INBERITA.COM, Sebanyak 340 orang di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ratusan korban tersebut terdiri dari siswa dan guru yang kemudian harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Marau dan sejumlah fasilitas kesehatan terdekat.
Peristiwa keracunan massal MBG di Ketapang ini terjadi pada pekan pertama Februari 2026 dan langsung mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang.
Para korban dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Feria Kowira, membenarkan adanya kejadian tersebut dan menyatakan seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis.
“Saat ini kami di Puskesmas Marau sedang menangani pasien, terduga akibat konsumsi makanan (MBG) sejumlah 340 orang,” kata Feria Kowira, dilansir detikKalimantan, Jumat (6/2/2026).
Menurut Feria, lonjakan jumlah pasien membuat Puskesmas Marau mendapat dukungan tambahan tenaga kesehatan dari beberapa fasilitas layanan kesehatan lain.
Tim medis dari Puskesmas Jelai Hulu, Puskesmas Suka Mulia, serta jajaran Dinas Kesehatan Ketapang turut dikerahkan untuk memastikan seluruh korban keracunan MBG tertangani dengan baik dan cepat.
Ia memastikan kondisi para pasien terus dipantau secara intensif oleh tenaga medis. “Sebagian pasien kini telah dipulangkan karena kondisi mereka membaik dan tidak lagi mengalami keluhan,” ujarnya.
Meski demikian, pihak Dinkes tetap bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.
Sementara itu, dugaan penyebab keracunan massal MBG di Kecamatan Marau mulai mengerucut pada salah satu menu yang disajikan, yakni perkedel tahu.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, mengungkapkan bahwa menu tersebut saat ini menjadi fokus utama dalam proses investigasi awal.
“Dugaan awal kejadian berasal dari perkedel tahu, yang dibuat jam tujuh malam pada hari Selasa, 3 Februari 2026. Kemudian diolah jam dua dini hari pada Rabu, 4 Februari 2026,” tutur Agus Kurniawi.
Ia menambahkan, sampel makanan MBG tersebut telah diambil dan sedang menjalani uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan.
Kasus keracunan MBG Ketapang ini menjadi perhatian karena melibatkan jumlah korban yang cukup besar dan menyasar kelompok pelajar.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu upaya pemenuhan gizi bagi siswa, sehingga aspek keamanan dan kebersihan makanan menjadi faktor krusial dalam pelaksanaannya.
Hingga saat ini, hasil uji laboratorium terhadap sampel perkedel tahu MBG masih ditunggu untuk memastikan apakah benar menu tersebut menjadi sumber keracunan.
Pihak terkait menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan MBG guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan memastikan penanganan korban keracunan MBG di Ketapang tetap menjadi prioritas, sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar penentuan langkah lanjutan.