Enam Hari Pasca Runtuhnya Musala Al Khoziny, Tim SAR Masih Berjuang Temukan 49 Korban yang Hilang

INBERITA.COM, SIDOARJO — Enam hari pasca-insiden tragis runtuhnya bangunan Musala Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, upaya pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung intensif.

Sabtu (4/10), tim gabungan yang terdiri dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta instansi terkait dan relawan terus berjibaku di lokasi kejadian, fokus pada operasi pencarian dan pertolongan (SAR), identifikasi jenazah, hingga pendampingan terhadap keluarga korban.

Menurut data resmi BNPB per Sabtu siang pukul 12.00 WIB, total 167 orang tercatat sebagai korban dalam tragedi ambruknya bangunan empat lantai tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 118 orang telah ditemukan: 104 orang selamat, sementara 14 lainnya meninggal dunia.

Dari korban selamat, 92 orang telah pulih dan kembali dari perawatan, 11 masih menjalani perawatan medis, dan satu orang dinyatakan pulih tanpa perlu dirawat. Sementara itu, 49 korban lainnya masih dalam proses pencarian.

Tim SAR gabungan telah mengevakuasi sembilan jenazah tambahan dari puing-puing bangunan yang runtuh, mempercepat proses identifikasi meski menghadapi medan yang sangat menantang.

Ketebalan tumpukan beton yang menimbun sebagian besar lokasi menjadi salah satu kendala utama dalam proses evakuasi.

“Di lapangan tidak pernah kekurangan personel. Telah didatangkan ratusan personel dengan tiga pembagian waktu pekerjaan. Mereka terus bekerja secara profesional,” tegas Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., dalam rapat koordinasi antar-stakeholder yang digelar Sabtu.

Lebih dari 400 personel dikerahkan dalam operasi darurat ini, bekerja dalam sistem tiga shift selama 24 jam penuh.

Alat berat pun diterjunkan untuk mempercepat pembukaan akses ke titik-titik yang diduga masih terdapat korban, namun tetap dengan pengawasan ketat demi menjamin keselamatan tim lapangan.

Setiap jenazah yang ditemukan langsung dibawa ke posko DVI (Disaster Victim Identification). Proses identifikasi tidak mudah, mengingat sebagian besar korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh atau sulit dikenali.

Namun tim medis dan kepolisian tetap menerapkan prosedur forensik ketat untuk menjamin akurasi data.

Proses identifikasi melalui DVI menjadi kunci utama dalam penanganan insiden ini. Mengingat banyaknya korban yang merupakan anak-anak dan remaja tanpa dokumen identitas resmi seperti KTP, tim mengandalkan data sekunder dan antemortem dari keluarga, seperti ijazah, catatan sidik jari dari sekolah, pakaian terakhir yang dikenakan, tanda lahir, rekam gigi, hingga data DNA.

“Melalui cara ini, setiap korban dapat diidentifikasi dengan benar sehingga keluarga dapat menerima kepastian, melakukan prosesi pemakaman sesuai keyakinan, dan negara dapat memenuhi kewajiban kemanusiaannya,” ujar Suharyanto.

Kondisi emosional keluarga korban yang menanti kabar anggota keluarganya di lokasi posko turut menjadi perhatian serius pemerintah.

BNPB bersama BPBD Provinsi Jawa Timur telah menginstruksikan pembukaan posko terpadu sebagai pusat informasi dan pengaduan resmi, sekaligus tempat penyaluran bantuan dan logistik.

“Di RS Bhayangkara nanti, keluarga korban lebih nyaman. Akan disiapkan logistik dan peralatannya. Pemerintah akan menyiapkan kebutuhan secara maksimal untuk keluarga yang kehilangan korban,” kata Suharyanto.

Di posko tersebut, tim konselor dari Polri, Dinas Sosial, dan relawan memberikan dukungan psikososial bagi keluarga korban agar tetap kuat menghadapi situasi penuh duka.

Tenda-tenda khusus dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti tempat istirahat, layanan medis, dan konsumsi juga telah disiapkan untuk menampung keluarga korban yang menanti proses identifikasi.

Di sisi lain, ketersediaan logistik dan perlengkapan bagi tim SAR juga terus dipastikan. Bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, perlengkapan evakuasi, hingga kebutuhan medis dikirim secara berkala.

Relawan dari berbagai daerah turut berdatangan dan mendirikan dapur umum serta pos permakanan secara bergantian.

Ini menjadi bentuk solidaritas nyata dari masyarakat untuk mendukung seluruh pihak yang terlibat di lapangan.

Suharyanto memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana ini.

Ia menyebutkan bahwa meski beban kerja berat dan medan sulit, seluruh tim bekerja tanpa kenal lelah, mengedepankan kolaborasi dan dedikasi kemanusiaan.

“Penanganan darurat ini bukan hanya tentang pencarian korban, tetapi juga memastikan keluarga mendapatkan pendampingan dan hak mereka terpenuhi. Semua unsur bekerja bersama-sama tanpa mengenal lelah,” ungkapnya.

Tragedi runtuhnya Musala Al Khoziny menjadi pengingat keras akan pentingnya standar keamanan bangunan, terutama bangunan publik yang banyak diakses anak-anak.

Namun di tengah luka dan kehilangan, solidaritas dan respon cepat dari berbagai pihak memberi harapan bahwa setiap korban akan ditemukan dan dihormati sebagaimana mestinya.

Proses pencarian dan identifikasi dipastikan terus berlanjut hingga seluruh korban ditemukan.

Pemerintah berjanji tidak akan berhenti sampai hak-hak keluarga korban terpenuhi secara menyeluruh, termasuk bantuan santunan, identifikasi resmi, hingga proses pemakaman yang layak. (mms)