INBERITA.COM, PT Super Bank Indonesia, yang lebih dikenal dengan nama Superbank, dikabarkan tengah menyiapkan langkah besar dengan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proses IPO ini diperkirakan akan berlangsung antara pertengahan November hingga akhir tahun 2025.
Dalam proses ini, Superbank disebut telah menunjuk empat perusahaan sekuritas ternama sebagai penjamin pelaksana emisi, yakni PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sucor Sekuritas. Khusus CLSA, peran mereka sebagai joint global coordinator sebelumnya juga sempat diungkap oleh Stockbit Sekuritas.
Perusahaan dikabarkan akan melepas sekitar 15% saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran tidak lebih dari Rp 1.050 per saham.
Berdasarkan dokumen internal yang beredar, Superbank menargetkan penggalangan dana sebesar Rp 5,36 triliun dari IPO ini. Jika tercapai, angka tersebut menjadikan Superbank salah satu IPO bank digital terbesar yang digelar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, beberapa bank digital lain yang telah melantai di BEI menargetkan dana jauh lebih kecil.
PT Bank Jago Tbk (ARTO) mematok target Rp 31,84 miliar pada 2016, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) sebesar Rp 34,5 miliar pada 2015, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Rp 100 miliar pada 2015, dan PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) Rp 515 miliar pada 2021.
Harga saham pada saat IPO juga relatif lebih rendah dibanding Superbank, yang menempatkan valuasi pasar di kisaran Rp 5 triliun lebih.
Melihat besarnya target dana dan harga saham, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai Superbank berpotensi menjadi pemain signifikan di pasar bank digital Indonesia.
Menurutnya, dukungan dari perusahaan besar seperti Grab, Singtel, dan Kakao Bank memberi Superbank keunggulan kompetitif karena dapat mempercepat ekspansi dan penetrasi pasar.
“Selain itu Superbank juga punya sinergi kuat lewat ekosistem di dalam Grup EMTK yang cukup diversifikasi,” kata Liza kepada wartawan, Rabu (12/11/2025).
Ia menambahkan, rumor IPO ini bahkan sudah berdampak pada harga saham grup EMTEK (EMTK, SCMA) yang cenderung terapresiasi sejak kabar tersebut mencuat.
Meski demikian, manajemen Superbank memilih untuk tidak memberikan komentar terkait rumor pasar atau spekulasi IPO.
“Fokus perusahaan adalah menjaga kinerja yang kuat melalui solusi keuangan inovatif, pertumbuhan jumlah nasabah, serta kolaborasi dengan ekosistem terpercaya untuk mendorong pertumbuhan inklusif di Indonesia,” ujar pihak Superbank saat dihubungi media, Jumat (7/11/2025).
Kabar IPO Superbank ini juga sejalan dengan pernyataan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.
Ia menyebut ada tiga perusahaan “lighthouse” yang direncanakan listing akhir tahun 2025, berasal dari sektor finansial, tambang, dan infrastruktur.
Lighthouse company sendiri adalah istilah untuk perusahaan yang menjadi “mercusuar” bursa setiap tahun, dengan kriteria minimal kapitalisasi pasar Rp 3 triliun dan free float minimal 15%.
Liza menekankan, jika IPO berjalan sesuai target dan valuasi, Superbank bisa menjadi salah satu IPO bank digital terbesar dalam beberapa tahun terakhir, yang tentu akan menarik perhatian investor domestik dan asing.
Namun, sejumlah analis skeptis mengingat target penggalangan dana yang tinggi dan harga saham yang relatif besar, mempertanyakan seberapa realistis proyeksi pertumbuhan Superbank di tengah kompetisi ketat bank digital saat ini.
Dengan kombinasi dukungan ekosistem besar, nama-nama besar di belakang perusahaan, dan potensi modal IPO yang besar, pasar tampaknya memang akan mengamati langkah Superbank dengan penuh perhatian.
Investor pun disarankan untuk menilai secara hati-hati laporan keuangan, model bisnis, serta potensi risiko yang melekat sebelum memutuskan ikut dalam IPO ini.
Dengan potensi penggalangan dana hingga Rp 5,36 triliun, dukungan Grab, Singtel, Kakao Bank, dan sinergi dengan Grup EMTK, Superbank tampak ingin menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama di pasar perbankan digital Indonesia.
Namun, apakah bank digital ini benar-benar siap bersaing atau sekadar hype menjelang IPO, hanya waktu yang bisa menjawabnya. (xpr)