INBERITA.COM, Kebakaran besar yang melanda Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, kini tengah diselidiki secara mendalam.
Tim penyidik Polresta Lombok Tengah bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polda Bali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkap penyebab musibah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari itu bertujuan mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi guna menentukan titik awal kebakaran.
Menurut Kasatreskrim Polresta Lombok Tengah AKP Pungugan Hutahaean, olah TKP dilakukan untuk memastikan tidak ada unsur pidana dalam peristiwa tersebut.
“Intinya kami sedang melakukan olah TKP. Itu saja yang bisa saya sampaikan dulu,” ujarnya singkat.
Ia menambahkan bahwa tim juga mengambil keterangan dari warga yang menyaksikan peristiwa tersebut untuk melengkapi data yang ada.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi Sabtu malam (22/8) pukul 22.00 Wita itu telah menghanguskan 75 unit rumah adat dan 20 rumah warga di sekitar kawasan tersebut.
Kerusakan tidak hanya berhenti pada hunian, tetapi juga merambah fasilitas umum seperti masjid, berugak, lumbung, 69 lapak UMKM, gazebo, toilet, hingga gerbang adat.
“Total kerugian diperkirakan mencapai Rp34 miliar,” katanya tegas.
Dampak sosial dari kebakaran ini juga terasa sangat luas. Jumlah jiwa yang terdampak mencapai 320 orang, yang kini tengah berjuang untuk memulihkan kehidupan mereka.
Pemerintah daerah telah memulai pendataan untuk menilai kerugian lebih lanjut dan berencana membawa hasilnya ke tingkat provinsi serta pusat. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan, termasuk pemulihan mata pencaharian warga yang terdampak.
Kebakaran di Kampung Adat Sade bukan sekadar bencana lokal, melainkan kehilangan warisan budaya yang tak ternilai. Kampung ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Lombok Tengah.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada aset fisik, tetapi juga pada identitas dan kehidupan masyarakat setempat.
Pemerintah daerah kini tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan pemulihan yang komprehensif. Selain perbaikan fisik, upaya pemulihan ekonomi dan sosial juga menjadi prioritas.
“Kami akan membahas hasil pendataan ini bersama Pemprov NTB dan pemerintah pusat,” ujar Bupati Lalu Pathul Bahri.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi untuk memastikan warga dapat segera kembali bangkit dari keterpurukan.
Sementara itu, masyarakat setempat menyuarakan harapan agar proses penyelidikan dapat berjalan transparan dan cepat. Mereka berharap penyebab kebakaran dapat segera diketahui untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
“Kami hanya ingin keadilan dan pemulihan yang adil,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kebakaran ini juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, terutama di kawasan wisata yang padat penduduk.
Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan sistem peringatan dini dan edukasi kepada masyarakat mengenai tindakan pencegahan kebakaran. Langkah-langkah ini dinilai krusial untuk melindungi warisan budaya dan aset ekonomi yang ada.
Dengan kerugian yang mencapai puluhan miliar rupiah dan ratusan jiwa terdampak, kebakaran di Kampung Adat Sade menjadi pengingat betapa rapuhnya aset budaya dan ekonomi lokal.
Upaya pemulihan yang dilakukan saat ini bukan hanya tentang perbaikan fisik, tetapi juga tentang menjaga kelestarian budaya dan kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad hidup di kawasan tersebut.







