INBERITA.COM, Lonjakan harga plastik yang terjadi di Indonesia hingga April 2026 dinilai sebagai momentum penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk beralih ke kemasan berbahan alami.
Ketua DPR RI Puan Maharani menilai kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga membuka peluang menuju praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (15/4/2026), Puan menyebut kenaikan harga plastik yang signifikan dapat menjadi titik balik bagi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan tersebut.
Ia menekankan bahwa penggunaan kemasan organik tidak hanya lebih terjangkau, tetapi juga memiliki dampak ekologis yang jauh lebih baik karena mudah terurai.
“Meskipun plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kepraktisannya, kita ketahui bersama beban ekologinya sangat tinggi. Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau,” kata Puan.
Diketahui, harga plastik di dalam negeri mengalami kenaikan tajam, berkisar antara 30 hingga 80 persen.
Kondisi ini dipicu oleh konflik geopolitik global yang berdampak pada terganggunya rantai pasok bahan baku.
Ketergantungan industri nasional terhadap impor bahan baku plastik yang masih mencapai sekitar 60 persen turut memperparah situasi.
Kenaikan harga tersebut dirasakan paling berat oleh pelaku UMKM, terutama di sektor makanan dan minuman yang selama ini bergantung pada kemasan plastik sekali pakai.
Puan menilai kondisi ini berpotensi menekan keberlangsungan usaha kecil yang memiliki margin keuntungan terbatas.
“Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi,” ujarnya.
Sebagai solusi, Puan mendorong pelaku UMKM untuk kembali mengadopsi kemasan berbasis kearifan lokal yang memanfaatkan bahan alami.
Ia menilai praktik ini bukan hal baru, melainkan sudah lama diterapkan oleh masyarakat Indonesia sebelum penggunaan plastik menjadi masif.
“Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” tuturnya.
Ia mencontohkan penggunaan daun pisang maupun daun jati yang masih banyak dijumpai di wilayah Jawa Tengah.
Bahan-bahan tersebut kerap digunakan untuk membungkus berbagai makanan tradisional seperti nasi liwet, gudeg, hingga mi lethek.
Selain mudah didapat, kemasan alami ini juga memiliki nilai tambah, seperti mampu menjaga kualitas makanan serta memberikan aroma khas.
Puan menilai, penggunaan kemasan organik tidak hanya membantu pelaku usaha mengurangi beban biaya akibat mahalnya bahan baku impor, tetapi juga berpotensi meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.
“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor, tapi juga bisa menambah nilai jual,” ungkap Puan.
“Termasuk dari segi keunikannya yang buat beberapa kalangan masyarakat bisa menjadi daya tarik untuk membeli,” sambungnya.
Lebih jauh, Puan juga mengaitkan penggunaan kemasan ramah lingkungan dengan upaya mendukung agenda pembangunan berkelanjutan global atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Ia menilai langkah ini sejalan dengan upaya pengurangan limbah serta pelestarian lingkungan hidup.
Dengan kondisi harga plastik yang terus meningkat dan kesadaran lingkungan yang kian tumbuh, peralihan ke kemasan alami dinilai bukan sekadar alternatif, melainkan kebutuhan jangka panjang bagi keberlanjutan usaha dan kelestarian bumi.