INBERITA.COM, Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali menghadapi tekanan. Setelah mencatat defisit pada Mei 2026, neraca perdagangan nasional kembali berada di zona merah pada Juni 2026.
Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa tantangan sektor energi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi perekonomian nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar USD450 juta.
Angka tersebut melanjutkan defisit USD1,61 miliar pada Mei sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan yang sebelumnya bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa tekanan utama berasal dari perdagangan minyak dan gas bumi (migas) yang kembali mencatat defisit dalam jumlah besar.
“Pada Juni 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar USD0,45 miliar (USD450 juta). Defisit pada bulan Juni 2026 terutama disebabkan defisit komoditas migas,” ujar Ateng dalam rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, defisit sektor migas pada Juni mencapai USD3,49 miliar. Penyebab utamanya berasal dari tingginya impor hasil minyak dan minyak mentah yang masih belum mampu diimbangi oleh kinerja ekspor sektor tersebut.
Di sisi lain, perdagangan nonmigas sebenarnya masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Selama Juni 2026, kelompok nonmigas membukukan surplus sebesar USD3,04 miliar.
Komoditas penyumbang surplus terbesar berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Kinerja positif sektor-sektor tersebut membantu meredam tekanan yang berasal dari impor energi.
Fenomena ini kembali memperlihatkan persoalan struktural perdagangan Indonesia. Di satu sisi, sektor manufaktur dan komoditas ekspor masih mampu menghasilkan surplus.
Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap impor minyak mentah dan produk BBM membuat neraca perdagangan nasional rentan berubah menjadi defisit ketika kebutuhan energi meningkat.
Secara kumulatif, selama Januari hingga Juni 2026 Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sebesar USD3,58 miliar. Surplus tersebut sepenuhnya ditopang oleh sektor nonmigas yang menghasilkan surplus USD19,35 miliar.
Sebaliknya, kelompok migas masih membebani perdagangan nasional dengan defisit mencapai USD15,77 miliar dalam enam bulan pertama tahun ini.
Data BPS juga menunjukkan Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar Indonesia dengan nilai USD8,55 miliar. Posisi berikutnya ditempati India sebesar USD6,68 miliar dan Filipina sebesar USD4,24 miliar.
Sementara itu, defisit perdagangan terbesar masih berasal dari hubungan dagang dengan China yang mencapai USD13,61 miliar. Australia menyusul dengan defisit USD4,40 miliar, sedangkan Singapura mencatat defisit USD4,33 miliar.
Khusus perdagangan nonmigas, Amerika Serikat tetap menjadi pasar yang memberikan surplus terbesar sebesar USD10,44 miliar, diikuti India USD6,73 miliar dan Filipina USD4,02 miliar.
Sebaliknya, China masih menjadi sumber defisit nonmigas terdalam dengan nilai USD14,26 miliar. Australia berada di posisi kedua dengan defisit USD3,97 miliar, disusul Prancis sebesar USD1,49 miliar.
Berlanjutnya defisit selama dua bulan berturut-turut menjadi pengingat bahwa ketahanan perdagangan Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan ekspor komoditas.
Ketergantungan tinggi terhadap impor energi masih menjadi faktor yang berulang kali menggerus surplus perdagangan.
Kondisi ini memperkuat pentingnya percepatan penguatan sektor energi nasional, peningkatan kapasitas kilang, diversifikasi sumber energi, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor migas agar neraca perdagangan lebih stabil menghadapi dinamika ekonomi global.