INBERITA.COM, Bahan bakar ramah lingkungan yang dikenal dengan nama BOBIBOS (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!) kini menjadi topik yang tengah ramai dibahas.
Diklaim mampu mengurangi emisi hingga mendekati angka nol dan memiliki Research Octane Number (RON) yang mencapai 98, BOBIBOS menarik perhatian banyak pihak, terutama terkait potensi penggunaannya sebagai bahan bakar alternatif yang berkelanjutan.
Sebagai informasi, BOBIBOS adalah bahan bakar yang dibuat dari limbah pertanian, khususnya jerami, yaitu hasil sisa panen padi yang selama ini sering terbuang begitu saja.
Bahan bakar baru ini telah diluncurkan di Bogor pada pekan lalu, dan sejak saat itu perbincangannya semakin menghangat, terutama karena klaimnya yang mengesankan dalam mengurangi polusi udara.
Namun, meski BOBIBOS terlihat menjanjikan, pembuatan bahan bakar berbasis jerami bukanlah hal yang baru.
Penelitian internasional sejak lama telah banyak membahas potensi jerami dan limbah tanaman lainnya sebagai bahan baku biofuel.
Pada tahun 2005, laman BioCycle menyebutkan bahwa dengan kemajuan bioteknologi, para peneliti berhasil mengubah jerami dan limbah tanaman lain menjadi “emas hijau,” yakni etanol selulosa.
Potensi Etanol Selulosa: Alternatif Bahan Bakar yang Lebih Ramah Lingkungan
Secara kimia, etanol selulosa sebenarnya identik dengan etanol yang diproduksi dari jagung atau kedelai.
Namun, etanol yang berasal dari selulosa, seperti jerami, memiliki kandungan energi bersih yang tiga kali lebih tinggi dibandingkan etanol yang terbuat dari jagung, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah.
Keunggulan ini menjadikan etanol selulosa sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan lebih efisien.
Menurut laporan dari National Resources Defense Council (NRDC) dan Union of Concerned Scientists, etanol selulosa dapat menggantikan “emas hitam” atau minyak bumi yang mahal dan diimpor, dengan biofuel berkelanjutan yang diproduksi secara domestik.
Biofuel jenis ini diyakini memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, dan dapat menjadi sumber energi pilihan untuk sektor transportasi yang berkelanjutan.
Sebuah studi yang didanai oleh Energy Foundation dan National Commission on Energy Policy berjudul “Growing Energy: How Biofuels Can Help End America’s Oil Dependence” menyimpulkan bahwa biofuel, apabila dikombinasikan dengan efisiensi kendaraan dan pertumbuhan cerdas, dapat mengurangi ketergantungan sektor transportasi terhadap minyak bumi hingga dua pertiga pada tahun 2050.
Oleh karena itu, etanol selulosa yang dihasilkan dari limbah pertanian seperti jerami, batang jagung, dan ampas tebu, memiliki potensi besar untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Bisnis Menguntungkan di Eropa dan Pasar Global
Di Eropa, bisnis biofuel berbasis jerami sudah mulai berkembang pesat. Clariant AG, perusahaan kimia asal Swiss, misalnya, baru-baru ini membuka pabrik di Rumania untuk memproduksi bahan bakar nabati generasi lanjut yang disebut sebagai advanced biofuels.
Bahan bakar ini diproduksi menggunakan limbah pertanian atau tanaman non-pangan, yang jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan etanol generasi pertama yang diproduksi dari bahan pangan seperti gula atau jagung.
Menurut CEO Clariant, Conrad Keijzer, proses produksi etanol dari limbah pertanian ini memiliki penghematan karbon yang signifikan, yang membuat biaya produksinya lebih menguntungkan dibandingkan dengan etanol generasi pertama.
Bahkan, harga etanol generasi lanjut ini diperkirakan bisa dua kali lipat lebih mahal daripada etanol tradisional.
Uni Eropa sendiri menetapkan target agar setidaknya 0,2% dari seluruh bahan bakar transportasi di Eropa berasal dari advanced biofuels pada tahun 2022, dan meningkat menjadi 2,2% pada tahun 2030.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi biofuel berbasis jerami dan limbah pertanian lainnya sangat potensial untuk berkembang lebih luas lagi di pasar global.
Pengakuan dan Uji Coba BOBIBOS oleh Kementerian ESDM
Terkait penemuan BOBIBOS, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia angkat suara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada koordinasi resmi antara pihak penemu BOBIBOS dengan kementeriannya.
Meski demikian, pihak penemu telah mengajukan usulan agar bahan bakar tersebut diuji di laboratorium Kementerian ESDM.
Laode menegaskan bahwa meski pengujian bahan bakar ini sedang dilakukan, hasil uji tersebut masih bersifat tertutup atau rahasia.
Untuk dapat dikategorikan sebagai bahan bakar resmi di Indonesia, produk tersebut harus melewati berbagai tahapan evaluasi dan uji coba yang melibatkan berbagai lembaga, termasuk LEMIGAS.
“Untuk bisa disahkan menjadi bahan bakar resmi, produk tersebut harus melalui proses yang panjang. Ini bukan hanya soal uji coba, tetapi juga prosedur legal yang harus dipenuhi,” ujar Laode Sulaeman saat ditemui di Kementerian ESDM pada Kamis (13/11/2025).
Laode juga menambahkan bahwa banyak penelitian serupa mengenai biofuel dari bahan non-pangan sudah dilakukan di berbagai negara.
Namun, pihaknya tidak bisa menanggapi satu per satu setiap penemuan yang muncul. Yang terpenting, kata Laode, adalah memastikan bahwa setiap produk bahan bakar baru mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Kendati demikian, BOBIBOS dengan segala klaim keunggulannya tentu menawarkan harapan baru bagi industri bahan bakar di Indonesia, khususnya dalam hal keberlanjutan dan pengurangan emisi karbon.
Namun, untuk menjadikannya sebagai bahan bakar resmi yang dapat digunakan oleh masyarakat, masih diperlukan waktu dan penelitian lebih lanjut.
Jika terbukti efektif dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah, BOBIBOS berpotensi menjadi bahan bakar alternatif yang menguntungkan bagi negara, mengingat Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk produksi biofuel berbasis limbah pertanian.
Kini, masyarakat dan investor menantikan hasil dari uji coba dan koordinasi lebih lanjut yang akan dilakukan oleh pihak Kementerian ESDM.







