Tragedi Balon Udara di Pekalongan: Petasan Rakitan Meledak Sebelum Diterbangkan, Empat Remaja Terluka Parah hingga Patah Tulang

INBERITA.COM, Empat orang remaja di Desa Paweden, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, harus menanggung akibat serius akibat ledakan petasan rakitan yang terjadi saat mereka tengah merayakan tradisi dengan menerbangkan balon udara.

Tragedi ini menimpa mereka pada Jumat pagi (20/2/2026) sekitar pukul 05.30 WIB di Jalan Baru Pematang Sawah.

Peristiwa tersebut berawal saat para remaja ini tengah merakit petasan yang rencananya akan dipasangkan pada balon udara.

Namun, sebelum sempat diterbangkan, petasan tersebut tiba-tiba meledak, menyebabkan luka serius pada keempat korban yang langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.

Menurut keterangan resmi dari Polres Pekalongan Kota, melalui Ps Kasi Humas Iptu Purno Utomo, kejadian bermula ketika para remaja tersebut mencoba menggabungkan petasan dengan balon udara.

“Saat petasan hendak ditautkan pada balon udara, benda tersebut tiba-tiba meledak sebelum sempat diterbangkan dan mengenai para korban,” ungkap Iptu Purno dalam keterangan resminya, Sabtu (21/2/2026).

Akibat ledakan tersebut, dua korban kini masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Salah satu korban bahkan harus dirujuk ke RSUP Kariadi Semarang karena mengalami cedera permanen pada bola mata akibat terkena dampak ledakan petasan tersebut.

Manajer Pelayanan Medis di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan, dr. Maria Ulfa, mengonfirmasi bahwa dua korban yang ditangani di rumah sakit tersebut dalam kondisi kritis.

Salah satunya adalah korban berinisial MAA (11), yang mengalami luka robek di bagian tangan kanan dan cedera pada tulang. Sementara itu, korban lainnya, MKF (14) asal Banyurip Ageng, mengalami luka parah pada bola mata kiri.

“Karena terdapat luka robek pada bola mata, pasien memerlukan penanganan spesialis mata lanjutan. Saat ini pasien sedang dalam proses transfer ke rumah sakit rujukan di RSUP Kariadi Semarang,” jelas dr. Maria.

Peristiwa tragis ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Pekalongan, terutama menjelang bulan Ramadan.

Petasan rakitan yang kerap dikaitkan dengan tradisi pelepasan balon udara, sering kali menimbulkan bahaya bagi masyarakat, terutama anak-anak. Hal ini semakin memprihatinkan mengingat risiko yang ditimbulkan dapat sangat fatal.

Dalam menanggapi kejadian ini, pihak Polres Pekalongan Kota tidak tinggal diam. Mereka kini menggencarkan upaya represif untuk mencegah peredaran bahan peledak rakitan.

Sebelumnya, pihak kepolisian telah berhasil mengamankan seorang pria berinisial C alias H di daerah Ulujami, dengan barang bukti berupa tiga kilogram bubuk yang diduga akan digunakan untuk membuat petasan.

Iptu Purno Utomo mengimbau agar masyarakat, khususnya orang tua, lebih waspada terhadap aktivitas berbahaya yang sering kali dilakukan oleh anak-anak selama bulan Ramadan.

“Jangan sampai tradisi yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan berubah menjadi tragedi yang mengancam keselamatan jiwa,” tegasnya.

Polres Pekalongan Kota juga terus mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam merayakan tradisi, terutama yang melibatkan bahan peledak.

Polisi berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi warga Pekalongan dan sekitarnya tentang potensi bahaya yang mengintai ketika menggunakan bahan peledak rakitan untuk merayakan tradisi, seperti dalam hal pelepasan balon udara.

Peristiwa tragis ini tidak hanya mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan dalam merayakan tradisi, tetapi juga menunjukkan betapa rentannya anak-anak terhadap bahaya yang berasal dari kegiatan yang tidak diawasi.

Kejadian serupa sebelumnya sudah pernah terjadi, namun nyatanya tetap ada pihak-pihak yang tak memedulikan keselamatan dan terus merakit petasan tanpa mempertimbangkan risiko besar yang ada.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan petasan rakitan selama Ramadan menjadi isu yang cukup serius.

Selain menimbulkan risiko bagi keselamatan, petasan juga mengganggu ketertiban umum. Polisi pun semakin intensif dalam memerangi peredaran bahan peledak ilegal, mengingat dampak yang bisa ditimbulkan sangatlah besar.

Di sisi lain, masyarakat diharapkan dapat lebih bijaksana dalam menyikapi tradisi dan kebiasaan yang sudah ada, serta lebih memperhatikan keselamatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pengawasan ketat terhadap anak-anak menjadi hal yang tak kalah penting agar perayaan tidak berubah menjadi tragedi yang tak diinginkan.

Ke depan, pihak berwajib akan terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih memahami bahaya petasan rakitan dan tidak terjebak dalam tradisi yang berisiko tinggi.

Apalagi, saat ini banyak anak-anak yang tergoda untuk membuat dan bermain dengan petasan tanpa menyadari bahaya yang mengancam.

Pihak berwenang berharap, kejadian-kejadian serupa bisa diminimalisir agar keselamatan jiwa masyarakat tetap terjaga.

Kejadian ini semakin mempertegas bahwa tradisi yang baik sekalipun, jika tidak dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, dapat berakhir dengan tragedi yang sangat merugikan banyak pihak.