak 1,92 juta kali.
Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 175 yang mencatatkan penguatan, sementara 452 saham melemah dan 164 lainnya stagnan. Kondisi ini mencerminkan minimnya minat investor dalam bertransaksi.
Tekanan terbesar datang dari investor asing. Mereka melakukan aksi jual besar-besaran senilai Rp1,41 triliun di seluruh pasar.
Rinciannya, Rp1,39 triliun di pasar reguler dan Rp26,03 miliar di pasar negosiasi serta tunai. Aksi ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong IHSG terjerembab.
Meski demikian, tidak semua saham mengalami tekanan. Beberapa emiten justru mencatatkan net foreign buy tertinggi. Berdasarkan data dari Stockbit, terdapat sepuluh saham yang paling diminati oleh investor asing pada hari itu.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi yang paling diminati dengan nilai pembelian Rp129,43 miliar.
Di posisi kedua, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan net foreign buy sebesar Rp38,64 miliar.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menempati urutan ketiga dengan nilai Rp30,87 miliar. Ketiga bank besar ini menjadi pilihan utama investor asing di tengah tekanan pasar.
Selain sektor perbankan, saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) juga mencatatkan net foreign buy sebesar Rp9,14 miliar.
Perusahaan rokok ini menjadi satu-satunya emiten non-bank yang masuk dalam daftar sepuluh besar. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing masih melihat potensi di sektor konsumen.
PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) mencatatkan net foreign buy sebesar Rp7,38 miliar. Perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan ini menjadi salah satu emiten yang relatif tahan terhadap tekanan pasar.
Sementara itu, PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) mencatatkan nilai net foreign buy sebesar Rp5,90 miliar.
PT DMS Propertindo Tbk. (KOTA) juga masuk dalam daftar dengan net foreign buy sebesar Rp5,63 miliar. Perusahaan properti ini menjadi salah satu yang relatif stabil di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) mencatatkan nilai net foreign buy sebesar Rp4,14 miliar.
Dua bank lainnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB), masing-masing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp3,20 miliar dan Rp2,69 miliar.
Meskipun nilainya lebih kecil dibandingkan emiten lainnya, kedua saham ini tetap menjadi pilihan investor asing.
Penurunan IHSG kali ini menjadi pengingat bahwa pasar modal Indonesia masih rentan terhadap tekanan eksternal. Aksi jual investor asing yang massif menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan indeks. Kondisi ini menuntut para pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Sepuluh saham yang mencatatkan net foreign buy tertinggi menjadi bukti bahwa meski pasar sedang tertekan, masih ada peluang yang dimanfaatkan oleh investor asing.
Hal ini menunjukkan bahwa likuiditas pasar masih terjaga meskipun volume transaksi relatif rendah. Investor diharapkan dapat memanfaatkan momen ini untuk melakukan evaluasi strategi portofolio mereka.
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, para analis menyarankan agar investor tetap disiplin dalam mengelola risiko. Diversifikasi portofolio dan pemantauan terhadap perkembangan ekonomi global menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian pasar.
IHSG yang sempat mendekati level psikologis 6.200 menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase pencarian titik keseimbangan.