Fakta Baru Terungkap: Hacker Bjorka Asal Manado Ternyata Bukan Lulusan Teknik, Ini Jurusan yang Pernah Diambilnya

INBERITA.COM, Fakta baru terungkap dari sosok Wahyu, pemuda asal Manado yang dikenal dengan identitas daringnya sebagai Bjorka, seorang hacker yang sempat menghebohkan dunia maya Indonesia. Dalam perkembangan terbaru, informasi mengenai latar belakang pendidikan Wahyu kini menjadi sorotan.

Wahyu, yang kini berusia 23 tahun dan tinggal di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Kota Manado, ternyata bukan lulusan teknik atau sekolah IT seperti yang banyak orang duga.

Justru sebaliknya, jurusan yang pernah ia ambil saat masih bersekolah cukup jauh dari dunia teknologi informasi.

Ia diketahui sempat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), namun tidak menyelesaikannya hingga lulus. Jurusan yang ia ambil pun bukan teknik, melainkan tata boga.

Tata boga sendiri merupakan jurusan yang fokus pada seni dan keterampilan memasak serta pengelolaan makanan, baik dari aspek tradisional maupun internasional. Bidang ini kerap dikaitkan dengan industri kuliner dan usaha jasa penyedia makanan seperti katering.

Temuan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat keterampilan Wahyu dalam meretas sistem digital dan mencuri data berskala besar. Kemampuannya tidak berasal dari latar pendidikan formal di bidang teknologi, melainkan dipelajari secara otodidak.

Tak hanya sisi teknisnya yang menarik perhatian, sisi kemanusiaan Wahyu pun mencuat ke permukaan. Di balik aktivitas ilegal yang ia lakukan di dunia maya, Wahyu dikenal memiliki kepribadian yang hangat dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, selama masa pelariannya dari kejaran aparat, ia diketahui menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan yang tinggal di Desa Totolan, Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa. Kedekatan mereka bukan sekadar hubungan biasa. Wahyu diketahui tinggal bersama sang kekasih dalam jangka waktu tertentu.

“Ia memang sudah lama tidak tinggal di sini. Dia punya seorang kekasih di Totolan,” ungkap seorang tetangga di Kelurahan Lawangirung kepada awak media.

Wartawan yang menelusuri hubungan tersebut berhasil menemui orang tua sang kekasih. Mereka mengaku tidak mengetahui identitas asli Wahyu sebagai Bjorka yang tengah diburu polisi.

“Ia suka membantu kami. Kami tidak menyangka dia adalah Bjorka yang sedang diburu polisi,” ujar orang tua kekasih Wahyu.

Selama tinggal di Totolan, Wahyu memperkenalkan diri hanya sebagai tukang servis ponsel. Saking baiknya, keluarga pacarnya bahkan mengungkapkan keinginan untuk bisa bertemu kembali dengannya suatu saat nanti.

Pihak kepolisian juga mengungkap bahwa sebagian dari hasil kejahatan Wahyu digunakan untuk membantu keluarganya.

“Dia menghidupi keluarganya,” kata AKBP Fian Yunus, Wakil Direktur Siber Direktorat Siber Polda Metro Jaya.

Meski sempat meraup keuntungan hingga US$9.000 dari hasil meretas dan menjual data, gaya hidup Wahyu ternyata jauh dari kemewahan.

Ia tetap tinggal di rumah kecil dan sederhana di kawasan Lawangirung. Rumah tersebut hanya memiliki lebar sekitar empat meter, berdinding biru kusam, dan tampak tidak pernah direnovasi.

Ketika awak media mengunjungi rumah tersebut pada Jumat (3/10/2025), terlihat isi rumah yang cukup padat, dengan berbagai perabotan rumah tangga yang saling bertumpuk di ruang sempit.

“Tak pernah direhab. Dia tidur beralaskan kain di lantai,” ungkap salah satu warga sekitar yang enggan disebutkan namanya.

Selain Wahyu, rumah itu juga dihuni oleh adiknya yang kini bekerja. Lurah Lawangirung, Djumiati Gue, dan Lurah Lingkungan 5, Anita Thalib, turut meninjau langsung rumah tersebut usai kabar penangkapan Wahyu menyebar.

Warga sekitar mengenal Wahyu dengan panggilan “Api.” Mereka membenarkan bahwa pria yang ditangkap adalah sosok yang selama ini tinggal di lingkungan mereka.

“Kami di sini sering memanggilnya Api,” ujar seorang tetangga.

Ketika diperlihatkan foto dan video penangkapan Wahyu, mereka langsung mengenali sosok tersebut.

“Ini sudah heboh sejak kemarin,” tambah warga lainnya.

Diketahui pula bahwa Wahyu adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Kini, ia hanya tinggal bersama adiknya.

“Ia tidak lulus sekolah, tapi pintar,” ujar warga yang mengenalnya.

Ia bahkan dikenal sering membantu warga dalam memperbaiki ponsel yang rusak atau terkena gangguan. Kemampuannya itu membuat warga sering mengandalkannya untuk masalah teknis meski tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut.

Namun, sisi gelap Wahyu juga disebutkan oleh warga sekitar. Ia kerap bertingkah aneh dan diduga menggunakan lem sebagai bahan untuk mabuk.

“Dia sering tidak tidur dan bertindak aneh,” ujar salah satu warga.

Penangkapan Wahyu dilakukan oleh Tim Resmob Subdit Jatanras Polda Sulawesi Utara yang memback-up Tim Cyber Polda Metro Jaya (PMJ) pada Selasa, 23 September 2025 di wilayah Minahasa.

Penangkapan ini merupakan hasil pengembangan dari laporan yang masuk ke pihak berwajib pada 17 April 2025 lalu.

Dalam operasi penangkapan tersebut, polisi mengamankan empat unit ponsel dan satu unit tablet yang diduga digunakan Wahyu untuk melakukan aktivitas siber ilegal.

Dalam pemeriksaan, Wahyu mengakui bahwa ia mencuri data dari salah satu bank ternama, lalu menjualnya melalui akun Twitter-nya yang bernama “Bjorka”. Ia bahkan sempat mengancam akan membocorkan data tersebut ke publik.

Aksi kejahatan dunia maya ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh Wahyu. Ia juga diketahui pernah melakukan tindakan serupa terhadap institusi keuangan lainnya, dengan nilai keuntungan yang diduga mencapai ribuan dolar Amerika.

Kompol Frelly Sumampow, Kepala Tim Resmob, membenarkan bahwa Wahyu telah diamankan dan saat ini tengah menjalani proses penyidikan oleh tim dari Polda Metro Jaya.

“Sudah diamankan dan masih dalam proses pemeriksaan oleh penyidik PMJ,” ujarnya singkat, Kamis (2/10/2025).

Kini, sosok Wahyu alias Bjorka menjadi perhatian luas. Tak hanya karena aksinya yang membuat geger, tetapi juga karena sisi kehidupan pribadinya yang bertolak belakang dengan imej seorang peretas profesional.

Meski berstatus sebagai buronan dunia siber, ia tetap dikenal warga sebagai pribadi yang sederhana, pintar, dan memiliki sisi empati terhadap sesama.(fdr)