INBERITA.COM, Pergerakan dua kapal tanker raksasa milik Iran yang berhasil menembus pengawasan Angkatan Laut Amerika Serikat dan memasuki perairan Indonesia memicu perhatian luas, terutama terkait dinamika geopolitik dan perdagangan energi global.
Berdasarkan laporan perusahaan pemantau pelayaran TankersTrackers.com, dua kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) tersebut teridentifikasi sebagai HUGE dan DERYA.
Keduanya disebut membawa muatan jutaan barel minyak mentah saat bergerak menuju wilayah Indonesia, khususnya kawasan Kepulauan Riau.
Data pemantauan menunjukkan, kapal HUGE telah lebih dahulu memasuki perairan Indonesia pada Minggu (3/5/2026).
Kapal ini diketahui sebelumnya berada di wilayah Sri Lanka selama lebih dari sepekan sebelum melanjutkan pelayaran.
Kapal tersebut merupakan bagian dari armada National Iranian Tanker Company dan dilaporkan membawa sekitar 1,9 juta barel minyak mentah.
Dalam perjalanannya, kapal HUGE juga terpantau mematikan sistem identifikasi otomatis atau Automatic Identification System (AIS) saat melintasi Selat Malaka, sebuah jalur pelayaran strategis dunia.
Sementara itu, kapal DERYA terdeteksi memasuki wilayah Indonesia pada Senin (4/5/2026) setelah melintasi Selat Lombok. Kapal ini dilaporkan membawa sekitar 1,88 juta barel minyak mentah dan bergerak menuju titik pertemuan di Kepulauan Riau.
Dalam pernyataannya, TankersTrackers.com mengungkapkan bahwa kapal DERYA sebelumnya sempat mencoba mengirimkan minyak ke India pada pertengahan April, namun upaya tersebut tidak berhasil.
“Pada pertengahan April, kapal ini mencoba mengirimkan 1,88 juta barel minyak ke India selama masa keringanan sanksi, namun gagal. Kami kemudian melihatnya melanjutkan perjalanan ke selatan setelah itu, pada saat kapal-kapal sejenisnya di area tersebut dialihkan kembali ke Iran oleh Angkatan Laut AS. Saat ini kapal sedang menuju titik pertemuan di Kepulauan Riau,” demikian pernyataan tersebut.
Laporan itu juga mengungkap gambaran lebih luas mengenai pergerakan tanker Iran sepanjang April. Sekitar 25 kapal tanker tercatat meninggalkan Iran dalam periode tersebut.
Dari jumlah itu, tujuh kapal dilaporkan diminta putar balik oleh Angkatan Laut AS, sementara dua kapal lainnya disita. Adapun sisanya berhasil melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing atau menuju titik pertemuan yang telah ditentukan.
Fenomena ini menunjukkan kompleksitas pengawasan terhadap distribusi minyak mentah di tengah dinamika geopolitik global.
Penggunaan metode seperti mematikan AIS menjadi salah satu cara yang kerap digunakan untuk menghindari pelacakan, meskipun praktik ini meningkatkan risiko keselamatan pelayaran.
Masuknya kapal-kapal tersebut ke wilayah perairan Indonesia, khususnya di sekitar Kepulauan Riau, juga menambah dimensi baru dalam pengawasan maritim nasional.
Jalur seperti Selat Malaka dan Selat Lombok dikenal sebagai titik krusial dalam rantai pasok energi dunia, sehingga setiap pergerakan kapal tanker dalam jumlah besar selalu menjadi perhatian.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari otoritas Indonesia terkait keberadaan dua kapal tanker tersebut maupun tujuan akhir distribusi minyak yang mereka bawa.
Namun, peristiwa ini kembali menegaskan posisi strategis Indonesia dalam jalur perdagangan energi global serta pentingnya pengawasan ketat di wilayah perairan nasional.