Update Gempa Flores NTT: Terdata 68 Korban Jiwa, BNPB Perbarui Data Korban

INBERITA.COM, Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir pekan lalu telah menelan korban jiwa sebanyak 68 orang.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan jumlah tersebut tersebar di tujuh kabupaten di Pulau Flores hingga Senin sore.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah paling parah terdampak dengan 26 korban meninggal, disusul Kabupaten Manggarai Timur dengan 24 korban.

Sementara itu, Nagekeo mencatat delapan korban, Sikka empat korban, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing dua korban. BNPB mengakui proses pencarian korban masih berlangsung, sehingga data ini berpotensi terus bertambah.

Selain korban jiwa, sebanyak 213 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat gempa tersebut. BNPB menekankan bahwa proses pendataan korban dan penanganan darurat masih dilakukan secara menyeluruh di wilayah terdampak.

“Kami terus memantau dan memperbarui data korban secara berkala,” ujar Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Gempa utama yang terjadi pada Sabtu lalu juga diikuti oleh 1.576 gempa susulan. Salah satu gempa susulan tercatat berkekuatan magnitudo 6,21, sementara tiga lainnya memiliki kekuatan kecil.

Lebih dari 1.500 gempa susulan lainnya tidak dirasakan oleh masyarakat, namun BNPB tetap memantau aktivitas kegempaan untuk mengantisipasi dampak lanjutan.

Pemerintah pusat melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, memastikan percepatan pemulihan pascagempa menjadi prioritas utama.

Sejak hari pertama bencana, jajaran menteri dan pimpinan lembaga telah hadir di NTT untuk meninjau lapangan dan membahas strategi pemulihan.

“Kehadiran kami di lapangan menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendampingi masyarakat terdampak,” kata Pratikno.

Upaya pemulihan di NTT tidak hanya fokus pada penanganan korban, tetapi juga pemulihan infrastruktur dan fasilitas umum. BNPB menyebutkan bahwa proses ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan.

Masyarakat terdampak diharapkan dapat segera kembali ke kehidupan normal dengan dukungan yang diberikan.

Gempa Flores ini menambah daftar panjang bencana alam yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Wilayah NTT, yang terletak di zona rawan gempa, kerap mengalami bencana serupa.

Kondisi geografis dan aktivitas tektonik di kawasan ini menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai oleh pemerintah dan masyarakat.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang mungkin terjadi. Selain itu, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk memahami langkah-langkah mitigasi bencana guna mengurangi risiko di masa depan.

“Kesiapsiagaan adalah kunci untuk menghadapi bencana,” tegas Berton.

Sementara itu, proses evakuasi dan distribusi bantuan terus dilakukan di wilayah terdampak. BNPB bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan merata.

Masyarakat diimbau untuk melaporkan kondisi terkini kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Gempa Flores kali ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Pemerintah diharapkan dapat terus meningkatkan kapasitas dalam penanggulangan bencana untuk melindungi masyarakat dari dampak yang lebih luas.