Bali Mulai Kurangi Ketergantungan Beras, Wayan Koster: Jangan Setiap Hari Makan Nasi

Ancaman Produksi Beras Turun, Wayan Koster Serukan Warga Konsumsi Jagung dan SingkongAncaman Produksi Beras Turun, Wayan Koster Serukan Warga Konsumsi Jagung dan Singkong
Gubernur Wayan Koster Ajak Warga Kurangi Nasi, Beralih ke Jagung dan Singkong.

INBERITA.COM, Gubernur Bali Wayan Koster mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi konsumsi nasi dan beralih ke sumber pangan alternatif seperti jagung dan singkong.

Seruan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya mendorong diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras di tengah ancaman penurunan produksi.

Dalam keterangannya di Denpasar pada Jumat (27/3/2026), Koster menekankan pentingnya perubahan pola konsumsi masyarakat.

Ia menilai, kebiasaan mengonsumsi nasi setiap hari perlu mulai diimbangi dengan pangan pendamping yang lebih beragam.

“Jangan setiap hari makan nasi. Mulai konsumsi jagung atau singkong, dan kurangi ketergantungan terhadap beras,” katanya.

Menurut Koster, langkah ini merupakan bagian dari transformasi sistem pangan yang harus segera dilakukan.

Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan tersebut terinspirasi dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, yang sebelumnya menyoroti potensi ancaman terhadap produksi beras nasional.

“Kita mengalami ancaman penurunan produksi beras. Surplus (Bali) turun terus. Angka semula 100 ribu ton, menjadi Rp 80 ribu ton,” ujarnya.

Penurunan surplus beras tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Bali. Kondisi ini dinilai dapat berdampak pada ketahanan dan kedaulatan pangan daerah jika tidak diantisipasi sejak dini.

Oleh karena itu, diversifikasi konsumsi sekaligus peningkatan produksi pangan lokal menjadi langkah strategis yang tengah didorong.

Koster menegaskan bahwa sektor pertanian memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas pangan di Bali.

Selain meningkatkan produksi beras, pemerintah juga berfokus pada pengembangan komoditas lain seperti jagung, singkong, dan kedelai untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara mandiri.

“Minimal kebutuhan warga bisa terpenuhi melalui hasil pertanian. Berasnya, jagung, singkong, kedelai, dicukupi,” ucapnya.

Program daulat pangan yang digagas Pemerintah Provinsi Bali ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar.

Dengan memaksimalkan potensi pertanian lokal, diharapkan Bali mampu menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah juga mulai mendorong pengembangan komoditas strategis lainnya, termasuk bawang putih.

Koster menyebutkan bahwa penanaman bawang putih akan mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui penyediaan lahan yang cukup luas.

“Akan ada dukungan kementerian seluas 2.500 hektare pada tahun ini. Kalau bisa, ditanami semua,” katanya.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memperkuat sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Dengan strategi diversifikasi pangan dan optimalisasi lahan pertanian, Bali berupaya menghadapi tantangan penurunan produksi beras sekaligus menjaga ketahanan pangan jangka panjang.

Seruan Gubernur Koster untuk mengurangi konsumsi nasi dan beralih ke jagung serta singkong menjadi sinyal kuat bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pangan.

Upaya ini juga sejalan dengan visi besar untuk mewujudkan kedaulatan pangan berbasis potensi lokal di Bali.