Indonesia Resmi Ajukan Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia ke UNESCO 2025

INBERITA.COM, Indonesia secara resmi mengajukan tempe sebagai warisan budaya takbenda dunia ke UNESCO pada tahun 2025. Langkah ini menandai pencapaian penting setelah perjuangan panjang berbagai komunitas dan pegiat budaya yang selama bertahun-tahun mendorong pengakuan internasional terhadap makanan tradisional berbahan dasar kedelai tersebut.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa pengajuan tempe ke UNESCO dilakukan melalui mekanisme single nomination, atau pengajuan tunggal oleh satu negara.

“UNESCO membatasi kita hanya boleh satu negara (ajukan) satu dalam dua tahun untuk single nomination,” ujar Fadli dalam acara Bincang Media Satu Tahun Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Jumat, 24 Oktober 2025.

Menurut Fadli, tempe dipilih bukan sekadar karena popularitasnya, melainkan karena nilai budaya, filosofi, dan peran sosialnya yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Makanan ini bukan hanya hasil fermentasi kedelai, tetapi juga simbol kebersamaan, kemandirian pangan, serta kreativitas masyarakat dalam mengolah sumber daya lokal.

Selama ini, tempe telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner nusantara dan semakin dikenal secara global. Di berbagai negara, terutama di Eropa, Amerika, dan Jepang, tempe bahkan mulai diproduksi secara komersial dan dipasarkan sebagai sumber protein nabati sehat.

Namun, akar sejarah, teknik pembuatan, dan nilai budayanya tetap berakar kuat di Indonesia, yang menjadikannya pantas untuk memperoleh pengakuan dunia.

Selain tempe, Indonesia juga mengajukan dua unsur warisan budaya takbenda lain ke UNESCO dengan sistem extension dan joint nomination.

Melalui mekanisme extension, Indonesia bersama Malaysia mengusulkan kesenian tradisional makyong agar masuk dalam daftar warisan budaya takbenda dunia.

Makyong merupakan seni teater tradisional yang memadukan musik, tari, dan drama, berkembang terutama di wilayah Kepulauan Riau, sementara di Malaysia, seni ini tumbuh subur di Kelantan.

“Malaysia sudah mendaftarkannya sebagai Intangible Cultural Heritage lebih dulu, dan kita sepakat ini akan menjadi extension list,” ujar Fadli. Dengan demikian, makyong akan tercatat sebagai warisan budaya bersama yang diakui lintas negara.

Adapun untuk joint nomination, Indonesia menggandeng Suriname dalam mengusulkan kesenian jaranan sebagai warisan budaya takbenda dunia.

Fadli menjelaskan, jaranan merupakan kesenian rakyat yang tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia dengan sebutan berbeda-beda, termasuk kuda lumping di Jawa.

“Kita perlu ada negara baru yang belum punya sama sekali pencatatannya itu di UNESCO. Kebetulan, Suriname ini punya tradisi jaranan juga,” jelas Menbud.

Kerja sama ini mencerminkan hubungan historis dan kultural antara kedua negara yang memiliki akar budaya Jawa, mengingat banyak keturunan masyarakat Jawa yang menetap di Suriname sejak masa kolonial.

Langkah strategis Indonesia dalam pengajuan warisan budaya ini diharapkan dapat memperkuat diplomasi kebudayaan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan kekayaan tradisi bangsa.

Pengakuan dari UNESCO tidak hanya akan menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga dorongan bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan di tingkat lokal.

Fadli menegaskan bahwa proses pengajuan ke UNESCO bukan sekadar soal prestise, melainkan tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Dengan status sebagai warisan dunia, negara diharapkan semakin aktif dalam melestarikan, mendokumentasikan, dan mengajarkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat identitas budaya nasional di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang sering kali menggerus tradisi lokal.

Dengan tempe, makyong, dan jaranan, Indonesia menunjukkan bahwa kebudayaan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga kekuatan untuk masa depan.

Melalui pengajuan resmi ke UNESCO pada 2025 ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa.

Dari meja makan rakyat hingga panggung kesenian tradisional, setiap unsur budaya menjadi bukti nyata kreativitas, keberagaman, dan semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa.

Dengan tempe sebagai simbol kearifan lokal yang mendunia, diharapkan dunia semakin mengenal Indonesia bukan hanya lewat destinasi wisata, tetapi juga melalui warisan budayanya yang hidup, lestari, dan mendidik generasi penerus untuk bangga menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. (mms)