INBERITA.COM, Kasus video yang memperlihatkan Lurah Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Syerly, menjadi sorotan publik setelah rekaman tersebut beredar luas di media sosial.
Dalam video itu, Syerly dinilai sebagian warganet melontarkan ucapan yang terkesan menyindir seorang warga yang tengah menyampaikan keluhan mengenai fasilitas penerangan jalan kepada Wali Kota Medan, Rico Waas.
Ramainya perbincangan di media sosial membuat peristiwa tersebut memicu beragam tanggapan. Tidak sedikit masyarakat yang menilai pejabat publik seharusnya menunjukkan empati ketika menerima aspirasi warga, terlebih saat persoalan yang disampaikan berkaitan dengan keamanan lingkungan.
Di sisi lain, muncul pula pandangan yang meminta publik menunggu penjelasan dari pihak terkait sebelum menarik kesimpulan.
Menanggapi polemik yang berkembang, Syerly akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Ia mengakui ucapannya dalam video telah menimbulkan persepsi negatif sehingga memicu kritik dari publik.
“Saya memohon maaf kepada publik karena itu murni karena spontanitas saya. Karena saya merasa dekat dan akrab serta sering bercanda kepada Ibu Ulfa, dan sebaliknya Ibu Ulfa pun demikian kepada saya, jadi terucap begitu saja,” ujar Syerly dalam keterangan tertulis yang diterima awak media.
Menurut Syerly, pernyataan yang menjadi perhatian publik tersebut tidak dimaksudkan untuk mengejek warga yang sedang menyampaikan keluhan.
Ia menjelaskan bahwa dirinya telah lama mengenal warga bernama Ulfa, bahkan memiliki hubungan kekeluargaan sehingga komunikasi di antara keduanya selama ini berlangsung akrab.
Ia mengatakan kedekatan tersebut membuat candaan sering terjadi dalam keseharian. Bahkan sebelum kunjungan Wali Kota Medan berlangsung, keduanya sempat berbincang mengenai waktu kedatangan kepala daerah tersebut.
“Dan saya sama si Ulfa ini sudah lama mengenal dan kita pun ada juga terkait dengan keluarga. Tiap harinya pun kita sering ketemu sapa. Bahkan waktu Pak Wali datang pun dia pun bertanya sama saya, ‘Bu, jam berapa, Bu, Pak Wali datang?’ ‘Sebentar lagi, ini lagi di jalan,’ sebelum Pak Wali datang,” jelasnya.
Selain memberikan klarifikasi mengenai ucapannya, Syerly juga menyinggung persoalan lampu penerangan jalan yang menjadi pokok keluhan warga.
Ia menyebut pemerintah kelurahan sebenarnya telah menyampaikan usulan kepada Dinas Perhubungan Kota Medan sejak sekitar satu tahun lalu. Namun hingga kini, usulan tersebut belum terealisasi.
“Kita sudah menyampaikan ke Dishub soal lampu jalan sejak setahun lalu. Cuman memang belum terealisasi sampai sekarang,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dikeluhkan warga bukanlah isu baru. Lampu penerangan jalan yang belum memadai menjadi perhatian masyarakat karena berkaitan langsung dengan rasa aman, terutama pada malam hari.
Di berbagai daerah, minimnya penerangan jalan kerap dikaitkan dengan meningkatnya potensi kecelakaan maupun tindak kriminalitas.
Karena itu, keluhan warga mengenai fasilitas publik sejatinya menjadi bagian penting dari proses penyelenggaraan pemerintahan.
Aspirasi yang disampaikan masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai kritik, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan.
Di tengah perhatian publik terhadap video tersebut, Inspektorat Kota Medan diketahui telah memanggil Syerly untuk dimintai klarifikasi. Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari proses internal guna mengetahui duduk perkara secara utuh.
Syerly membenarkan dirinya telah memenuhi panggilan tersebut. Namun ia tidak bersedia menjelaskan materi pemeriksaan karena menghormati mekanisme yang sedang berlangsung.
“Benar saya sudah dipanggil Inspektorat kemarin, tapi terkait detilnya saya rasa itu internal dari pihak inspektorat yang berwenang menjelaskan,” tuturnya.
Langkah Inspektorat melakukan klarifikasi dinilai sebagai bagian dari pengawasan terhadap aparatur sipil negara. Proses tersebut penting untuk memastikan setiap pejabat publik menjalankan tugasnya sesuai dengan etika pelayanan serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan.
Sebelumnya, video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang warga menyampaikan keluhan kepada Wali Kota Medan terkait kondisi lampu penerangan jalan umum di Jalan Paya Pasir.
Dalam penyampaiannya, warga mengaku terpaksa menggunakan dana pribadi untuk membeli sekaligus memasang lampu di lingkungan tersebut karena penerangan dinilai belum memadai.
Di tengah penyampaian aspirasi itu, terdengar ucapan “Cie curhat dia” yang diucapkan Syerly saat berdiri di samping Wali Kota Medan. Potongan video tersebut kemudian menyebar luas dan memunculkan berbagai penafsiran dari masyarakat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa komunikasi pejabat publik selalu berada dalam sorotan masyarakat, terutama ketika berlangsung di ruang terbuka dan terekam kamera.
Kalimat yang dimaksudkan sebagai candaan sekalipun dapat dipersepsikan berbeda apabila disampaikan dalam situasi yang melibatkan pelayanan publik dan penyampaian aspirasi warga.
Di sisi lain, permintaan maaf yang telah disampaikan Syerly menjadi bagian dari upaya meredakan polemik yang berkembang.
Meski demikian, perhatian publik kini juga tertuju pada tindak lanjut pemerintah terhadap keluhan warga mengenai lampu penerangan jalan, mengingat persoalan tersebut menyangkut keselamatan dan kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.
Kasus ini sekaligus menegaskan pentingnya komunikasi yang empatik dari setiap aparatur pemerintah.
Selain menyelesaikan persoalan infrastruktur yang menjadi kebutuhan masyarakat, cara merespons aspirasi warga juga menjadi faktor yang menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap pelayanan pemerintah.