INBERITA.COM, Sebanyak dua pabrik baru dipastikan akan hadir di Boyolali pada 2026 dan diproyeksikan menjadi motor baru pertumbuhan tenaga kerja di wilayah tersebut.
Dengan kebutuhan sekitar 8.500 pekerja, gelombang investasi itu mempertegas posisi Boyolali sebagai salah satu daerah yang kian diminati investor asing di sektor industri.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Boyolali, Dwi Sundarto, yang menyebut dua pabrik yang telah memastikan rencana operasional itu merupakan perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing (PMA).
Keduanya adalah PT Wanhe Garment Indonesia asal Cina dan perusahaan asal Malaysia, Adilmart, yang bergerak di sektor pemotongan hewan.
Dwi menjelaskan, Wanhe akan menjadi industri garmen berskala besar yang berlokasi di wilayah Penggung, Boyolali.
Pabrik tersebut direncanakan mulai beroperasi pada akhir 2026 dan membutuhkan tenaga kerja paling banyak dibanding proyek investasi lainnya pada tahun yang sama, yakni sekitar 7.000 orang.
Sementara Adilmart, yang berlokasi di Kebonbimo, dijadwalkan beroperasi setelah Lebaran 2026 dengan kebutuhan tenaga kerja sekitar 1.500 orang.
“Untuk Wanhe berada di Penggung, Boyolali. Direncanakan beroperasi pada akhir 2026, membutuhkan tenaga kerja sekitar 7.000 orang. Lalu, Adilmart sekitar 1.500 orang, beroperasi rencananya setelah Lebaran 2026. Itu di Kebonbimo,” kata Dwi kepada Espos, Minggu (30/11/2025).
Selain dua perusahaan tersebut, Dwi mengungkapkan ada pula investor dari Taiwan yang berencana mendirikan pabrik garmen dan saat ini sedang dalam tahap pengurusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Jika seluruh proses berjalan lancar, Boyolali diperkirakan akan menambah kapasitas industri manufaktur secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Dwi, keberadaan pabrik-pabrik baru tersebut tidak hanya memperluas lapangan kerja, tetapi juga akan memberikan dampak ekonomi berantai.
Ia menyebut calon pekerja akan mendapatkan pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) selama 1,5 hingga 2 bulan sebelum resmi bekerja, sehingga kualitas sumber daya manusia lokal dapat meningkat dan lebih siap memasuki industri padat karya.
Optimisme Boyolali terhadap pergerakan investasi bukan tanpa alasan. Berdasarkan data DPMPTSP Boyolali, realisasi investasi sepanjang triwulan I hingga triwulan III 2025 telah mencapai Rp2,7 triliun, atau tepatnya Rp2.712.199.915.501. Capaian itu setara 143,48% dari target setahun 2025 yang ditetapkan Rp1.890.304.600.000.
Dwi merinci, realisasi investasi pada triwulan I sebesar Rp1.005.493.708.708, triwulan II Rp628.982.767.198, dan triwulan III mencapai Rp1.077.723.439.395. Dengan satu triwulan tersisa, ia optimistis nilai investasi Boyolali pada 2025 masih berpotensi bertambah. Untuk tahun 2026, target investasi Boyolali berkisar Rp2 triliun.
Secara keseluruhan, jumlah proyek investasi yang telah terealisasi mencapai 15.521 proyek, dengan total serapan tenaga kerja 58.324 orang.
Pemerintah Kabupaten Boyolali juga mencatat luas kawasan yang masuk dalam Kegiatan Penanaman Investasi (KPI) mencapai 2.034,42 hektare, terdiri dari 588,447 hektare yang sudah terbangun dan 1.445,973 hektare yang belum dikembangkan.
Di sisi masyarakat, rencana pembukaan pabrik baru mendapatkan respons beragam namun cenderung positif. Warga Candigatak, Cepogo, Boyolali, Luqman Hakim (22), mengatakan ia mengetahui rencana pembangunan pabrik Wanhe karena lokasinya berada di jalur utama Solo–Semarang, wilayah Penggung, sehingga mudah terlihat.
“Lokasi pasti saya kurang paham, cuma memang ada pembangunan pabrik di jalan mau ke Tlatar. Tapi pada dasarnya respons saya baik mengingat penyerapan tenaga kerja masih dibutuhkan. Lokasinya juga strategis karena berbatasan langsung dengan Kecamatan Ampel dan Cepogo walau letaknya di Boyolali,” ujarnya.
Meski demikian, Luqman berharap perekrutan tenaga kerja akan memprioritaskan warga lokal. Ia meyakini masyarakat Boyolali dapat memenuhi kebutuhan perusahaan, baik untuk posisi tenaga ahli maupun staf umum.
Baginya, keberpihakan kepada pekerja lokal bukan hanya soal kesempatan kerja, tetapi juga penting untuk menjaga harmoni sosial di wilayah tersebut.
“Semoga pembangunan yang ada memang untuk mensejahterakan warga Boyolali,” harap dia.
Dengan bergulirnya investasi besar dari Cina, Malaysia, dan calon investor Taiwan, serta percepatan pembangunan industri baru, Boyolali kini berada dalam momentum penting transformasi ekonomi.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, 2026 berpotensi menjadi salah satu tahun paling dinamis bagi sektor industri dan tenaga kerja di daerah tersebut.