Antrean Panjang Pemudik di Gilimanuk Bali, 200 Ribu Orang Telah Menyeberang ke Jawa, Kemacetan Masih Terjadi

Macet di pelabuhan gilimanukMacet di pelabuhan gilimanuk
Antrean Pemudik Bali Mengular, ASDP Terapkan Skema TBB untuk Kurangi Kepadatan

INBERITA.COM, Sejak H-10 hingga H-7 pada Ahad, 15 Maret 2026, sekitar 200 ribu pemudik telah menyeberang dari Bali menuju Jawa melalui jalur Ketapang-Gilimanuk.

Angka ini mencakup lebih dari 35 ribu sepeda motor dan sekitar 17 ribu kendaraan kecil yang terhitung sejak Kamis, 12 Maret 2026.

Peningkatan jumlah pemudik ini turut memengaruhi kepadatan arus lalu lintas, terutama di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, yang sering kali mengular panjang.

Menanggapi hal ini, General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerapkan skema tiba bongkar berangkat (TBB) guna mengurai kemacetan di pelabuhan.

Dalam skema ini, kapal-kapal yang beroperasi hanya akan menurunkan penumpang dan kendaraan di Pelabuhan Ketapang, tanpa melakukan proses muat ulang. Setelah itu, kapal langsung kembali ke Gilimanuk untuk mengangkut kendaraan berikutnya.

“Skema TBB diterapkan dengan pola kapal hanya menurunkan muatan di Pelabuhan Ketapang tanpa melakukan proses muat kembali, kemudian langsung berlayar kembali ke Gilimanuk untuk mengangkut kendaraan berikutnya,” kata Arief Eko, Minggu malam, 15 Maret 2026.

Kapalan Besar untuk Tingkatkan Kapasitas Untuk mengatasi tingginya volume kendaraan yang menyeberang, PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang berencana menambah kapal berukuran besar di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Meskipun jumlah kapal yang beroperasi kemungkinan tetap sekitar 35 unit, komposisi armada akan diperkuat dengan kapal-kapal besar yang memiliki bobot sekitar 2.000 Gross Tonnage (GT).

Kapal besar ini tidak akan menambah jumlah total kapal, tetapi diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut kendaraan dan memperlancar arus penyeberangan.

“Kami akan mengubah komposisi armada dengan memperbanyak kapal berukuran besar, terutama yang memiliki bobot sekitar 2.000 GT, untuk meningkatkan kapasitas angkut kendaraan,” ujar Arief Eko.

Peningkatan Arus Kendaraan Sejak H-10, data menunjukkan bahwa jumlah pemudik yang menyeberang terus meningkat.

Pada H-7, lebih dari 200 ribu orang telah berhasil menyeberang, dengan kendaraan roda dua mengalami peningkatan signifikan sekitar 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kendaraan roda empat juga tercatat meningkat sekitar 11 persen.

“Peningkatan yang paling signifikan terjadi pada kendaraan roda dua. Sementara itu, kendaraan roda empat meningkat sekitar 11 persen dibandingkan tahun lalu,” tambah Arief.

Pihak ASDP memprediksi bahwa arus kendaraan akan terus meningkat hingga 17 Maret 2026, terutama menjelang penutupan penyeberangan pada 18-20 Maret 2026 akibat perayaan Nyepi di Bali.

Wamenhub Tinjau Langsung Wakil Menteri Perhubungan Suntana turut turun langsung untuk memantau kondisi antrean kendaraan pemudik di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Sebelum memantau langsung, Wamenhub terlebih dahulu menggelar rapat koordinasi bersama otoritas pelabuhan di kantor ASDP Indonesia Ferry di Pelabuhan Ketapang untuk membahas langkah percepatan arus kendaraan.

“Saya ke sini hanya ingin mempercepat arus dari sana (Gilimanuk),” ujar Suntana dengan tegas.

Setelah rapat, Suntana memantau langsung kondisi antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk dan memberikan arahan agar antrean bisa segera terurai.

Cerita Pemudik di Tengah Kemacetan Tidak sedikit pemudik yang mengeluhkan antrean panjang saat menyeberang.

Salah satunya adalah Kholik, 25 tahun, yang baru tiba di Pelabuhan Ketapang pada pukul 18.50 WIB. Ia menceritakan pengalamannya harus menunggu lebih dari 10 jam di jalan dan pelabuhan untuk bisa naik kapal.

“Saya berangkat dari Canggu, Bali, jam 10 malam, dan baru bisa naik kapal dari Gilimanuk setelah magrib. 10 jam lebih saya dan rombongan menunggu,” ujar Kholik, yang berasal dari Probolinggo.

Sementara itu, Heri, 45 tahun, juga mengalami antrean yang tidak kalah panjang. Ia mencatat bahwa antrean kendaraan mencapai lebih dari 30 kilometer.

“Saya berangkat dari Seminyak, Bali jam 8 malam. Sampai di sini hampir jam 7 malam. Macetnya lebih dari 30 kilometer,” kata Heri.

Menurut Heri, kemacetan paling parah terjadi pada dini hari hingga pagi hari, bahkan beberapa kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

“Jam 3 pagi sampai jam 9 pagi macet total, tidak bisa jalan. Setelah itu baru bisa pelan-pelan bergerak menuju Pelabuhan Gilimanuk,” tambahnya.

Penyebab Kemacetan Kemacetan yang terjadi semakin diperburuk oleh kondisi lalu lintas yang semrawut, terutama karena banyak kendaraan yang saling mendahului di jalur antrean.

“Kendalanya kendaraan dari dua arah saling mendahului, jadi semrawut. Banyak yang ngeblong,” kata Heri, menggambarkan kesulitan yang dialaminya selama perjalanan.

Kemacetan yang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk menunjukkan besarnya arus mudik yang terjadi menjelang hari-hari besar seperti Nyepi. ASDP dan otoritas pelabuhan bekerja keras untuk mengurangi penumpukan kendaraan, dengan menerapkan berbagai skema dan menambah kapasitas angkut kapal.

Kesimpulan Dengan lebih dari 200 ribu pemudik yang telah menyeberang dari Bali ke Jawa pada H-7, arus mudik 2026 diperkirakan masih akan terus meningkat hingga menjelang penutupan penyeberangan.

Upaya ASDP dalam menerapkan skema TBB dan menambah kapal besar diharap dapat memperlancar arus mudik yang semakin padat. Namun, kemacetan panjang dan antrean yang terjadi masih menjadi tantangan yang harus diatasi bersama oleh berbagai pihak terkait.