78 Tahun Menyajikan Nasi Padang, Warong Pariaman Singapura Akhiri Operasionalnya

Warong Nasi Pariaman Singapura Resmi Tutup, Menteri Urusan Muslim Turun TanganWarong Nasi Pariaman Singapura Resmi Tutup, Menteri Urusan Muslim Turun Tangan
Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Tutup, Kenangan Kuliner Minang Tak Terlupakan.

INBERITA.COM, Dunia kuliner Nusantara di mancanegara kembali berduka. Warong Nasi Pariaman, rumah makan nasi padang legendaris yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga Singapura selama puluhan tahun, resmi mengumumkan akan menutup operasionalnya pada 31 Januari 2026.

Penutupan ini menandai berakhirnya sebuah bab penting dalam sejarah kuliner Minangkabau di negeri singa tersebut.

Warong Nasi Pariaman, yang berlokasi di ruko nomor 738 North Bridge Road, kawasan Kampong Gelam, telah berdiri sejak 1948.

Rumah makan ini didirikan oleh Isrin, seorang perantau asal Pariaman, Sumatera Barat, dan dikenal konsisten menyajikan cita rasa khas Minangkabau.

Sejak awal berdiri, warung ini menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Singapura, bahkan diyakini sebagai warung nasi padang tertua yang masih beroperasi di negara tersebut.

Beberapa menu andalannya, seperti rendang daging sapi, sambal goreng, dan ikan bakar asap, telah menjadi favorit lintas generasi.

Keunikan cita rasa dan pelayanan yang ramah membuat Warong Nasi Pariaman tidak hanya dikenal oleh komunitas Muslim, tetapi juga menjadi bagian dari kenangan kuliner masyarakat Singapura secara umum.

Kabar penutupan Warong Nasi Pariaman mengejutkan banyak pihak, termasuk Pejabat Menteri Urusan Muslim Singapura, Faishal Ibrahim.

Ia mengaku langsung mengunjungi keluarga pemilik warung sehari sebelum pengumuman resmi disampaikan kepada publik.

“Saya menyampaikan kepada keluarga bahwa mereka sangat dihargai. Makanan mereka telah menjadi bagian dari kenangan dan kebersamaan banyak warga Singapura selama puluhan tahun,” ujar Faishal Ibrahim, dikutip dari Asia One, Sabtu (24/1/2026).

Menteri Faishal menuturkan bahwa penutupan Warong Nasi Pariaman bukan sekadar kehilangan bagi komunitas Muslim, melainkan juga bagi masyarakat Singapura secara luas.

Sejak kabar ini beredar, banyak warga membagikan kenangan pribadi, dukungan, hingga harapan agar rumah makan legendaris tersebut dapat kembali beroperasi di masa depan.

“Penutupan ini mengejutkan banyak orang. Saya juga telah meminta rekan-rekan di berbagai instansi pemerintah untuk berkomunikasi dengan pemilik, guna memahami kemungkinan langkah yang dapat membantu mereka merencanakan masa depan,” lanjut Faishal.

Ia menekankan, Warong Nasi Pariaman memiliki nilai sosial dan budaya yang sulit diukur.

“Bagi banyak keluarga, termasuk saya, kunjungan ke Kampong Gelam selalu identik dengan makan di sini.

Nilai tempat seperti Pariaman benar-benar tak tergantikan di masyarakat kami,” ungkapnya.

Meski begitu, hingga kini pihak pengelola Warong Nasi Pariaman belum mengungkapkan alasan pasti di balik keputusan menutup usaha yang telah bertahan selama hampir delapan dekade tersebut.

Melalui unggahan di akun Instagram resmi mereka, pengelola menyampaikan pesan perpisahan kepada para pelanggan setia.

“Dengan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, kami ingin memberitahu bahwa Warong Nasi Pariaman akan berhenti beroperasi pada 31 Januari,” tulis mereka dalam bahasa Melayu.

“Makasih atas segala dukungan, cinta, dan kenangan indah yang telah Anda bagikan bersama kami selama ini,” lanjut pernyataan tersebut.

Penutupan Warong Nasi Pariaman tidak hanya meninggalkan kesedihan di hati pelanggan, tetapi juga menimbulkan kerinduan mendalam bagi pencinta nasi padang di Singapura.

Sejak berdiri, rumah makan ini menjadi simbol keberhasilan diaspora Minangkabau dalam mempertahankan budaya kuliner Nusantara di luar negeri.

Warong Nasi Pariaman selama ini tidak sekadar menawarkan makanan, tetapi juga pengalaman budaya.

Pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati rendang atau gulai, melainkan juga untuk merasakan suasana khas Kampong Gelam yang telah melekat pada rumah makan legendaris ini.

Kehadiran Warong Nasi Pariaman selama 78 tahun menjadi bukti panjangnya sejarah kuliner Indonesia yang hidup dan berkembang di Singapura.

Bagi masyarakat Singapura, khususnya komunitas Muslim dan pencinta kuliner Indonesia, penutupan Warong Nasi Pariaman menjadi kehilangan yang tak tergantikan.

Dari sisi SEO, kata kunci seperti Warung Nasi Padang Singapura, Warong Nasi Pariaman, kuliner Minang Singapura, dan penutupan restoran legendaris relevan untuk menarik pembaca yang mencari berita kuliner, sejarah, dan budaya Nusantara di luar negeri.

Dengan berakhirnya operasional Warong Nasi Pariaman pada 31 Januari 2026, sejarah panjang kuliner Minangkabau di Singapura resmi menutup salah satu lembar pentingnya.

Meski toko fisiknya akan tutup, kenangan, cita rasa, dan nilai budaya yang dibawa Warong Nasi Pariaman dipastikan akan terus hidup di hati para pelanggannya.