Temuan COVID-19 Varian Baru ‘Cicada’ Meningkat di Beberapa Negara, Apa Saja Gejalanya?

INBERITA.COM, Dunia kembali disorot oleh penemuan varian baru COVID-19, yang diberi nama BA.3.2 atau lebih dikenal dengan nama ‘Cicada’.

Varian ini kini menjadi perhatian internasional karena penularannya yang semakin meningkat sejak akhir tahun 2024.

Meskipun pertama kali terdeteksi pada tahun 2024, varian Cicada kini telah menyumbang hingga 30% dari total kasus COVID-19 di beberapa negara Eropa Timur dan telah terdeteksi di lebih dari 25 negara bagian di Amerika Serikat.

Para ahli virus mengungkapkan bahwa varian BA.3.2 memiliki tingkat mutasi yang cukup tinggi, yang memungkinkannya menghindari sebagian perlindungan dari vaksin yang telah diterima maupun kekebalan tubuh yang terbentuk akibat infeksi sebelumnya.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang potensi lonjakan kasus pada musim panas mendatang. Cicada disebut-sebut sebagai varian yang bisa memperburuk situasi pandemi yang sebelumnya sudah mereda di beberapa tempat.

“Varian ini memiliki kemampuan untuk menghindari beberapa respons kekebalan tubuh yang sudah ada. Karena itu, kita perlu terus memperhatikan perkembangan terbaru,” ungkap seorang ahli epidemiologi yang terlibat dalam pemantauan varian baru ini.

Gejala yang ditimbulkan oleh varian Cicada secara umum tidak jauh berbeda dengan varian COVID-19 lainnya.

Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala yang biasa muncul pada penderita varian ini meliputi:

  • Hidung berair atau tersumbat
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Nyeri otot atau pegal-pegal
  • Muntah
  • Diare
  • Perubahan pada indera penciuman atau perasa

Namun, ada satu gejala khas yang dikaitkan dengan varian Cicada, yaitu rasa sakit tenggorokan yang sangat perih, yang disebut dengan kondisi ‘razorblade throat’. Gejala ini dilaporkan cukup umum pada mereka yang terinfeksi varian BA.3.2.

Dr. Robert H Hopkins Jr, Direktur Medis dari National Foundation for Infectious Diseases, mengatakan kepada USA Today bahwa ia belum melihat data yang menunjukkan bahwa varian Cicada lebih parah dibandingkan dengan varian-varian COVID-19 lainnya yang sedang beredar.

“Sakit tenggorokan yang berat dilaporkan sebagai gejala yang cukup umum, bersama dengan gejala khas COVID lainnya,” katanya.

Dr. Hopkins menambahkan bahwa meskipun gejalanya mirip dengan flu biasa, sakit tenggorokan yang sangat menyakitkan bisa menjadi tanda yang membedakan varian ini dari infeksi saluran pernapasan lainnya.

CDC juga mengungkapkan bahwa gejala COVID-19 sangat mirip dengan flu biasa, sehingga sulit untuk membedakannya tanpa tes. Namun, ada beberapa perbedaan yang bisa dijadikan acuan untuk membedakan keduanya.

Misalnya, hilangnya kemampuan mencium bau atau mengecap rasa, yang lebih sering dikaitkan dengan COVID-19, terutama jika berlangsung lama tanpa penyebab jelas.

Selain itu, sesak napas atau kesulitan bernapas juga lebih sering menjadi tanda-tanda dari COVID-19, dibandingkan flu.

Gejala flu biasanya muncul antara 1 hingga 4 hari setelah terpapar virus, sementara gejala COVID bisa muncul lebih lambat, antara 2 hingga 5 hari atau bahkan hingga 14 hari setelah terpapar.

Dengan penemuan varian Cicada, ada kekhawatiran akan adanya lonjakan kasus baru, terutama jika varian ini terus berkembang. Sifatnya yang mampu menghindari sebagian kekebalan yang sudah ada membuat varian ini semakin sulit dikendalikan.

Walaupun gejalanya tidak jauh berbeda dengan varian sebelumnya, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan gejala-gejala yang muncul.

Jika merasa terinfeksi atau menunjukkan gejala yang mirip dengan COVID-19, disarankan untuk melakukan tes COVID dan mengikuti pedoman kesehatan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.

Varian Cicada memang masih terbilang baru, namun penyebarannya yang pesat harus diwaspadai oleh semua pihak.

Para ahli kesehatan terus memantau perkembangan varian ini, mengingat kemampuan mutasi tinggi yang dimilikinya, yang dapat mempengaruhi efektivitas vaksin dan kekebalan tubuh.

Gejala-gejalanya yang mirip dengan flu biasa, ditambah dengan gejala khas seperti sakit tenggorokan yang sangat perih, perlu menjadi perhatian.

Tetap waspada dan perhatikan setiap perkembangan terbaru terkait COVID-19, terutama varian baru seperti Cicada, yang bisa memicu lonjakan kasus dan memberikan tantangan baru dalam penanganan pandemi global ini.