9 Jam Bertahan di Laut, 5 ABK KM Virgo Selamat Berpegangan pada Tabung LPG 3 Kg

INBERITA.COM, Perairan Laut Jawa menjadi tempat bertaruh nyawa bagi lima anak buah kapal (ABK) KM Virgo Transport 8 setelah mereka terpisah dari kapal yang mengalami kecelakaan pada Minggu, 13 September 2026.

Selama hampir sembilan jam, mereka tidak memiliki sekoci atau rakit karet untuk dijadikan alat bantu mengapung.

Yang mereka miliki hanya satu tabung LPG kosong berukuran tiga kilogram.

Benda yang dalam kondisi normal digunakan untuk kebutuhan dapur itu kemudian menjadi pegangan kelima ABK agar tetap berada di permukaan air. Mereka saling bertahan hingga sebuah kapal tunda datang dan mengevakuasi mereka sekitar pukul 10.00 WITA.

Salah satu korban selamat, Akmal, menceritakan bagaimana dirinya bersama empat ABK lain berusaha bertahan sejak sekitar pukul 01.00 WITA. Dalam kondisi gelombang laut, mereka hanya mengandalkan tabung LPG tersebut.

“Kami lima orang pegang satu tabung LPG. Tabung LPG tiga kilo yang kosong,” kata Akmal saat ditemui setelah dievakuasi dan tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (15/9).

Akmal mengatakan kelimanya tidak menemukan sekoci maupun rakit karet setelah berada di laut. Karena itu, mereka memilih bertahan bersama dan menggunakan tabung LPG kosong sebagai tumpuan.

Situasi tersebut membuat waktu menjadi faktor penentu keselamatan. Dari sekitar pukul 01.00 WITA sampai kapal tunda menemukan mereka pada pukul 10.00 WITA, kelima ABK harus tetap berada di tengah laut dengan sarana yang sangat terbatas.

Bagi Akmal, keselamatan itu juga tidak serta-merta mengakhiri seluruh situasi darurat. Setelah berhasil ditemukan, dia melihat ada korban lain di atas kapal tunda, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

“Saya kemudian melihat terdapat korban selamat dan meninggal dunia di atas kapal tunda, tetapi tidak mengetahui secara pasti kondisi para korban sebelum mereka dievakuasi dari laut,” ujarnya.

Akmal diketahui berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dia bekerja sebagai petugas kebersihan di KM Virgo Transport 8 dan baru sekitar tiga bulan menjadi bagian dari awak kapal tersebut sebelum kecelakaan terjadi.

Kesaksian lima ABK yang bertahan dengan satu tabung LPG itu menjadi salah satu gambaran mengenai kondisi para penumpang dan awak kapal yang harus menghadapi keadaan darurat di perairan Masalembo, Laut Jawa.

Pada saat yang sama, operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Berdasarkan data Basarnas hingga Selasa (15/9) pukul 09.00 WITA, sebanyak 114 orang telah ditemukan dari total 243 orang yang berada di dalam KM Virgo Transport 8.

Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan enam lainnya meninggal dunia. Artinya, pada pembaruan data tersebut masih ada 129 orang yang belum ditemukan.

Sebagian korban yang telah ditemukan kemudian dibawa menuju Banjarmasin. Sebanyak 110 orang telah tiba di kota tersebut, terdiri atas 108 korban selamat dan dua korban meninggal dunia.

Sementara empat korban meninggal dunia lainnya masih dalam proses evakuasi menggunakan armada udara.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pencarian KM Virgo bukan hanya menyangkut proses menemukan kapal atau korban, tetapi juga menghadirkan tantangan besar dalam memastikan seluruh penumpang dan awak yang masih belum ditemukan dapat dilacak.

KM Virgo Transport 8 sebelumnya berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal bertolak pada Sabtu, 12 September 2026, sehari sebelum dilaporkan mengalami kecelakaan dan hilang kontak di perairan Masalembo.

Laporan mengenai hilang kontak kapal diterima pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA. Dalam perkembangan berikutnya, proses pencarian melibatkan sejumlah unsur penyelamatan dan armada yang melakukan penyisiran serta evakuasi korban.

Bagi para korban yang berhasil ditemukan, proses penyelamatan berlangsung dalam kondisi berbeda-beda. Ada yang berhasil bertahan hingga mendapat pertolongan kapal lain, sementara sebagian korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Cerita Akmal dan empat rekannya memperlihatkan betapa terbatasnya pilihan yang tersedia ketika mereka berada di laut tanpa menemukan perangkat keselamatan seperti sekoci atau rakit karet.

Satu tabung LPG kosong akhirnya menjadi satu-satunya alat yang mereka gunakan bersama untuk menjaga tubuh tetap mengapung.

Hampir sembilan jam mereka menunggu pertolongan. Ketika kapal tunda akhirnya mendekat, perjalanan untuk keluar dari situasi darurat pun dimulai.

Namun, operasi pencarian belum selesai. Dengan 129 orang masih tercatat belum ditemukan dalam pembaruan data Basarnas hingga Selasa pagi, perhatian selanjutnya tertuju pada perkembangan pencarian di sekitar lokasi kecelakaan dan proses evakuasi korban yang masih berlangsung.