INBERITA.COM, Amerika Serikat kembali menunjukkan kekuatan udara jarak jauhnya dengan mengerahkan pesawat pengebom strategis B-1B Lancer dalam serangkaian operasi militer yang menyasar sejumlah target di Iran.
Kehadiran pesawat ini menarik perhatian karena berbeda dengan pembom siluman yang biasa digunakan dalam misi berisiko tinggi, B-1B justru merupakan pesawat yang dapat terdeteksi radar.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, keputusan menggunakan B-1B dipandang bukan sekadar pertimbangan teknis, melainkan juga memiliki makna strategis.
Sejumlah pengamat militer menilai langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Amerika Serikat merasa memiliki tingkat superioritas udara yang cukup untuk mengoperasikan pesawat non-siluman di wilayah operasi.
Laporan Axios menyebutkan pembom B-1B Lancer digunakan untuk menyerang berbagai fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Sasaran yang dilaporkan menjadi target mencakup gudang penyimpanan rudal balistik, fasilitas drone, pusat komando dan kendali, hingga sistem pertahanan udara.
Sejumlah pesawat B-1B diketahui lepas landas dari Pangkalan Udara RAF Fairford di Inggris sebelum menjalankan misi pengeboman jarak jauh menuju Iran.
Meski demikian, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan konfirmasi resmi mengenai keterlibatan B-1B dalam operasi tersebut.
Penggunaan B-1B menjadi perhatian karena selama ini pesawat tersebut tidak dirancang sebagai pembom siluman seperti B-2 Spirit.
Kendati dapat dideteksi radar, pesawat ini memiliki keunggulan lain yang membuatnya tetap menjadi salah satu aset paling berbahaya dalam armada Angkatan Udara Amerika Serikat.
B-1B Lancer dikenal mampu membawa muatan senjata konvensional terbesar dibandingkan pembom lain yang masih aktif digunakan AS.
Dalam satu misi, pesawat ini dapat mengangkut berbagai jenis bom berpemandu presisi, rudal jelajah, hingga persenjataan jarak jauh yang dirancang untuk menghancurkan target bernilai strategis.
Kemampuan tersebut memungkinkan B-1B menyerang banyak sasaran sekaligus dalam satu penerbangan. Fleksibilitas itu pula yang membuat pesawat ini tetap menjadi tulang punggung operasi serangan konvensional meskipun usianya telah mencapai beberapa dekade.
Pengerahan B-1B juga memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi terhadap Pickaxe Mountain, lokasi yang diyakini intelijen Israel menjadi tempat Iran memindahkan ribuan sentrifugal pengayaan uranium ke dalam jaringan terowongan bawah tanah.
Fasilitas tersebut belakangan menjadi sorotan setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa lokasi itu berpotensi menjadi target serangan berikutnya.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana tersebut, namun kemampuan B-1B dinilai sesuai untuk menghadapi sasaran semacam itu.
Salah satu alasan utamanya adalah kemampuan pesawat ini membawa bom penghancur bunker GBU-72 Advanced 5K.
Senjata tersebut dirancang untuk menembus lapisan tanah hingga sekitar 150 kaki sebelum meledak, sehingga efektif digunakan terhadap fasilitas yang dibangun jauh di bawah permukaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan fasilitas bawah tanah menjadi salah satu strategi pertahanan Iran untuk melindungi aset militernya dari serangan udara. Karena itu, kemampuan menghancurkan bunker menjadi faktor penting dalam setiap operasi terhadap target strategis.
Bukan kali ini saja B-1B dilibatkan dalam konflik yang melibatkan Iran. Pada fase awal eskalasi militer, Angkatan Udara Amerika Serikat juga dilaporkan mengoperasikan tiga pesawat B-1B Lancer untuk menyerang sejumlah instalasi militer Iran.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang dikutip Axios mengatakan pesawat-pesawat tersebut menghancurkan lokasi penyimpanan rudal balistik di atas permukaan tanah, fasilitas komando militer, serta pusat pengendalian operasi.
Selain mengandalkan B-1B, militer AS juga tetap menggunakan pembom siluman B-2 Spirit dalam beberapa misi yang membutuhkan kemampuan penetrasi tinggi terhadap sistem pertahanan udara lawan. Kombinasi kedua jenis pembom tersebut memberikan fleksibilitas dalam memilih pola serangan sesuai karakteristik target.
Meski masih aktif menjalankan operasi tempur, masa tugas B-1B perlahan mulai memasuki tahap akhir. Angkatan Udara Amerika Serikat telah menyiapkan penggantinya melalui kehadiran pembom generasi terbaru B-21 Raider.
B-21 diperkenalkan kepada publik pada 2022 dan kini memasuki tahap produksi awal.
Pesawat siluman generasi baru itu dirancang mampu menjalankan misi serangan konvensional maupun nuklir dengan tingkat kemampuan menghindari deteksi radar yang jauh lebih baik dibanding pendahulunya.
Rencananya, B-21 mulai memperkuat armada pembom Amerika Serikat pada akhir 2026 atau awal 2027. Meski demikian, keberadaan B-1B belum akan langsung dihentikan.
Angkatan Udara AS memperkirakan B-1B masih akan tetap dioperasikan hingga sekitar 2038.
Untuk menjaga efektivitasnya, program modernisasi terus dilakukan, termasuk pemasangan Load Adaptable Modular (LAM) Pylon yang memungkinkan pesawat membawa lebih banyak rudal jarak jauh seperti Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM), Long Range Anti-Ship Missile (LRASM), hingga berbagai senjata hipersonik yang sedang dikembangkan.
Peningkatan tersebut menambah kapasitas muatan persenjataan sekitar 45.000 pon, menjadikan B-1B sebagai salah satu platform pembom konvensional dengan daya hancur terbesar yang masih dimiliki Amerika Serikat.
Kembalinya B-1B ke medan operasi memperlihatkan bahwa pesawat berusia puluhan tahun itu masih memainkan peran penting dalam strategi militer Washington.
Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, pengerahan pembom strategis tersebut juga dipandang sebagai sinyal bahwa opsi militer tetap menjadi bagian dari tekanan yang disiapkan Amerika Serikat terhadap berbagai target strategis di kawasan.