INBERITA.COM, Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 16 Agustus 2026 telah menelan korban jiwa sebanyak 100 orang.
Jumlah tersebut terus bertambah karena korban luka berat yang dirawat di rumah sakit tidak mampu diselamatkan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, dalam konferensi pers pada Senin (24/8/2026), menjelaskan bahwa angka kematian meningkat dari 48 korban pada hari pertama dan kedua menjadi 100 korban hingga hari ini.
Sementara itu, sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena 180.327 jiwa masih terpaksa mengungsi akibat kerusakan parah pada hunian mereka.
BNPB mencatat total 73.818 unit rumah mengalami kerusakan dengan rincian 23.276 unit rusak berat, 17.563 unit rusak sedang, dan 32.979 unit rusak ringan.
Ironisnya, Presiden Republik Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan kehadiran untuk memberikan dukungan langsung kepada korban di lapangan.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada hunian warga. BNPB melaporkan sebanyak 1.915 fasilitas umum juga mengalami kerusakan, termasuk sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, dan infrastruktur vital lainnya.
Data ini masih bersifat sementara dan terus mengalami pembaruan seiring dengan proses pengumpulan data yang dilakukan secara bertingkat dari tingkat desa hingga nasional. Proses verifikasi melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan BNPB untuk memastikan akurasi informasi.
Gempa susulan yang terus terjadi sejak kejadian utama telah menambah beban psikologis masyarakat.
Hingga Senin (24/8/2026), tercatat 6.409 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1. Sebanyak 33 gempa susulan memiliki magnitudo sama atau lebih besar dari 5, sementara 139 kali gempa dirasakan oleh warga.
Kondisi ini membuat banyak masyarakat enggan kembali ke rumah meski hunian mereka hanya mengalami kerusakan ringan.
Ketakutan akan gempa susulan yang berulang membuat ribuan warga tetap bertahan di pengungsian. Suharyanto mengungkapkan bahwa meskipun aktivitas kegempaan menunjukkan tren penurunan dalam dua hari terakhir, masyarakat masih trauma.
Dalam 24 jam terakhir, hanya satu gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat. BMKG memperkirakan kondisi akan stabil dalam tiga hingga empat minggu ke depan, namun ketakutan warga belum sepenuhnya hilang.
Ironisnya, sementara ribuan warga NTT bergulat dengan dampak gempa, Presiden justru memilih hadir dalam acara pernikahan kepala sekretaris pribadi di Jakarta.
Keputusan tersebut menuai banyak kecaman dari masyarakat yang menilai kurangnya kepedulian pemerintah terhadap korban bencana.
Sementara itu, BNPB terus berupaya untuk mempercepat proses pemulihan. Suharyanto menegaskan bahwa lembaganya akan terus bekerja keras untuk memastikan semua korban mendapatkan bantuan yang layak. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak berwenang dalam menghadapi situasi pascagempa.
“Kami meminta masyarakat untuk tidak panik dan selalu siap dengan prosedur evakuasi yang telah ditetapkan,” katanya.
Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Banyak warga yang terpaksa tidur di tenda-tenda darurat karena ketakutan akan gempa susulan.
Pihak BNPB telah menyiapkan bantuan logistik berupa makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, distribusi bantuan masih terkendala oleh akses jalan yang rusak akibat gempa.
Gempa Flores telah meninggalkan luka yang dalam bagi masyarakat NTT. Selain kerugian materiil, trauma psikologis yang dialami warga membutuhkan waktu untuk pulih.
Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mempercepat proses pemulihan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.
Sementara itu, para ahli geologi terus memantau aktivitas kegempaan di wilayah tersebut. Mereka memperkirakan bahwa gempa susulan masih akan terus terjadi dalam beberapa minggu ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana.
BNPB telah mengeluarkan berbagai rekomendasi untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi gempa susulan. Langkah-langkah preventif ini diharapkan dapat meminimalisir dampak buruk dari bencana alam di masa mendatang.
Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk membantu masyarakat NTT bangkit dari keterpurukan. Solidaritas sosial dan kerja sama antarlembaga menjadi kunci dalam proses pemulihan pascagempa. Semua pihak diharapkan dapat bersatu padu untuk memberikan yang terbaik bagi korban bencana.