INBERITA.COM, Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada Selasa dini hari, 24 Maret 2026. Sepasang suami istri (pasutri) ditemukan tewas di dalam mobil mereka, diduga akibat keracunan gas karbon monoksida (CO).
Kejadian ini terjadi saat pasangan tersebut sedang beristirahat di perjalanan mudik mereka.
Menurut informasi sementara, kedua korban diduga meninggal karena gas karbon monoksida yang terakumulasi di dalam kendaraan mereka.
Keracunan ini terjadi akibat mesin mobil yang masih menyala dan kebocoran pada sistem pembuangan gas (exhaust), yang memungkinkan gas berbahaya tersebut masuk ke dalam kabin mobil.
Terkait dengan bahaya gas karbon monoksida, penjelasan lebih rinci disampaikan oleh dr. Adam Prabata, seorang dokter yang juga aktif di media sosial.
Melalui akun media sosialnya, dr. Adam menjelaskan bahwa gas karbon monoksida bisa sangat berbahaya apabila seseorang berada di dalam mobil dengan mesin menyala, terlebih jika ada kebocoran pada sistem exhaust.
“Pembakaran mesin di mobil dapat menghasilkan gas CO, yang bila ada kebocoran pada sistem exhaust, dapat terakumulasi di dalam kabin mobil. Lebih bahaya lagi, bila jendelanya ditutup dan akhirnya gas tersebut menumpuk di dalam mobil,” tulis dr. Adam dalam akun X @AdamPrabata pada Rabu, 25 Maret 2026.
Karbon monoksida sering disebut sebagai “silent killer” karena gas ini tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa.
Meskipun gas ini sulit dikenali, keracunan CO bisa menimbulkan gejala yang tidak khas dan sering kali tidak disadari oleh korban. Beberapa gejala awal yang bisa muncul antara lain sakit kepala, pusing, lemas, mual, kebingungan, dan rasa mengantuk.
Dokter Adam juga menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, korban yang terpapar gas karbon monoksida saat tidur bisa meninggal tanpa menyadari gejala yang muncul sebelumnya.
Hal ini disebabkan oleh cara kerja gas CO yang terikat dengan hemoglobin dalam darah, membentuk carboxyhemoglobin (COHb), yang menghalangi kemampuan darah untuk mengangkut oksigen secara efektif ke seluruh tubuh.
“Gas CO yang terhirup akan berikatan dengan hemoglobin dalam darah dan membentuk carboxyhemoglobin (COHb). Ikatan ini jauh lebih kuat dibandingkan oksigen, sehingga hemoglobin tidak lagi mampu mengangkut oksigen dengan baik. Akibatnya, tubuh mengalami kondisi yang disebut Hipoksia, yaitu kekurangan oksigen pada jaringan,” ujar dr. Adam.
Ketika tubuh kekurangan oksigen, organ-organ vital seperti otak dan jantung menjadi yang paling terdampak. Dampak lebih lanjut dari keracunan CO termasuk gangguan sistem saraf, nyeri dada, gangguan irama jantung (aritmia), penurunan kesadaran, hingga kematian.
Untuk mencegah kejadian serupa, dr. Adam memberikan beberapa langkah pencegahan yang perlu diperhatikan oleh masyarakat.
Pertama, ia mengingatkan agar tidak tidur di dalam mobil dengan mesin yang menyala dan kondisi mobil yang tertutup rapat. Hal ini karena gas karbon monoksida bisa mudah terperangkap di dalam kabin mobil jika jendela tidak dibuka.
Selain itu, sangat penting untuk tidak menyalakan mobil di garasi tertutup, meskipun pintu garasi terbuka.
Gas CO dapat menumpuk dan terkonsentrasi dalam ruang tertutup, bahkan jika ada ventilasi.
Jika seseorang merasa terpapar gas karbon monoksida, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera keluar dari kendaraan dan mencari udara segar.
Matikan sumber gas tersebut jika memungkinkan dan segera cari pertolongan medis untuk penanganan lebih lanjut.
Keracunan karbon monoksida di dalam kendaraan adalah salah satu bahaya yang sering terabaikan, terutama ketika kendaraan diparkir atau berhenti dalam keadaan mesin menyala, tanpa ventilasi yang cukup.
Kasus tragis ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan keselamatan saat berkendara, terutama dalam perjalanan panjang atau mudik.
Kejadian yang menimpa sepasang suami istri di Pidie Jaya ini harus menjadi perhatian kita semua agar tidak ada lagi korban akibat kelalaian sederhana, namun berbahaya seperti ini.
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan selalu memastikan bahwa kendaraan dalam kondisi aman sebelum digunakan, serta memastikan ventilasi yang cukup untuk menghindari paparan gas karbon monoksida.
Dengan memperhatikan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan kejadian serupa dapat dihindari dan keselamatan perjalanan bisa lebih terjaga, baik saat mudik maupun dalam aktivitas berkendara sehari-hari.