Turki Tahan Diri Tak Jadi Balas Serangan Israel di Abu Al-Duhur Meski Sudah Kirim Alutista

INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah Israel melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Suriah, namun respons Turki justru menjadi kunci untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Laporan wartawan menyebutkan bahwa serangan Israel ke pangkalan Abu Al-Duhur di barat daya Suriah pada Selasa lalu tidak memicu reaksi keras dari Ankara, meskipun Damaskus menuding adanya upaya provokasi dari Tel Aviv.

Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, menegaskan bahwa kunjungan pejabat militer Turki ke pangkalan tersebut hanya untuk latihan rutin, bukan persiapan pengerahan pasukan permanen.

Pemerintah Suriah meyakini bahwa serangan Israel yang menargetkan landasan pacu dan gudang senjata di Abu Al-Duhur memiliki motif politik internal.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, diduga mencoba mengalihkan perhatian publik menjelang pemilu nasional pada Oktober 2026.

Sementara itu, sumber dekat pemerintah Suriah mengungkapkan bahwa Damaskus tengah berupaya menjalin kesepakatan keamanan dengan Israel melalui perantara Amerika Serikat dan Prancis.

Upaya ini juga mencakup renegosiasi perjanjian zona penyangga tahun 1974 yang mengatur batas wilayah pasca perang Arab-Israel 1973.

Kantor Perdana Menteri Israel membantah tudingan Suriah dengan menyatakan bahwa negara tersebut hampir melanggar kesepakatan keamanan dengan mengizinkan pasukan Turki berada di wilayah strategis.

Namun, Kementerian Pertahanan Turki membantah keras klaim tersebut dan menekankan tidak ada delegasi militer Ankara yang mengunjungi pangkalan Abu Al-Duhur sebelum maupun sesudah serangan.

Sumber resmi Turki menegaskan dukungan penuh terhadap Suriah dalam ranah diplomasi dan pertahanan, sembari mendesak Washington untuk menekan Israel agar tidak melakukan tindakan lebih lanjut.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki, Tom Barrack, menilai serangan Israel sebagai “eskalasi yang tak perlu” dan mengakui bahwa kurangnya pemberitahuan awal sempat memicu pertimbangan respons keras dari Ankara.

Namun, Barrack menyatakan bahwa Turki akhirnya memilih untuk menahan diri guna mencegah konflik yang lebih luas.

Ia juga mengungkapkan bahwa Washington saat ini tengah membangun jalur diplomasi antara ketiga negara untuk menghindari bentrokan yang tidak diinginkan.

Dalam konteks regional yang kompleks, sikap Turki yang tidak membalas serangan Israel menjadi sorotan utama. Analis geopolitik menyoroti bahwa keputusan Ankara untuk tidak terlibat dalam aksi militer menunjukkan prioritas diplomasi di atas konfrontasi.

Meskipun Suriah terus mencari dukungan internasional, termasuk dari Prancis, upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan dalam meredam ketegangan.

Sementara itu, Israel tetap pada posisinya dengan mengklaim tindakan tersebut sebagai respons terhadap ancaman keamanan yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Para pengamat internasional menekankan pentingnya saluran komunikasi yang lebih efektif antara ketiga negara untuk mencegah kesalahpahaman yang berujung pada konflik terbuka.

Keterlibatan Amerika Serikat sebagai mediator diharapkan dapat memberikan stabilitas di kawasan yang selama ini rawan terhadap eskalasi tak terduga.

Dengan demikian, perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun ketegangan meningkat, ada ruang bagi solusi diplomatik untuk diupayakan sebelum situasi memburuk lebih jauh.