INBERITA.COM, Amerika Serikat dan Kanada kini berada pada titik panas akibat sengketa dagang yang memanas antara kedua negara. Konflik ekonomi ini menyeret produsen pesawat asal Kanada, Bombardier, setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman keras.
Trump mengancam akan menghentikan penjualan pesawat Bombardier di wilayah Amerika Serikat. Kebijakan ini muncul di tengah eskalasi tarif dan balasan kebijakan dagang antara Washington dan Ottawa.
Semuanya berawal dari tarif yang diterapkan Presiden Trump pada masa jabatan keduanya di bidang perdagangan. Tarif tinggi ini menyasar berbagai produk asal Kanada dan memicu respons balasan dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Kanada membalas dengan mengenakan tarif terhadap ratusan produk AS melalui kebijakan bertajuk dollar for dollar. Nilai barang AS yang dikenai tarif mencapai US$20 miliar atau sekitar Rp 354,1 triliun.
Gedung Putih merespons kembali dengan mengumumkan larangan total terhadap sejumlah produk Kanada. Minuman beralkohol, produk susu, dan sepeda motor asal Kanada dibatasi aksesnya ke AS mulai 29 September.
Trump juga menginstruksikan General Services Administration agar menyatakan produk Kanada tidak memenuhi syarat bagi kontrak federal berskala besar.
Ketegangan semakin meningkat ketika Google dan Apple mengubah tampilan peta mereka untuk pengguna di AS dengan mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika.
Warga Kanada merespons situasi ini dengan mengurangi perjalanan ke Amerika secara drastis. Mereka juga melakukan boikot terhadap berbagai produk asal Amerika Serikat.
Produsen pesawat Bombardier turut terseret dalam pusaran perang dagang kedua negara. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan tak akan ada lagi penjualan Bombardier di AS jika perusahaan tidak memproduksi pesawatnya di Amerika.
“TIDAK ADA LAGI PENJUALAN BOMBARDIER DI AMERIKA SERIKAT! Produk mereka tidak cukup bagus!” tulis Trump, beberapa jam sebelum tarif Kanada terhadap barang-barang AS senilai US$20 miliar mulai berlaku.
Ancaman tersebut langsung menekan saham Bombardier yang turun sekitar 3% pada perdagangan kemarin. Namun, analis mempertanyakan apakah Trump memiliki kewenangan hukum untuk benar-benar memblokir penjualan pesawat tersebut.
Para analis memperingatkan bahwa kebijakan itu justru dapat merugikan pembeli dan pemasok domestik di Amerika Serikat.
“Pasar jet bisnis tetap sangat ketat secara historis, dan larangan terhadap produk Bombardier akan sangat mengganggu pelanggan AS,” kata analis Stifel dalam laporannya, seperti dikutip CBS News.
Bombardier merupakan salah satu dari tiga produsen jet bisnis terbesar di dunia. Perusahaan ini mengkhususkan diri pada pembuatan pesawat berukuran menengah hingga besar.
Meskipun berpusat di Kanada, fasilitas produksi dan perakitan Bombardier tersebar di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Pelanggan mereka mencakup individu kaya, perusahaan, pemerintah, hingga militer.
Amerika Serikat memegang peranan penting dalam operasional harian perusahaan dirgantara tersebut. Bombardier memiliki pekerja di 20 negara bagian AS dan menggandeng sekitar 2.800 perusahaan pemasok di 47 negara bagian.
“Bombardier menghargai kemitraan yang erat dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan para karyawannya di AS,” kata perusahaan tersebut.
Hubungan bisnis lintas batas ini bernilai sangat besar bagi perekonomian kedua negara. Bombardier membelanjakan lebih dari US$2,5 miliar atau sekitar Rp44 triliun setiap tahun kepada berbagai pemasok di AS.
Jet jenis Challenger buatan mereka bahkan menggunakan mesin yang diproduksi oleh Honeywell di Phoenix, Arizona. Selain itu, bagian sayap dan berbagai komponen pesawat juga diproduksi langsung di fasilitas Bombardier di Amerika Serikat.
Tekanan politik dari ancaman Trump turut memicu penolakan dari berbagai pihak di dalam negeri AS. Senator Partai Republik asal Kansas turut membela keberadaan fasilitas Bombardier di wilayah tersebut.
Serikat pekerja manufaktur penerbangan IAM juga menolak ancaman pelarangan penjualan pesawat tersebut. Mereka memperingatkan bahwa kebijakan restriksi dapat mengganggu lapangan kerja serta industri kedirgantaraan di AS dan Kanada.
Berdasarkan data Stifel, Bombardier memperoleh lebih dari 50% komponen pesawatnya dari produsen di Amerika Serikat. Eskalasi perang dagang dikhawatirkan justru akan memukul rantai pasok industri kedirgantaraan kedua negara secara telak.
Daniel Béland, seorang pakar ilmu politik di Universitas McGill, turut memberikan komentar terhadap situasi politik yang memanas ini.
“Setelah mengganti nama teluk dan danau, mungkin langkah selanjutnya bagi dia adalah mengganti nama sungai?” ujar Daniel Béland.
Pihak Kanada juga menegaskan bahwa langkah perlawanan yang mereka ambil bertujuan untuk menjaga kedaulatan ekonomi negara.
“Ini tentang memastikan tidak ada negara yang bisa menyandera kita. Dan bahwa kita bisa menjalani hidup sesuai keinginan kita,” ujarnya.