INBERITA.COM, Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan yang menimpa rombongan biksu di Provinsi Mukdahan, Thailand, terus bertambah.
Hingga perkembangan terbaru, sedikitnya 10 biksu dinyatakan meninggal dunia setelah sebuah mobil bak terbuka menabrak rombongan yang sedang berjalan kaki dalam perjalanan ziarah.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (2/7) di Jalan Raya 2034, wilayah timur laut Thailand. Insiden itu menyita perhatian publik karena kendaraan dikemudikan oleh seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang diketahui memiliki kebutuhan khusus.
Berdasarkan keterangan otoritas setempat, kendaraan yang digunakan merupakan milik sang kakek. Anak tersebut diduga mengambil dan mengemudikan mobil tanpa seizin keluarga sebelum akhirnya kehilangan kendali dan menabrak rombongan peziarah.
Lima biksu dilaporkan meninggal di lokasi kejadian akibat benturan keras. Sementara lima korban lainnya mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena mengalami luka berat.
Rombongan yang menjadi korban terdiri atas 34 biksu dan lima umat awam dari Wat Pho Manorom. Mereka tengah melakukan perjalanan menuju Ubon Ratchathani sebagai bagian dari kegiatan keagamaan ketika kecelakaan terjadi.
Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan, sebelum mobil melaju, nenek pelaku sempat berusaha menghentikan cucunya. Anak tersebut disebut mengunci diri di dalam kendaraan sehingga upaya keluarga untuk mencegah mobil dijalankan tidak berhasil.
Selain korban meninggal dunia, sejumlah biksu lainnya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Mukdahan. Sebagian korban mengalami patah tulang, cedera serius, hingga trauma pada kepala yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
Kecelakaan ini memicu keprihatinan luas di Thailand, mengingat rombongan yang menjadi korban sedang menjalankan aktivitas keagamaan.
Tragedi tersebut juga kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap kendaraan serta perlindungan bagi pejalan kaki, terutama dalam kegiatan yang melibatkan banyak peserta.
Dari sisi perlindungan korban, kendaraan tersebut tercatat memiliki asuransi wajib. Skema pertanggungan menyediakan dana hingga 20 juta baht untuk seluruh korban.
Keluarga setiap korban meninggal berhak memperoleh santunan sebesar 500.000 baht, sedangkan korban luka memperoleh kompensasi 80.000 baht beserta biaya pengobatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Di luar aspek finansial, perhatian juga diberikan kepada keluarga korban dan komunitas keagamaan yang terdampak.
Pemimpin tertinggi biksu Buddha di Thailand telah menyetujui pelaksanaan prosesi pemakaman seluruh biksu yang meninggal di bawah tanggung jawab lembaga keagamaan. Bantuan juga disalurkan kepada para biksu yang masih menjalani pemulihan.
Perkembangan kasus ini turut memunculkan pembahasan mengenai aspek hukum.
Menurut penjelasan pejabat dari Departemen Pelindungan Hak-hak dan Bantuan Hukum Thailand, anak yang mengemudikan kendaraan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana karena usianya belum mencapai 12 tahun, sesuai ketentuan hukum yang berlaku di negara tersebut.
Meski demikian, aturan di Thailand tetap memberikan ruang bagi keluarga korban untuk mengajukan gugatan ganti rugi secara perdata kepada orang tua atau wali dari anak yang menyebabkan kecelakaan.
Otoritas setempat disebut terus memberikan pendampingan dan informasi kepada keluarga korban mengenai hak-hak yang dapat mereka tempuh.
Kasus ini juga menjadi pengingat mengenai kompleksitas penanganan perkara yang melibatkan anak di bawah umur. Di satu sisi, hukum memberikan perlindungan khusus kepada anak.
Di sisi lain, keluarga korban tetap memiliki hak untuk memperoleh kompensasi melalui mekanisme hukum yang tersedia.
Hingga kini, proses penanganan para korban yang masih dirawat terus berlangsung. Pihak rumah sakit berupaya memberikan perawatan terbaik bagi mereka yang mengalami cedera berat, sementara aparat berwenang masih mendalami seluruh rangkaian kejadian untuk melengkapi proses investigasi.
Tragedi di Mukdahan meninggalkan duka mendalam bagi komunitas Buddha di Thailand.
Kehilangan sepuluh biksu dalam satu peristiwa menjadi salah satu kecelakaan yang paling menyita perhatian dalam beberapa waktu terakhir dan memunculkan harapan agar langkah-langkah pencegahan dapat diperkuat sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.