INBERITA.COM, Banjir yang melanda Kabupaten Kudus, Jawa Tengah sejak Jumat, 9 Januari 2026, berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Lebih dari 14 ribu orang terdampak, sementara ribuan rumah warga terendam akibat luapan sejumlah sungai utama.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir tersebut telah memengaruhi aktivitas warga di berbagai wilayah. Sedikitnya 4.668 rumah warga tergenang air dengan ketinggian bervariasi sejak banjir mulai terjadi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kudus dalam durasi cukup lama. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan signifikan debit air di sejumlah sungai.
“Luapan air dari ketiga sungai tersebut tidak dapat tertampung oleh alur sungai dan sistem drainase yang ada, sehingga menggenangi permukiman warga serta sejumlah fasilitas umum,” ujar Abdul, Senin (12/1/2026).
Tiga sungai yang meluap dan menjadi pemicu utama banjir adalah Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe. Peningkatan debit air dari ketiga sungai tersebut terjadi secara bersamaan setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu dan hilir.
Banjir kemudian meluas dan merendam sedikitnya enam kecamatan di Kabupaten Kudus. Keenam kecamatan tersebut meliputi Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Dawe, dan Gebog.
Pada awal kejadian, tinggi muka air atau TMA di sejumlah wilayah tercatat mencapai sekitar 50 sentimeter. Di beberapa desa, ketinggian genangan bervariasi tergantung pada kondisi topografi dan kedekatan dengan aliran sungai.
Tidak hanya permukiman warga yang terdampak, banjir juga mengganggu berbagai fasilitas umum. Abdul menyebut akses jalan, jembatan, serta lahan pertanian di sekitar daerah aliran sungai ikut terendam.
“Berdasarkan data sementara yang masih dalam proses pendataan, banjir ini berdampak pada sekitar 4.668 kepala keluarga atau 14.143 jiwa,” ungkap Abdul. Ia menambahkan, jumlah rumah terdampak tercatat mencapai 4.668 unit.
Selain itu, BNPB juga mencatat sedikitnya 65 akses jalan tergenang banjir. Beberapa jembatan mengalami gangguan fungsi, sehingga aktivitas mobilitas masyarakat sempat terhambat.
Dampak banjir juga dirasakan oleh sektor pertanian. Sekitar 120,8 hektare areal persawahan dilaporkan terendam, yang berpotensi memengaruhi hasil panen petani di wilayah terdampak.
“Tidak terdapat laporan korban jiwa, namun kerugian materiil cukup signifikan akibat terhambatnya aktivitas masyarakat dan kerusakan infrastruktur,” kata Abdul.
Dalam penanganan bencana ini, BPBD Kabupaten Kudus bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama BPBD Provinsi Jawa Tengah. Sejumlah instansi terkait, termasuk pemerintah kecamatan dan desa, turut dilibatkan.
Petugas di lapangan melakukan berbagai langkah penanganan darurat. Upaya tersebut meliputi pendataan warga terdampak, evakuasi, pendistribusian bantuan logistik, hingga penyaluran peralatan untuk kerja bakti pembersihan material banjir dan longsor.
Selain itu, pemantauan intensif dilakukan di berbagai titik rawan. BPBD juga memantau kondisi pintu-pintu air guna mengendalikan risiko banjir lanjutan akibat potensi hujan susulan.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus menaikkan status menjadi Siaga Darurat. Penetapan ini dilakukan melalui Keputusan Bupati Kudus Nomor 300.2/296/2025.
Status siaga darurat tersebut juga diperkuat oleh Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/409 Tahun 2025/2026. Kebijakan ini menjadi dasar percepatan penanganan dan mobilisasi sumber daya.
Dalam penanganan di lapangan, berbagai unsur terlibat secara aktif. Mereka terdiri dari BPBD, pemerintah desa dan kecamatan, TNI dan Polri, perangkat daerah terkait, relawan, organisasi kemasyarakatan, pihak swasta, hingga masyarakat setempat.
Abdul menyampaikan bahwa kondisi banjir di sebagian besar wilayah Kudus telah menunjukkan perkembangan positif. Genangan air dilaporkan berangsur surut seiring menurunnya debit sungai.
“Sebagian besar genangan banjir dilaporkan telah berangsur surut. Namun demikian, beberapa desa di Kecamatan Mejobo masih terdapat genangan dengan ketinggian sekitar 5–50 cm,” ujarnya.
Penanganan longsor dan pembersihan material sisa banjir masih terus berlangsung. Wilayah yang menjadi fokus utama berada di Kecamatan Dawe, Gebog, dan Bae.
Sementara itu, debit air di Bendung Klambu terpantau dalam kondisi stabil. Debit air tercatat berada pada kisaran ±478,6 meter kubik per detik.
Meski demikian, petugas tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan debit air susulan. BNPB dan BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan.







