Ancaman Bencana Hidrometeorologi Meningkat, Jatim Intensifkan Modifikasi Cuaca 2025

Penyiapan garam dan kapur tohor yang akan digunakan untuk operasi modifikasi cuacaPenyiapan garam dan kapur tohor yang akan digunakan untuk operasi modifikasi cuaca
Cuaca Ekstrem Ancam Jatim hingga Akhir 2025, Pemprov Lanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca

INBERITA.COM, Cuaca ekstrem diprediksi terus melanda Jawa Timur hingga akhir 2025 dan meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi di berbagai daerah. Kondisi ini tidak hanya memicu kejadian baru, tetapi juga memperburuk situasi di wilayah yang tengah mengalami bencana, seperti Kabupaten Lumajang yang masih terdampak erupsi Gunung Semeru.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur merespons ancaman tersebut dengan kembali menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) sejak pekan lalu, dan rencananya berlanjut hingga akhir Desember 2025 dengan menyesuaikan dinamika cuaca di lapangan.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim pada Minggu (7/12/2025) sore, sejumlah wilayah mulai merasakan dampak cuaca ekstrem. Kabupaten Malang diguyur hujan deras sejak pukul 15.00 WIB, memicu longsor di Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir; Desa Pandansari; serta Kecamatan Poncokusumo.

Longsor di Mendalanwangi terjadi pada tebing setinggi 5–6 meter dan menyebabkan dua rumah rusak ringan. Sementara itu di Poncokusumo, material longsor menutup sebagian akses jalan di Desa Pandansari. Kejadian serupa juga tercatat di Probolinggo, yang mengakibatkan satu rumah rusak.

Tidak hanya hujan deras, angin kencang menerjang beberapa kawasan di Jawa Timur. Di Desa Tirtosari, Malang, satu rumah dilaporkan rusak berat akibat terpaan angin. Di Kota Malang, sebuah pohon tumbang di Jalan Veteran, menambah daftar dampak cuaca ekstrem yang muncul hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir.

Hanya satu hari sebelumnya, Sabtu (6/12/2025), intensitas hujan tinggi kembali memicu banjir lahar di kaki Gunung Semeru, Lumajang. Banjir membawa material sisa erupsi pada 19 November 2025 dan memutus akses utama menuju Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, serta merendam sejumlah rumah warga.

BPBD Lumajang mencatat 138 keluarga terisolasi, dan belasan di antaranya kehilangan tempat tinggal. Seluruh warga dusun telah dievakuasi ke lokasi pengungsian yang disiapkan pemerintah daerah demi menghindari risiko korban jiwa mengingat potensi hujan susulan masih tinggi.

Data BPBD Jatim menunjukkan sepanjang Januari hingga 30 November 2025 telah terjadi 306 bencana di wilayah tersebut. Bencana hidrometeorologi mendominasi, termasuk 136 kejadian banjir, 117 angin kencang, dan 20 longsor.

Selain itu, terdapat enam kejadian angin puting beliung serta empat kejadian banjir yang disertai longsor. Catatan tersebut menggambarkan tingginya kerentanan wilayah Jatim terhadap fenomena cuaca ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi cuaca ekstrem berpotensi berlangsung hingga akhir 2025. Menindaklanjuti peringatan tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menginstruksikan agar operasi modifikasi cuaca kembali digelar.

Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang banyak didukung pemerintah pusat, OMC kali ini diinisiasi secara mandiri oleh Pemprov Jatim bekerja sama dengan BMKG dan Puspenerbal Juanda Sidoarjo. Agenda ini direncanakan berlangsung beberapa kali hingga akhir Desember 2025.

”Tujuannya mengurangi potensi terjadinya bencana hidrometeorologi yang diakibatkan cuaca ekstrem, seperti, banjir, banjir bandang, longsor, dan angin puting beliung,” ujar Khofifah.

OMC pertama berhasil dilakukan pada Jumat (5/12/2025) menggunakan pesawat Cessna Caravan 208 Registrasi PK-SNM, dengan menyasar wilayah Selatan Malang, Pasuruan, dan Jombang yang sejak kemarin dilanda hujan deras. Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa langkah ini merupakan respons cepat terhadap peringatan dini BMKG.

”Pemprov Jatim harus merespons imbauan kewaspadaan potensi cuaca ekstrem yang dirilis BMKG, Jadi, kegiatan OMC ini merupakan respons cepat terhadap kondisi cuaca di Jatim, beberapa hari terakhir,” ujarnya pada Senin (8/12/2025).

Seperti pelaksanaan sebelumnya, operasi OMC berpusat di Base Ops Lanudal Juanda hingga akhir tahun. Pelaksanaannya dilakukan sewaktu-waktu berdasarkan analisis atmosfer yang dipantau oleh BMKG.

”Jadi, jika BMKG mendeteksi adanya awan di langit Jawa Timur yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem, kita akan lakukan OMC untuk menghindari bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut,” kata Gatot.

Sebelumnya, operasi serupa telah dilaksanakan pada 26–30 November 2025 menggunakan pesawat Cessna Caravan C208 REG PK-SNM. Teknik yang digunakan adalah penyemaian NaCl dan CaO pada awan agar pertumbuhannya terganggu sehingga menurunkan curah hujan.

Hingga Minggu (30/11/2025), total sorties mencapai 12 kali penerbangan dengan penaburan bahan semai 1.000 kg per sorti, atau total 12 ton. Dari jumlah itu, 4 ton merupakan NaCl dan 8 ton CaO.

Adapun wilayah sasaran meliputi perairan selatan Jawa Timur, selatan Malang, barat Malang, serta kawasan Gunung Semeru di sisi barat, barat daya, dan utara. Upaya Pemprov Jatim mendapat respons positif dari masyarakat.

Ismail (50), warga Desa Tambak Sawah, Sidoarjo, menilai modifikasi cuaca dapat membantu menurunkan intensitas hujan sehingga risiko banjir dapat ditekan.

”Desa saya Tambak Sawah, dua pekan lalu juga dilanda banjir parah yang berlangsung selama beberapa hari, meski ketinggian air hanya 20-30 sentimeter di dalam rumah, berbagai aktivitas terganggu dan banyak perabotan rusak,” ujarnya.

Namun Ismail menilai upaya pencegahan bencana tidak cukup hanya mengandalkan modifikasi cuaca. Ia menekankan pentingnya penanganan akar persoalan seperti pendangkalan sungai, kerusakan drainase, dan saluran yang tersumbat, yang selama ini menjadi pemicu banjir di Sidoarjo.

Menurutnya, kombinasi langkah struktural dan non-struktural harus dilakukan agar mitigasi bencana dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh.

Dengan prediksi cuaca ekstrem hingga akhir 2025, langkah mitigasi seperti modifikasi cuaca, peningkatan kesiapsiagaan, serta perbaikan infrastruktur dinilai menjadi kunci agar Jawa Timur dapat menekan dampak bencana hidrometeorologi yang terus mengintai.

Masyarakat pun berharap kebijakan ini berjalan optimal, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi juga untuk memperkuat ketahanan daerah menghadapi cuaca ekstrem di masa mendatang.