INBERITA.COM, Kisah anjing “pemandu” pendakian Gunung Agung menjadi cerita unik yang kerap dialami para pendaki yang memulai perjalanan dari kawasan Pura Pengubengan, Kabupaten Karangasem, Bali.
Dalam banyak kesempatan, para pendaki Gunung Agung tidak hanya menapaki jalur pendakian bersama rekan sesama manusia, tetapi juga ditemani satu atau beberapa ekor anjing yang setia mengikuti langkah mereka hingga ke titik peristirahatan.
Kehadiran anjing-anjing ini bahkan kerap dianggap sebagai pelengkap rombongan, terutama ketika jumlah anggota pendakian terbilang ganjil.
Anjing-anjing yang sering terlihat mengikuti pendaki tersebut bukanlah anjing liar. Mereka merupakan peliharaan seorang perempuan lanjut usia bernama Ibu Masih, pemilik warung yang berlokasi di area parkir Pura Pengubengan.
Perempuan berusia sekitar 70 tahun ini dikenal ramah oleh para pendaki dan pemandu lokal. Ia memelihara tujuh ekor anjing yang sehari-hari beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Dari jumlah itu, empat ekor anjing diketahui paling sering ikut dalam aktivitas pendakian Gunung Agung. Keempatnya masing-masing bernama Luki, Robi, Paya, dan Nungnung.
Menurut penuturan Ibu Masih, keempat anjing tersebut tidak selalu ikut bersamaan. Mereka bergantian mengikuti rombongan pendaki yang berangkat dari Pura Pengubengan.
Kebiasaan ini terbentuk secara alami karena sejak lama anjing-anjing tersebut kerap diberi roti oleh para pendaki.
Dari situlah muncul kebiasaan bagi mereka untuk ikut berjalan bersama rombongan tanpa harus dipanggil atau diarahkan secara khusus.
Ketika para pendaki berhenti dan mendirikan camp untuk beristirahat, anjing-anjing itu pun setia menemani, bahkan ikut berada di dalam area camp.
“Empat anjing saya memang sering ikut mendaki. Tanpa disuruh, mereka ikut dalam rombongan. Walau hujan, malam, pagi, mereka kadang ikut kalau dijumpai ada yang melakukan pendakian,” ungkapnya.
Ibu Masih mengakui, kebiasaan anjing-anjingnya mengikuti pendaki tidak lepas dari pengalaman mereka sejak masih kecil.
Sejak dulu, anjing-anjing tersebut kerap diajak naik ke lereng Gunung Agung untuk mencari rumput.
Aktivitas itu menjadi rutinitas yang membuat mereka terbiasa dengan jalur pendakian, kondisi alam pegunungan, serta perubahan cuaca yang kerap terjadi di kawasan Gunung Agung.
Selain untuk mencari rumput, anjing-anjing itu juga sering ikut ketika Ibu Masih mengantar umat Hindu yang hendak melaksanakan persembahyangan ke Pura Giri Kusuma.
Pura ini dikenal sebagai pura tertinggi yang berada di dekat lereng Gunung Agung dan memiliki makna spiritual penting bagi umat yang datang bersembahyang.
Jalur menuju pura tersebut cukup menantang dan tidak jauh berbeda dengan jalur pendakian, sehingga kehadiran anjing-anjing yang sudah terbiasa naik gunung menjadi pemandangan yang lumrah.
“Ada beberapa umat yang dulu saya antar mendaki ke Pura Giri Kusuma. Tapi itu dulu saat masih muda. Di sana ada sebuah palinggih Padma dan di sela-sela batu ada bulakan yang berisi air yang disucikan,” paparnya sembari menerangkan piodalan di pura itu berbarengan dengan di Pura Pengubengan.
Dari pengamatan tim awak media, keempat anjing yang kerap disebut sebagai anjing pendaki Gunung Agung tersebut memiliki karakter yang relatif bersahabat.
Mereka mudah beradaptasi dan tidak menunjukkan sikap agresif terhadap orang yang baru ditemui. Hal ini membuat para pendaki merasa nyaman, bahkan cepat akrab, meskipun baru pertama kali bertemu.
Tidak sedikit pendaki mancanegara atau bule yang terkejut sekaligus terhibur dengan kehadiran anjing-anjing lokal yang setia mengikuti perjalanan mereka menembus jalur pendakian Gunung Agung.
Kisah anjing pemandu pendakian Gunung Agung ini juga tidak lepas dari peristiwa erupsi Gunung Agung yang pernah terjadi.
Saat aktivitas vulkanik meningkat dan erupsi berlangsung, anjing-anjing tersebut turut diajak mengungsi bersama pemiliknya.
Ibu Masih mengaku tidak tega melihat anjing-anjing peliharaannya terdampak abu vulkanik yang menyelimuti kawasan hutan di sekitar Besakih hingga tampak meranggas.
Baginya, anjing-anjing itu bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan bagian dari keseharian dan saksi perjalanan hidupnya di kaki Gunung Agung.
Cerita tentang anjing pendaki Gunung Agung ini menjadi warna tersendiri dalam dunia pendakian di Bali.
Di tengah jalur yang menantang dan nuansa spiritual kawasan Pura Pengubengan, kehadiran Luki, Robi, Paya, dan Nungnung menghadirkan pengalaman berbeda bagi para pendaki.
Mereka bukan hanya menemani langkah, tetapi juga menjadi simbol kedekatan antara manusia, alam, dan makhluk hidup lain yang berbagi ruang di lereng gunung tertinggi di Pulau Dewata.