INBERITA.COM, Konflik Rusia dan Ukraina kembali memasuki babak yang memicu perhatian internasional setelah pemerintah Ukraina mengungkap dugaan penggunaan rudal balistik buatan Korea Utara dalam serangan terbaru yang menghantam sejumlah wilayah negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Presiden Volodymyr Zelensky setelah gelombang serangan udara Rusia menewaskan warga sipil dan merusak permukiman, termasuk di sekitar Kyiv serta wilayah Kryvyi Rih.
Jika dugaan tersebut terbukti melalui investigasi forensik, insiden ini akan semakin memperkuat tudingan bahwa kerja sama militer antara Moskow dan Pyongyang terus berkembang di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
“Data awal menunjukkan rudal yang digunakan untuk menyerang wilayah kami berasal dari Korea Utara,” kata Presiden Volodymyr Zelensky.
Menurut laporan militer Ukraina, serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal dan ratusan pesawat nirawak pada malam hari.
Keterbatasan amunisi sistem pertahanan udara membuat tidak seluruh proyektil berhasil dicegat sehingga sejumlah kawasan permukiman ikut menjadi sasaran.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Desa Radushne, wilayah Kota Kryvyi Rih. Sebuah rumah dilaporkan hancur setelah dihantam rudal balistik. Zelensky mengatakan lima anggota satu keluarga meninggal dunia, terdiri atas pasangan suami istri dan tiga anak mereka.
Proses pencarian korban masih terus dilakukan karena empat anggota keluarga lainnya, termasuk seorang balita berusia sekitar satu setengah tahun, belum dipastikan keberadaannya saat pernyataan tersebut disampaikan.
Di sisi lain, militer Ukraina mengungkapkan temuan awal dari sistem radar pertahanan udara.
Seorang sumber militer menyebut lintasan rudal yang terdeteksi memiliki karakteristik yang mirip dengan rudal balistik jarak pendek KN-23 atau KN-24, dua sistem persenjataan yang dikembangkan Korea Utara.
Berdasarkan analisis awal tersebut, radar menangkap dua lintasan yang mengindikasikan sedikitnya empat rudal ditembakkan menuju kawasan Kryvyi Rih.
Meski demikian, aparat keamanan menegaskan identifikasi akhir baru dapat dipastikan setelah tim forensik memeriksa pecahan rudal yang ditemukan di lokasi ledakan.
Dugaan penggunaan rudal Korea Utara bukanlah isu baru dalam perang Rusia-Ukraina. Sejak penghujung 2023, berbagai laporan intelijen Barat telah menyebut Rusia mulai memanfaatkan rudal KN-23 dan KN-24 dalam operasi militernya.
Kedua rudal itu dikenal memiliki daya ledak besar dan jangkauan lebih jauh dibanding sebagian rudal balistik Rusia, meski tingkat akurasinya dinilai lebih rendah.
Keterlibatan persenjataan dari negara lain membuat konflik Ukraina semakin kompleks. Selain memperpanjang kemampuan tempur Rusia, kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sanksi internasional terhadap Korea Utara yang selama ini bertujuan membatasi pengembangan dan distribusi teknologi persenjataan negara tersebut.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Rusia maupun Korea Utara terkait pernyataan terbaru yang disampaikan Presiden Zelensky.
Sementara itu, penyelidikan atas asal-usul rudal yang digunakan dalam serangan masih terus berlangsung untuk memastikan bukti teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.