INBERITA.COM, Banjir yang melanda Perumahan Periuk Damai, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, pada Minggu (8/3), membuat ribuan warga terpaksa mengungsi.
Ketinggian air yang mencapai dua hingga lima meter telah merendam ratusan rumah warga di daerah tersebut. Sekitar 286 kepala keluarga yang tersebar di lima RT di RW 08 Perumahan Periuk Damai terdampak secara langsung oleh bencana ini.
Banjir besar ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak Minggu dini hari. Kondisi ini menyebabkan air Kali Cirarab meluap, yang kemudian memperburuk situasi.
Tidak hanya itu, sejumlah tanggul yang sudah diperbaiki sebelumnya kembali jebol, membuat air semakin meluap ke permukiman warga. Selain itu, meluapnya Danau Situ Bulakan, yang selama ini berfungsi sebagai penampung air, turut memperburuk kondisi banjir di wilayah tersebut.
Ketua RW setempat, Heri, menjelaskan bahwa kejadian banjir kali ini lebih parah dibandingkan dengan kejadian sebelumnya.
“Untuk bulan kemarin banjir sekitar dua meter sampai empat setengah meter. Kalau hari Minggu ini ketinggian mencapai dua meter sampai lima setengah meter. Ini di luar prediksi warga yang memperkirakan ketinggian banjir setengah dari bulan kemarin, ternyata lebih tinggi dan tanggul yang sudah diperbaiki kembali jebol,” kata Heri dengan tegas.
Banjir ini menambah derita warga yang belum sepenuhnya pulih dari banjir sebelumnya, yang sudah membuat mereka merasakan dampak besar. Heri juga menambahkan, meski tanggul telah diperbaiki, kejadian serupa kembali terulang, membuktikan bahwa penanganan banjir di kawasan tersebut masih belum optimal.
Camat Periuk, Andhika Nugraha, menjelaskan bahwa banjir kali ini tidak hanya terjadi di Perumahan Periuk Damai, tetapi juga melanda lima kelurahan di Kecamatan Periuk.
“Untuk banjir di Kecamatan Periuk ada 25 titik tersebar di lima kelurahan. Ini karena limpasan air dan ada beberapa tanggul yang rembes serta belum optimal menahan debit air yang cukup tinggi hingga meluap,” ujar Andhika Nugraha.
Banjir yang terjadi merendam lebih dari 9.000 jiwa di kawasan tersebut. Sementara itu, dari 25 titik banjir, terdapat sekitar 3.337 kepala keluarga yang terdampak langsung.
Warga yang terdampak diharapkan segera menerima bantuan logistik, mengingat kondisi banjir yang terjadi di tengah bulan Ramadan ini. Berdasarkan informasi yang dihimpun, total warga yang mengungsi mencapai 8.500 orang yang tersebar di 18 posko pengungsian yang disediakan oleh pihak berwenang.
Andhika juga menambahkan bahwa kondisi banjir ini diperburuk dengan beberapa titik tanggul yang rembes dan belum mampu menahan debit air yang cukup besar, sehingga menyebabkan meluapnya air ke pemukiman warga.
Masyarakat di kawasan ini sangat berharap agar segera mendapatkan bantuan berupa sembako, serta perlengkapan lain yang sangat dibutuhkan, terutama karena kejadian banjir ini terjadi saat umat Islam tengah menjalani ibadah puasa.
Warga yang terdampak sangat berharap agar penanganan terhadap banjir ini dapat lebih baik dan lebih cepat dari sebelumnya. “Kami hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk segera menyalurkan bantuan.
Selain itu, juga berharap agar perbaikan tanggul yang sudah rusak dapat segera dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujar salah seorang warga yang terkena dampak banjir.
Banjir yang melanda kawasan Periuk Damai menjadi pengingat pentingnya penanganan yang lebih serius terhadap infrastruktur pengendalian air di wilayah rawan banjir. Selain perbaikan tanggul, masyarakat juga berharap agar ada langkah preventif yang lebih baik untuk mencegah bencana serupa di masa mendatang.
Dengan kondisi yang semakin buruk, pihak berwenang harus segera bertindak untuk mengurangi dampak banjir dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir ini.
Hal ini juga menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam mengelola masalah banjir yang semakin meluas di Tangerang.