INBERITA.COM, Temuan sebuah perangkat yang diduga alat pelacak di kendaraan pribadi eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025 memicu perhatian publik.
Peristiwa tersebut mencuat setelah Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan benda elektronik yang disebutnya terpasang di bawah mobil yang digunakannya.
Pengakuan tersebut muncul tidak lama setelah Tiyo mengikuti aksi Gejayan, sebuah agenda demonstrasi yang selama ini identik dengan penyampaian aspirasi dan kritik terhadap berbagai kebijakan publik.
Temuan itu pun memunculkan berbagai reaksi, mulai dari kekhawatiran mengenai keamanan aktivis mahasiswa hingga perdebatan mengenai perlindungan kebebasan berekspresi di ruang demokrasi.
Dalam unggahan yang beredar di media sosial, Tiyo menjelaskan bahwa keberadaan perangkat tersebut pertama kali diketahui setelah telepon genggamnya menampilkan notifikasi yang dianggap tidak biasa.
Pemberitahuan itu kemudian mendorong dirinya bersama rekan-rekannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan.
“Teman-teman sekalian bisa dilihat, ini adalah alat pelacak yang namanya PBX Finder. Saya tahu ini karena muncul di notifikasi ponsel saya,” kata Tiyo dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Minggu (14/6/2026).
Setelah menerima notifikasi tersebut, ia mengaku langsung melakukan pengecekan fisik terhadap mobil yang digunakan. Dari hasil pemeriksaan itu, ditemukan sebuah perangkat elektronik yang terpasang di bagian bawah kendaraan.
“Kemudian tadi kita cari dan kita temukan alat pelacak ini ada di bawah kendaraan, dipasang entah oleh siapa,” ujarnya.
Hingga kini belum terdapat penjelasan resmi mengenai asal-usul perangkat tersebut maupun pihak yang diduga memasangnya.
Belum diketahui pula apakah benda yang ditemukan benar-benar merupakan alat pelacak aktif atau memerlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut untuk memastikan fungsi sebenarnya.
Meski demikian, temuan tersebut langsung memunculkan spekulasi dan perhatian luas di kalangan mahasiswa serta masyarakat yang mengikuti perkembangan isu kebebasan sipil.
Apalagi, peristiwa itu terjadi setelah Tiyo terlibat dalam kegiatan penyampaian aspirasi yang menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah.
Dalam keterangannya, Tiyo menilai kejadian tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap pihak-pihak yang menyuarakan kritik.
Ia mengaitkan temuan perangkat itu dengan situasi demokrasi yang menurutnya harus memberikan ruang aman bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat.
“Tapi yang jelas ini adalah suatu kejadian yang sangat menjijikan, yang menunjukan betapa menjijikannya juga rezim yang hari ini sedang berkuasa,” tegasnya.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perbincangan luas di berbagai platform media sosial.
Sebagian pihak menyatakan dukungan terhadap upaya pengungkapan fakta di balik temuan tersebut, sementara lainnya meminta agar dilakukan verifikasi dan investigasi lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab.
Kasus ini kembali mengangkat isu lama mengenai keamanan aktivis mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil yang aktif menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik.
Dalam sejarah demokrasi Indonesia, mahasiswa kerap menjadi salah satu elemen penting yang berperan dalam mengawal jalannya pemerintahan melalui berbagai bentuk advokasi, kajian, maupun aksi demonstrasi.
Karena itu, setiap dugaan ancaman terhadap aktivis mahasiswa biasanya mendapatkan perhatian serius dari publik. Selain menyangkut keselamatan individu, persoalan tersebut juga berkaitan dengan prinsip kebebasan berpendapat yang dijamin dalam sistem demokrasi.
Di sisi lain, sejumlah pihak menilai pentingnya pendekatan berbasis fakta dalam menanggapi peristiwa tersebut.
Pemeriksaan terhadap perangkat yang ditemukan dinilai menjadi langkah awal yang diperlukan untuk mengetahui fungsi alat, sumber pemasangan, serta kemungkinan motif di balik keberadaannya.
Perkembangan teknologi saat ini memang memungkinkan penggunaan berbagai jenis perangkat pelacak untuk kebutuhan yang beragam.
Sebagian digunakan untuk kepentingan keamanan kendaraan atau manajemen armada, sementara yang lain dapat dimanfaatkan untuk tujuan pengawasan tertentu. Karena itu, identifikasi teknis menjadi aspek penting sebelum kesimpulan lebih jauh dapat diambil.
Terlepas dari polemik yang muncul, Tiyo menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak akan mengubah sikap kritis yang selama ini ia dan rekan-rekannya jalankan.
Menurutnya, kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk ikut mengawasi jalannya pemerintahan dan mendorong perbaikan kebijakan.
Ia juga menekankan bahwa berbagai bentuk tekanan tidak semestinya menjadi alasan untuk menghentikan partisipasi warga negara dalam kehidupan demokrasi.
“Kita yang mengkritik untuk perbaikan bangsa dengan ketulusan cinta justru dibalas dengan ancaman dan marabahaya. Mari rekan-rekan kita pastikan bahwa semakin ditekan semakin melawan, semakin diteror semakin gacor,” pungkasnya.
Peristiwa ini diperkirakan masih akan menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu ke depan.
Banyak pihak menunggu adanya klarifikasi lebih lanjut terkait perangkat yang ditemukan serta kemungkinan langkah hukum atau investigasi yang akan dilakukan untuk mengungkap fakta di balik kejadian tersebut.
Bagi kalangan mahasiswa, kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang demokrasi membutuhkan jaminan keamanan bagi setiap warga negara yang menyampaikan pendapat secara damai.
Sementara bagi aparat dan pemangku kepentingan terkait, transparansi dalam mengungkap fakta menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan setiap dugaan ancaman dapat ditangani secara profesional.
Dengan belum adanya kepastian mengenai asal-usul perangkat tersebut, fokus utama saat ini adalah memastikan proses pemeriksaan berjalan secara objektif dan berbasis bukti.
Hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar penting untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul sekaligus menghindari berkembangnya spekulasi yang belum terverifikasi.