Trump Sebut Pemimpin Iran Bisa Dilenyapkan dengan “Satu Tembakan” saat Pemakaman Khamenei, Teheran Bereaksi Keras

INBERITA.COM, Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah ia mengklaim seluruh jajaran pemimpin negara tersebut dapat diserang dalam satu operasi ketika menghadiri prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

Meski demikian, Trump menegaskan skenario itu tidak akan dilakukan karena Washington masih membuka peluang perundingan dengan Teheran.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengaku mengikuti perkembangan prosesi penghormatan terakhir bagi mantan Pemimpin Tertinggi Iran tersebut.

Ia mengatakan terkejut melihat besarnya jumlah pelayat yang hadir dalam upacara tersebut.

“Mereka semua ada di sana. Satu tembakan dan kita bisa melenyapkan mereka semua, tetapi kita tidak akan melakukan itu karena kemudian kita tidak akan punya siapa pun untuk diajak bernegosiasi,” ujar Trump.

Trump juga menyatakan pemerintahannya sengaja memberikan jeda selama sepekan terhadap proses yang sedang berlangsung dengan Iran sebagai bentuk penghormatan terhadap rangkaian pemakaman.

Menurutnya, kedua pihak menunda pembicaraan hingga prosesi berkabung selesai.

Ucapan tersebut segera mendapat respons keras dari Iran. Kedutaan Besar Iran di Yerevan melalui media sosial X menilai pernyataan Presiden AS sebagai tindakan yang tidak menghormati proses berkabung sekaligus menegaskan bahwa sosok Khamenei mungkin telah wafat, tetapi gagasan yang diperjuangkannya tidak akan hilang.

Dalam pernyataannya, perwakilan diplomatik Iran menulis bahwa seseorang dapat dibunuh, tetapi cita-cita tidak dapat dimusnahkan.

Mereka juga menggunakan metafora bahwa membunuh Khamenei sama seperti memecahkan botol parfum yang justru membuat aromanya menyebar lebih luas.

Sementara itu, prosesi penghormatan terakhir terhadap Ali Khamenei masih berlangsung di Mosalla Agung Imam Khomeini, Teheran.

Jenazah disemayamkan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat dan tamu kenegaraan menyampaikan penghormatan sebelum rangkaian pemakaman berlanjut ke sejumlah kota suci hingga pemakaman terakhir di Mashhad.

Ribuan pelayat terus memadati lokasi pemakaman sambil membawa bendera Iran dan bendera merah yang menjadi simbol tuntutan pembalasan.

Di tengah kerumunan juga terdengar seruan anti-Amerika yang menggambarkan masih tingginya ketegangan politik antara kedua negara.

Pernyataan Trump muncul ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam fase yang sensitif.

Meski kedua pihak disebut masih membuka ruang diplomasi, retorika keras dari kedua kubu menunjukkan bahwa situasi kawasan tetap berpotensi berkembang dinamis dalam beberapa waktu ke depan.