Calo Wisata Ditangkap Polisi karena Menipu Wisatawan China Rp 244 Juta dan Menelantarkannya di Labuan Bajo

INBERITA.COM, Polisi akhirnya membongkar kasus penipuan yang menimpa seorang wisatawan asal China akibat ulah calo wisata bernama SO (33). Pelaku diduga menggelapkan uang sebesar Rp 244,2 juta setelah berhasil membujuk korban untuk membayar paket wisata premium di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Kasus ini bermula ketika korban, LN, mencari kapal pinisi untuk membawa rombongan wisatanya ke Taman Nasional Komodo pada Agustus 2026.

SO, yang mengaku sebagai pemilik agensi Danke Adventure, menjanjikan kapal KM Seven Angel siap digunakan dengan menyertakan rincian tagihan resmi berupa PPN 11 persen.

Korban tergiur dan melakukan transfer bertahap dari 30 Juli hingga 4 Agustus 2026. Total dana yang disetorkan mencapai Rp 244,2 juta, yang mencakup sewa kapal selama tiga hari dua malam serta tiket masuk Taman Nasional Komodo. Namun, janji SO ternyata palsu.

Menjelang kedatangan rombongan, korban meminta konfirmasi mengenai status kapal, namun SO justru memberikan jawaban yang tidak menentu.

Baru pada 5 Agustus 2026, pelaku mengaku melalui pesan singkat bahwa seluruh uang telah digunakan untuk keperluan pribadi dan tidak ada yang disetorkan kepada pemilik kapal.

Akibat kelalaian SO, 22 wisatawan asal China yang tiba di Labuan Bajo pada 8 Agustus 2026 tidak mendapatkan fasilitas kapal wisata sesuai kontrak. Kondisi ini membuat rombongan terlantar tanpa solusi yang jelas.

Polisi mengungkap bahwa SO telah meninggalkan Labuan Bajo dan tidak dapat dihubungi sejak pengakuan tersebut. Laporan media menyebutkan bahwa pelaku saat ini berada di Jakarta dan tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan uang korban.

Kasat Reskrim Polres Manggarai Barat, AKP Lufthi Darmawan Aditya, menjelaskan bahwa SO memanfaatkan grup WhatsApp publik bernama Labuan Bajo Agen To Agen untuk mencari korban. Modus ini menunjukkan bahwa pelaku memiliki jaringan dan strategi yang terencana.

Kejadian ini menambah daftar panjang kasus penipuan di sektor pariwisata Indonesia, terutama di destinasi populer seperti Labuan Bajo. Wisatawan asing sering menjadi sasaran karena keterbatasan informasi dan kepercayaan terhadap agen lokal.

Polisi menduga SO telah melakukan praktik serupa sebelumnya, mengingat ia mampu menyediakan dokumen palsu dengan rincian tagihan resmi. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku memiliki akses terhadap sistem yang memungkinkan terciptanya dokumen palsu.

Korban kini tengah berjuang untuk mendapatkan kembali uangnya melalui jalur hukum. Namun, proses hukum di NTT seringkali menghadapi kendala lambatnya penanganan kasus, terutama untuk pelaku yang telah melarikan diri.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap agen wisata yang tidak memiliki izin resmi. Mereka juga menyarankan wisatawan untuk melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum melakukan pembayaran.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pengawasan terhadap agen perjalanan di daerah wisata. Tanpa pengawasan yang ketat, kasus serupa berpotensi terus terjadi dan merusak citra pariwisata Indonesia.

Polisi juga berencana untuk menelusuri jejak keuangan SO guna menemukan aset yang dapat disita untuk mengembalikan uang korban. Namun, proses ini memerlukan waktu dan koordinasi dengan berbagai pihak.

Kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sistem perlindungan konsumen di Indonesia. Banyak korban penipuan pariwisata yang merasa tidak terlindungi akibat lambatnya penegakan hukum.

Pemerintah daerah NTT diharapkan dapat segera mengambil langkah preventif dengan meningkatkan sosialisasi kepada wisatawan mengenai modus penipuan. Tanpa upaya ini, kasus serupa akan terus berulang dan merugikan banyak pihak.

Polisi juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan janji-janji manis dari agen wisata yang tidak dikenal. Verifikasi melalui platform resmi atau instansi terkait sangat dianjurkan sebelum melakukan transaksi.

Kasus ini menjadi bukti bahwa pariwisata Indonesia masih memiliki banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Upaya kolektif dari pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri sangat diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Polisi berjanji untuk terus mengejar SO hingga dapat dihadapkan ke pengadilan. Mereka juga berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih layanan pariwisata.

Kejadian ini juga menyoroti pentingnya peran media dalam mengedukasi masyarakat mengenai modus penipuan terbaru. Laporan media yang cepat dan akurat dapat membantu mencegah korban lebih banyak berjatuhan.

Polisi mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan indikasi penipuan serupa. Laporan yang cepat dapat membantu pihak berwenang untuk segera mengambil tindakan sebelum korban semakin banyak.