Baliho PB XIV Mangkubumi Tiba-tiba Muncul di Jantung Kota Solo, Sinyal Peneguhan Raja Keraton?

INBERITA.COM, Warga yang melintas di kawasan Gladag, Kota Solo, pada Senin (1/6/2026), disuguhi pemandangan baru yang langsung menarik perhatian.

Sebuah baliho berukuran besar menampilkan sosok SISKS PB XIV Mangkubumi berdiri mencolok di salah satu titik strategis kota yang selama ini menjadi pintu masuk kawasan bersejarah Keraton Surakarta.

Kemunculan baliho tersebut memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat. Selain karena ukurannya yang mencolok, waktu pemasangannya yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila turut menambah perhatian publik terhadap pesan yang ingin disampaikan.

Dalam baliho tersebut terpampang tulisan “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangestu Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) PB XIV Keraton Surakarta Hadiningrat”.

Sosok PB XIV Mangkubumi tampak mengenakan busana kebesaran raja yang identik dengan tradisi Keraton Surakarta.

Meski demikian, pihak yang memasang baliho enggan menyebut secara tegas bahwa pemasangan tersebut merupakan pengumuman resmi mengenai status PB XIV Mangkubumi sebagai Raja Keraton Surakarta.

Mereka justru memberikan ruang bagi masyarakat untuk menafsirkan makna yang terkandung di balik kemunculan baliho tersebut.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan makna pemasangan baliho tidak dapat dipersempit hanya pada satu tujuan tertentu.

“(Pemasangan baliho sebagai pengumuman ke masyarakat Solo?) Monggo dimaknai seperti apa. Bisa begitu, bisa ke dalam, bisa ke pemerintah, luas pengertiannya, karena keraton itu kondisinya lahir batin,” ujarnya kepada wartawan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa baliho tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum, tetapi juga dapat dipahami sebagai pesan yang memiliki dimensi internal maupun kelembagaan.

Dalam konteks Keraton Surakarta yang beberapa tahun terakhir kerap diwarnai dinamika internal, kemunculan simbol-simbol legitimasi di ruang publik memang sering menjadi perhatian berbagai pihak.

Menariknya, pemasangan baliho dilakukan tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila. Menurut Eddy, momentum tersebut dipilih bukan tanpa alasan.

Ia menilai ada keterkaitan antara nilai-nilai kebangsaan yang lahir dari Pancasila dengan keberadaan institusi budaya seperti Keraton Surakarta yang memiliki peran historis dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Hari ini lahirnya Pancasila, ini garisnya sebenarnya meneguhkan. Satu sisi adat dan tradisi budaya, sisi lain pada saat kita juga bersama-sama mendirikan negara dan bangsa ini, juga harus konsisten dengan apa yang sudah kita bersama-sama mendirikan bangsa,” katanya.

Bagi pihak LDA, Keraton Surakarta tidak hanya dipandang sebagai simbol budaya Jawa semata, tetapi juga bagian dari warisan sejarah yang memiliki kontribusi dalam proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia.

Karena itu, momentum 1 Juni dianggap tepat untuk menyampaikan pesan tentang kesinambungan antara nilai budaya dan nilai kebangsaan.

Selain faktor momentum nasional, LDA juga mengakui bahwa pemasangan baliho dilakukan dengan mempertimbangkan situasi yang tengah berkembang di lingkungan internal keraton.

Eddy menyebut kondisi yang terjadi saat ini sebagai sebuah “anomali” yang memerlukan pendekatan khusus dalam penyampaian pesan kepada masyarakat.

“Kita ini sedang menghadapi anomali yang mana penjenengan juga tahu sendiri apa yang terjadi. Sehingga di dalam menyikapi itu, tata cara proses yang juga menyesuaikan dengan sedikit penyesuaian dengan situasi dan kondisi yang ada,” ujarnya.

Meski tidak menjelaskan secara rinci mengenai anomali yang dimaksud, pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa pemasangan baliho merupakan bagian dari strategi komunikasi yang disesuaikan dengan dinamika yang berkembang di lingkungan Keraton Surakarta.

Eddy juga menegaskan dirinya siap bertanggung jawab atas pemasangan baliho tersebut. Menurutnya, langkah yang diambil telah mempertimbangkan aspek adat sekaligus ketentuan hukum yang berlaku.

“Saya bertanggung jawab penuh, dan dari sisi hukum bahwa apa yang kita lakukan ini adalah berpegang teguh pada ketentuan adat dan ketentuan hukum nasional,” tegasnya.

Kemunculan baliho di kawasan Gladag ternyata bukan satu-satunya yang direncanakan. LDA mengungkapkan bahwa pemasangan serupa akan diperluas ke sejumlah titik lain di Kota Solo.

Beberapa lokasi yang disasar berada di ruas jalan utama yang memiliki tingkat lalu lintas tinggi sehingga dapat dilihat oleh lebih banyak masyarakat.

Menurut Eddy, rencana tersebut sempat mengalami keterlambatan akibat kendala teknis. Namun pihaknya memastikan pemasangan baliho tambahan akan dilakukan dalam waktu dekat sesuai dengan ketersediaan lokasi dan kemampuan pendanaan.

“Rencana ada beberapa titik termasuk di jalan-jalan utama. Hari ini baru satu, insyaAllah besok tambah lagi,” katanya.

Langkah memperluas pemasangan baliho menunjukkan bahwa pesan yang ingin disampaikan tidak berhenti pada satu titik simbolik di Gladag.

Sebaliknya, upaya tersebut tampaknya dirancang untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas sekaligus memperkuat eksistensi simbol kepemimpinan Keraton Surakarta di ruang publik.

Di tengah berbagai interpretasi yang berkembang, kemunculan baliho PB XIV Mangkubumi menambah babak baru dalam dinamika Keraton Solo.

Bagi sebagian kalangan, baliho itu dipandang sebagai bentuk peneguhan identitas budaya. Namun bagi yang lain, kemunculannya juga dapat dibaca sebagai sinyal penting dalam perkembangan internal lembaga keraton yang masih menjadi perhatian publik hingga saat ini.