INBERITA.COM, Persoalan distribusi bantuan kembali menjadi sorotan setelah video warga menginjak bahan pangan beredar luas di media sosial. Peristiwa itu terjadi di Posko Nanga Lok, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aksi tersebut bukan muncul tanpa alasan. Di balik video yang memicu reaksi publik, terdapat keluhan warga mengenai minimnya bantuan pangan yang mereka terima setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Dalam rekaman yang beredar, sejumlah bungkus mi tampak berserakan di tanah. Seorang warga kemudian terlihat menginjak bahan makanan tersebut. Orang yang merekam video juga menyampaikan kekecewaannya terhadap paket bantuan yang diterima masyarakat.
Menurut keterangan dalam video, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur pada saat itu hanya terdiri atas tiga bungkus mi dan satu bungkus biskuit jenis Malkist.
Warga di Kampung Nanga Lok disebut baru dua kali menerima bantuan makanan dari pemerintah sejak bencana terjadi.
“Ini bantuannya berupa mi 3 bungkus, Malkist 1 bungkus bantuan oleh pemda per hari ini. Ini bentuk bantuannya, yang lain sudah pada hancur,” kata pria dalam rekaman tersebut.
Ia kemudian menyebut paket bantuan itu sangat mengecewakan bagi masyarakat yang masih menghadapi kebutuhan pangan setelah gempa.
“Datang kembali bantuan dari Pemda Manggarai Timur mi 3 bungkus, Malkis 1 bungkus. Ini bantuannya sangat memalukan. Ini masyarakat ada injak-injak mi-nya,” ujarnya.
Video tersebut kemudian menyebar melalui media sosial dan menjadi perhatian luas.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa aksi menginjak makanan itu tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap seluruh bantuan, melainkan bentuk luapan kekecewaan seorang warga terhadap jumlah bantuan yang dianggap tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Warga yang berada dalam video tersebut diketahui bernama Saimin Sadang Syawal. Setelah rekamannya viral, Saimin menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam video permintaan maafnya, Saimin mengakui tindakan tersebut dilakukan dalam kondisi emosi dan menyebutnya sebagai kekhilafan.
“Saya Saimin Sadang Syawal mau memohon maaf kepada publik, lebih khusus kepada Pemda Manggarai Timur yang kemarin telah terjadi beberapa menit,” kata Saimin.
Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk kekecewaan pribadi sekaligus keresahan yang dirasakan masyarakat di Kampung Nanga Lok setelah gempa.
“Itu adalah sesuatu yang sangat khilaf bagi saya. Statement yang tanpa sadar yang saya buat karena memang itu bentuk kekecewaan kami, bentuk kekecewaan saya selaku masyarakat pascagempa bumi yang bantuannya sangat tidak memenuhi dengan kebutuhan kami pascagempa bumi yang telah terjadi,” tuturnya.
Saimin juga mengatakan telah menarik kembali unggahan video yang sebelumnya dibagikan melalui status WhatsApp dan Facebook. Ia meminta maaf atas tindakannya yang kemudian menjadi konsumsi publik.
“Kemudian, saya menarik dari apa yang perhari ini mulai kemarin yang saya viral melalui status WA ataupun Facebook kepada masyarakat Manggarai Timur, khususnya kepada Pemda yang telah menonton video saya itu,” ujarnya.
“Atas nama masyarakat, atas nama pribadi, kembali saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekeliruan yang saya buat. Mungkin demikian yang perlu saya sampaikan,” lanjut Saimin.
Kepala Desa Golo Lijun, Yovita Mbaju, membenarkan adanya video permintaan maaf tersebut. Ia mengatakan persoalan yang melibatkan Saimin juga telah mendapat perhatian aparat kepolisian.
Menurut Yovita, Kapolsek bersama sejumlah anggota polisi sempat mendatangi Saimin untuk bertemu langsung. Namun, pihak desa belum mengetahui secara rinci bagaimana kelanjutan proses penanganan perkara tersebut.
“Kemarin Kapolsek dan anggota datang bertemu oknum yang viral itu (Saimin). Namun, proses lanjutannya tidak tahu lagi,” kata Yovita.
Di sisi lain, pemerintah kecamatan mengakui bahwa jumlah bantuan yang diterima warga di lokasi tersebut memang terbatas.
Pelaksana Tugas Camat Elar, Timotius G.R. Madung, mengatakan peristiwa dalam video berlangsung pada Senin, 7 September 2026, ketika bantuan pemerintah daerah dibagikan kepada masyarakat melalui pemerintah desa dan kemudian diteruskan hingga tingkat RT.
“Terkait video itu tempatnya di Posko Nanga Lok pas pembagian bantuan pemerintah daerah melalui desa terus ke RT dibagikan ke warga-warga. Ada masyarakat yang tidak puas terhadap bantuan itu,” ujar Timotius.
Menurut dia, bantuan yang diberikan pada kesempatan tersebut memang bukan keseluruhan bantuan yang akan diterima warga selama masa penanganan pascabencana. Pemerintah, kata dia, masih berupaya melakukan distribusi secara bertahap.
“Karena bantuan itu diperuntukkan bagi semua warga yang terdampak bukan berarti bantuan sampai di situ saja, tetap diupayakan supaya ada bantuan-bantuan lain, bertahap,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan di Nanga Lok tidak semata-mata berkaitan dengan besar kecilnya satu paket sembako.
Distribusi bantuan pascabencana sangat bergantung pada kondisi geografis, akses menuju lokasi, pendataan penerima, serta kemampuan pemerintah memastikan bantuan tiba secara berkala.
Timotius menyebut Desa Golo Lijun termasuk wilayah yang menghadapi kendala dalam penyaluran bantuan. Jarak desa dari pusat Kecamatan Elar menjadi salah satu faktor yang membuat distribusi tidak semudah wilayah yang aksesnya lebih dekat.
Masalah komunikasi juga memperumit proses tersebut. Menurut Timotius, tidak adanya jaringan telepon di kawasan itu membuat koordinasi antara pemerintah kecamatan dan pemerintah desa menjadi lebih sulit.
Kondisi tersebut penting karena kebutuhan warga setelah bencana tidak berhenti ketika bantuan pertama tiba.
Ketika akses distribusi terbatas, jeda antara satu penyaluran dan penyaluran berikutnya dapat menjadi persoalan serius, terutama bagi warga yang kehilangan akses normal terhadap sumber makanan, tempat tinggal, maupun mata pencaharian.
Timotius menyebut warga Golo Lijun baru dua kali memperoleh bantuan sembako dari pemerintah sejak gempa. Pada saat yang sama, pemerintah harus membagi bantuan yang tersedia kepada masyarakat terdampak lainnya.
Ia pun meminta warga tetap menerima bantuan yang diberikan, sekalipun jumlahnya belum memenuhi seluruh kebutuhan. Jika warga memilih tidak menggunakannya, menurut dia, bantuan tersebut sebaiknya tidak dirusak karena masih banyak korban lain yang membutuhkannya.
“Saran saya, kita terima saja bantuan itu. Kalau menolak, tidak perlu diperlakukan seperti itu. Bantuan ini kan disumbangkan dari orang-orang melalui pemerintah, susah payah juga, dan masih ada warga yang sangat membutuhkan terkait bantuan itu,” tegas Timotius.
Kasus Nanga Lok pada akhirnya menunjukkan dua persoalan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, warga memiliki alasan untuk menyampaikan keluhan ketika bantuan yang diterima dirasakan belum mencukupi kebutuhan.
Di sisi lain, bentuk penyampaian kekecewaan tetap menjadi perhatian karena makanan merupakan kebutuhan mendasar yang seharusnya tidak berakhir terbuang, terlebih ketika masih ada korban bencana lain yang membutuhkan.
Bagi pemerintah, viralnya video tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan pascagempa tidak cukup diukur dari apakah bantuan telah dikirim.
Yang tak kalah penting adalah memastikan bantuan tiba secara rutin, jumlahnya sesuai kebutuhan lapangan, penerima terdata dengan baik, dan jalur komunikasi antara pemerintah dengan warga tetap berjalan.
Keterbatasan jaringan dan kondisi geografis memang menjadi tantangan nyata di daerah terpencil.
Namun, situasi tersebut sekaligus menuntut strategi distribusi yang lebih adaptif agar warga di lokasi sulit dijangkau tidak tertinggal dibandingkan korban bencana di wilayah yang aksesnya lebih mudah.
Sementara itu, permintaan maaf Saimin menutup salah satu babak dari polemik video tersebut. Tetapi persoalan kebutuhan warga Nanga Lok belum otomatis selesai.
Pemerintah daerah masih perlu memastikan penyaluran berikutnya benar-benar menjangkau masyarakat yang terdampak dan dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi korban gempa, bantuan bukan hanya soal menerima paket sembako. Ada kebutuhan untuk mendapatkan kepastian bahwa setelah bencana, mereka tidak dibiarkan menghadapi masa sulit seorang diri.
Karena itu, keluhan yang muncul dari Nanga Lok semestinya tidak berhenti sebagai kontroversi di media sosial, tetapi menjadi bahan evaluasi terhadap mekanisme distribusi bantuan di wilayah terpencil.
Dengan kebutuhan warga yang masih berlangsung dan akses yang menjadi kendala, konsistensi penyaluran bantuan akan menjadi bagian penting dari pemulihan masyarakat Manggarai Timur setelah gempa.
Polemik ini pada akhirnya dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki koordinasi, memperkuat pendataan, dan memastikan bantuan berikutnya sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.