INBERITA.COM, Seorang pria berinisial As (32), warga Manuk, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, mengalami kejadian nahas setelah tidak mampu melepaskan cincin yang terpasang di alat kelaminnya.
Aksi yang awalnya dilakukan dengan tujuan meningkatkan performa dan kepercayaan diri tersebut justru berujung pada kondisi darurat medis.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, cincin atau ring tersebut dipasang di wilayah Wonogiri dan telah digunakan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Namun, seiring berjalannya waktu, alat tersebut justru menimbulkan masalah serius karena tidak bisa dilepas secara mandiri.
Kondisi tersebut memaksa As untuk mencari pertolongan medis. Pada Kamis (26/3/2026), ia akhirnya dilarikan ke RSUD dr. Hardjono Ponorogo guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Tim medis yang menangani kasus tersebut sempat mengalami kesulitan dalam proses pelepasan cincin, mengingat material yang digunakan cukup kuat dan berada di area yang sangat sensitif.
Karena keterbatasan alat dan risiko tinggi dalam proses penanganan, pihak rumah sakit kemudian meminta bantuan dari petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Ponorogo.
Kolaborasi antara tenaga medis dan petugas damkar pun dilakukan demi memastikan keselamatan pasien sekaligus meminimalisir potensi cedera lebih lanjut.
Proses pelepasan cincin tersebut tidak berlangsung mudah. Dibutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk dapat melepaskan cincin berbahan titanium yang melingkar di alat vital korban.
Selain faktor kekuatan material, proses ini juga menuntut ketelitian tinggi karena banyaknya jaringan saraf sensitif di area tersebut.
” Butuh waktu 1 jam lebih untuk bisa melepas cincin yang berbahan titanium itu. Karena butuh kehati hatian dan kecermatan mengingat banyak saraf sensitif yang harus diperhatikan ” ungkap Bambang Supeno, Kabid Damkar dan Penyelamatan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Ponorogo.
Ia menambahkan, penanganan kasus seperti ini memerlukan koordinasi yang baik antara berbagai pihak, termasuk tenaga medis dan petugas penyelamat.
Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko komplikasi yang dapat berdampak serius pada kondisi pasien.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan alat atau metode yang belum tentu aman bagi kesehatan, terutama yang berkaitan dengan organ vital.
Penggunaan benda asing tanpa pengawasan medis dapat berpotensi menimbulkan risiko serius, mulai dari pembengkakan, infeksi, hingga gangguan permanen.
Hingga saat ini, kondisi As dilaporkan telah mendapatkan penanganan intensif pasca proses pelepasan cincin tersebut.
Pihak rumah sakit terus melakukan pemantauan guna memastikan tidak ada komplikasi lanjutan yang membahayakan keselamatannya.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan, mengingat kejadian serupa bukan kali pertama terjadi.
Aparat dan tenaga medis mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan mencoba praktik-praktik yang berisiko tanpa pemahaman dan pengawasan yang memadai.







