Dokumen Internal Ungkap Meta Untung Besar Dari Iklan Penipuan, 16 Miliar Dolar Mengalir Setiap Tahun

Meta corporationMeta corporation

INBERITA.COM, Meta, perusahaan induk dari platform besar seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, terungkap meraup keuntungan besar dari iklan penipuan yang beredar di platform mereka.

Temuan mengejutkan ini dilaporkan berdasarkan dokumen internal yang dibagikan oleh Reuters pada 6 November 2025, yang mengungkapkan bahwa sekitar 10 persen dari total pendapatan tahunan Meta, yang setara dengan 16 miliar dolar AS (sekitar Rp266 triliun), berasal dari iklan penipuan.

Menurut dokumen internal tersebut, Meta secara terbuka gagal untuk mengatasi masalah iklan penipuan yang merajalela di platformnya.

Iklan-iklan tersebut tidak hanya menjebak penggunanya dalam skema penipuan investasi dan kasino online ilegal, tetapi juga mempromosikan produk medis terlarang yang berbahaya bagi kesehatan.

Facebook, Instagram, dan WhatsApp masing-masing menjadi tempat subur bagi iklan-iklan ini, dengan tak terhitung pengguna yang terekspos pada iklan yang menyesatkan dan berisiko tinggi.

Dokumen tersebut juga menyatakan bahwa setiap harinya, Meta rata-rata menampilkan 15 miliar iklan penipuan dengan risiko tinggi yang beredar di platformnya.

Dalam laporan lainnya, terungkap bahwa perusahaan menghasilkan sekitar 7 miliar dolar AS (sekitar Rp116 triliun) per tahun dari iklan penipuan yang tidak sah ini.

Fakta tersebut tentu mengundang pertanyaan besar mengenai etika dan tanggung jawab perusahaan terhadap keamanan pengguna mereka.

Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa penipuan-penipuan ini sangat mudah dikenali oleh sistem internal Meta.

Seharusnya, keberadaan iklan-iklan ini dapat dideteksi dan dihentikan lebih cepat. Namun, Meta hanya akan melarang pengiklan yang memiliki tingkat kepastian penipuan sebesar 95 persen, artinya iklan-iklan dengan indikasi penipuan yang lebih rendah dari itu masih dibiarkan beredar di platform mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa Meta tidak terlalu agresif dalam mengambil langkah pencegahan terhadap iklan yang berpotensi merugikan penggunanya.

Kebijakan Meta yang lebih mencengangkan adalah bagaimana mereka menangani pengiklan yang terindikasi melakukan penipuan. Jika Meta mencurigai bahwa pengiklan tersebut terlibat dalam penipuan, perusahaan justru memberlakukan tarif iklan yang lebih tinggi sebagai penalti.

Ini bertujuan untuk mencegah pengiklan terus memasang iklan mereka di platform. Namun, meskipun dikenakan tarif yang lebih tinggi, jika pengiklan masih bersedia membayar, Meta tetap akan menampilkan iklan tersebut di platform mereka, sambil mengantongi keuntungan dari pembayaran tersebut.

Selain itu, mekanisme iklan berbasis minat di platform Meta juga menyebabkan masalah yang lebih besar.

Pengguna yang mengklik iklan penipuan akan terus disuguhkan dengan lebih banyak iklan serupa di masa mendatang, karena sistem iklan Meta bekerja dengan memprediksi minat pengguna berdasarkan klik sebelumnya.

Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana pengguna yang sudah terjebak dalam penipuan akan semakin sulit untuk terlepas dari pengaruh iklan penipuan lainnya yang terus muncul.

Menanggapi laporan yang diterbitkan oleh Reuters, Andy Stone, juru bicara Meta, mengklaim bahwa dokumen yang dibagikan oleh media tersebut hanya memberikan pandangan selektif yang “mendistorsi” cara Meta menangani penipuan dan spoofing di platform mereka.

Stone menegaskan bahwa dokumen tersebut dianggap “kasar dan terlalu inklusif” dalam mencakup berbagai jenis iklan yang sah.

Dia pun membantah estimasi yang menyebutkan bahwa 10 persen pendapatan Meta berasal dari iklan penipuan, yang menurutnya terlalu tinggi karena menyertakan iklan yang sah.

Stone juga menambahkan bahwa Meta terus berupaya untuk mengatasi masalah penipuan di platform mereka, dan dalam 18 bulan terakhir, perusahaan telah berhasil mengurangi jumlah laporan pengguna terkait iklan penipuan secara global hingga 58 persen.

Ia menegaskan bahwa Meta secara agresif memerangi penipuan karena sadar bahwa pengguna tidak ingin melihat konten semacam itu di platform mereka.

Meskipun begitu, masalah iklan penipuan ini tetap menjadi sorotan utama, terutama karena Meta tidak hanya melibatkan banyak pengiklan yang merugikan pengguna, tetapi juga keuntungan besar yang terus mengalir dari iklan-iklan yang diragukan kredibilitasnya.

Dengan ribuan iklan terlarang yang tampil setiap hari dan semakin berkembangnya skema penipuan online, tantangan bagi Meta untuk menjaga kepercayaan pengguna dan mengendalikan potensi kerugian bagi penggunanya semakin besar.

Sebagai perusahaan yang menguasai beberapa platform media sosial terbesar di dunia, Meta berada di bawah sorotan publik dan regulator untuk meningkatkan kebijakan keamanan dan transparansi dalam menangani iklan penipuan.

Masyarakat pun kini semakin sadar akan pentingnya keamanan data pribadi dan perlindungan dari penipuan digital yang semakin kompleks.

Jika Meta tidak segera mengambil langkah yang lebih tegas, kemungkinan besar mereka akan menghadapi tekanan lebih besar dari pengguna maupun otoritas yang mengatur industri teknologi.

Dengan pendapatan besar yang dihasilkan dari iklan penipuan ini, Meta dituntut untuk bertanggung jawab dalam menjaga kualitas dan integritas iklan yang tampil di platformnya.

Langkah-langkah lebih lanjut untuk mengurangi iklan yang berpotensi merugikan dan meningkatkan verifikasi pengiklan akan sangat krusial untuk memastikan keamanan bagi seluruh penggunanya di masa depan.