INBERITA.COM, Timnas Brasil memberikan jawaban tegas atas berbagai kritik yang mengiringi penampilan mereka di awal Piala Dunia 2026.
Setelah gagal tampil meyakinkan pada pertandingan pertama, Selecao menunjukkan kualitas sesungguhnya dengan mengalahkan Haiti 3-0 dalam laga kedua Grup C yang berlangsung di Lincoln Financial Field, Philadelphia, Sabtu (20/6/2026) WIB.
Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin bagi Brasil. Hasil tersebut juga menjadi penegasan bahwa skuad besutan Carlo Ancelotti mulai menemukan ritme permainan yang selama ini dinanti para pendukungnya. Di sisi lain, kekalahan kedua secara beruntun membuat Haiti menjadi tim pertama yang dipastikan tersingkir dari turnamen.
Sorotan utama pertandingan tertuju kepada Matheus Cunha. Penyerang berusia 27 tahun itu tampil sebagai pembeda setelah dipercaya menjadi starter sejak menit awal.
Kepercayaan yang diberikan Ancelotti dibayar lunas dengan dua gol yang membawa Brasil mengendalikan pertandingan sejak babak pertama.
Sejak peluit awal dibunyikan, Brasil tampil dengan pendekatan yang berbeda dibanding laga pembuka mereka.
Intensitas serangan lebih tinggi, transisi lebih cepat, dan pergerakan antarlini terlihat jauh lebih hidup. Cunha menjadi pusat permainan di lini depan dengan mobilitas yang menyulitkan pertahanan Haiti.
Gol pertama Brasil lahir pada menit ke-23. Berawal dari upaya Vinicius Junior yang mampu menciptakan ancaman di kotak penalti, bola liar akhirnya jatuh ke kaki Cunha yang tanpa kesulitan mengubahnya menjadi gol pembuka.
Keunggulan tersebut langsung meningkatkan kepercayaan diri para pemain Brasil. Mereka semakin dominan menguasai jalannya laga dan terus menekan pertahanan Haiti yang kesulitan keluar dari tekanan.
Hanya berselang 13 menit, Cunha kembali menunjukkan ketajamannya. Menerima umpan terobosan matang dari Vinicius, penyerang yang kini memperkuat Manchester United itu melepaskan tembakan keras yang gagal dihentikan kiper Haiti, Johny Placide.
Dua gol tersebut menjadi bukti bahwa perubahan yang dilakukan Ancelotti memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas lini serang Brasil. Cunha tidak hanya mencetak gol, tetapi juga aktif membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk masuk ke area berbahaya.
Menjelang turun minum, Brasil semakin menjauh. Kali ini giliran Vinicius Junior yang mencatatkan namanya di papan skor. Memanfaatkan umpan lambung akurat dari Lucas Paqueta, bintang Real Madrid itu menunjukkan ketenangan luar biasa sebelum menaklukkan Placide.
Gol tersebut menutup babak pertama dengan keunggulan nyaman 3-0 bagi Brasil sekaligus membuat pertandingan praktis berada dalam kendali penuh mereka.
Meski unggul jauh, Brasil tetap menjaga intensitas permainan pada babak kedua. Haiti sempat berusaha bangkit dan menciptakan beberapa peluang yang cukup berbahaya. Salah satu kesempatan terbaik mereka hadir melalui sundulan Ricardo Ade dari situasi bola mati.
Namun, penjaga gawang Brasil, Alisson Becker, tampil sigap untuk menggagalkan peluang tersebut. Pengalaman dan kualitas kiper Liverpool itu memastikan gawang Selecao tetap aman hingga peluit panjang berbunyi.
Di balik kemenangan meyakinkan tersebut, Brasil tetap membawa satu catatan yang perlu diperhatikan. Raphinha harus meninggalkan lapangan lebih cepat akibat mengalami cedera sebelum babak pertama berakhir.
Pemain sayap Barcelona itu terlihat mengalami masalah fisik yang membuat tim pelatih memutuskan untuk menariknya keluar dan memasukkan Rayan sebagai pengganti. Hingga pertandingan berakhir, belum ada informasi resmi mengenai tingkat keparahan cedera yang dialami Raphinha.
Situasi tersebut tentu menjadi perhatian bagi Carlo Ancelotti mengingat perjalanan Brasil di Piala Dunia masih panjang. Kehilangan salah satu pemain kreatif di sektor sayap bisa menjadi tantangan tersendiri menjelang laga-laga berikutnya.
Meski demikian, hasil positif ini memberikan banyak keuntungan bagi Brasil. Selain memuncaki klasemen sementara Grup C dengan empat poin, kemenangan atas Haiti juga mengembalikan kepercayaan diri tim setelah sebelumnya mendapat sorotan karena hanya bermain imbang melawan Maroko.
Persaingan di Grup C sendiri masih terbuka. Maroko tetap menjadi ancaman serius setelah meraih kemenangan atas Skotlandia dan memiliki jumlah poin yang sama dengan Brasil. Selisih gol menjadi faktor yang saat ini menempatkan Selecao di posisi teratas.
Laga terakhir fase grup diperkirakan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Brasil. Mereka dijadwalkan menghadapi Skotlandia dalam pertandingan yang berpotensi menentukan posisi akhir klasemen sekaligus menguji konsistensi permainan yang mulai terbentuk.
Bagi Carlo Ancelotti, kemenangan atas Haiti menjadi sinyal positif bahwa proses adaptasi tim terhadap filosofi permainannya mulai berjalan sesuai harapan.
Kombinasi pengalaman para pemain senior dan energi dari generasi baru membuat Brasil kembali terlihat sebagai salah satu kandidat kuat dalam perebutan gelar juara dunia.
Jika mampu mempertahankan performa seperti yang ditunjukkan di Philadelphia, Brasil tidak hanya berpeluang melangkah jauh ke fase gugur, tetapi juga kembali menegaskan status mereka sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.







