Suasana Mencekam di JW Marriott Medan, Musda Golkar Sumut Ricuh di Luar Gedung

INBERITA.COM, Kericuhan mewarnai pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut) yang digelar di Kota Medan.

Insiden tersebut terjadi di depan lokasi acara, tepatnya di Hotel JW Marriott Medan, Jalan Yos Sudarso, pada Minggu (1/2/2026).

Suasana yang seharusnya kondusif untuk agenda internal partai politik besar itu mendadak berubah mencekam akibat aksi dua kelompok massa yang terlibat ketegangan di luar area hotel.

Berdasarkan pantauan dari berbagai rekaman video yang beredar luas di media sosial, khususnya Instagram, dua kelompok massa tampak saling berhadapan di badan jalan.

Mereka terlihat menyalakan dan melemparkan petasan ke arah kelompok lain, sementara sejumlah orang membawa potongan kayu.

Aksi tersebut memicu kepanikan warga sekitar dan pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Kericuhan Musda Golkar Sumut ini dengan cepat menjadi perhatian publik setelah sejumlah akun media sosial mengunggah video kejadian. Salah satunya diunggah oleh akun @medantalk.

Dalam video tersebut, terlihat massa yang mayoritas mengenakan baju kuning dengan logo Partai Golkar berdiri berseberangan di Jalan Yos Sudarso.

Situasi semakin memanas ketika beberapa orang menyalakan petasan dan melemparkannya ke arah kelompok lawan.

“Ada ledakan kembang api di persimpangan Putri Hijau,” tulis akun tersebut dalam keterangan unggahannya.

Kalimat singkat itu menggambarkan situasi di lapangan yang penuh ketegangan dan membuat warga sekitar waswas.

Suara letusan petasan terdengar beberapa kali dan cukup keras, sehingga memecah konsentrasi peserta Musda yang tengah mengikuti rangkaian sidang di dalam Hotel JW Marriott Medan.

Meski kericuhan terjadi di luar gedung, dampaknya terasa hingga ke dalam area acara. Sejumlah peserta Musda mengaku terganggu dengan suara petasan yang terus terdengar dari luar.

Situasi di depan hotel berbintang itu sempat menyebabkan arus lalu lintas melambat. Pengguna jalan memilih memperlambat kendaraan mereka, bahkan sebagian pengendara terlihat memutar arah untuk menghindari area kericuhan.

Warga sekitar lokasi juga tampak menjauh dari titik kerumunan massa karena khawatir keributan meluas dan berujung bentrokan fisik.

Padahal, lokasi Musda XI Golkar Sumut sejatinya dijaga ketat oleh aparat keamanan. Hotel JW Marriott Medan menjadi pusat kegiatan penting Partai Golkar Sumut dalam menentukan arah kepemimpinan dan konsolidasi organisasi ke depan.

Namun, kerumunan massa di luar area acara justru memicu gesekan antarkelompok yang sulit dihindari.

Menariknya, kedua kelompok massa yang terlibat kericuhan diketahui sama-sama mengenakan atribut Partai Golkar.

Kondisi tersebut membuat aparat dan masyarakat sekitar sulit membedakan apakah mereka berasal dari kubu peserta Musda, simpatisan, atau pihak peninjau yang datang ke lokasi.

Situasi ini semakin memperkeruh keadaan karena potensi provokasi bisa datang dari berbagai arah.

Kericuhan Musda Golkar Sumut di depan JW Marriott Medan ini menjadi sorotan karena Musda merupakan forum strategis dan krusial bagi Partai Golkar di tingkat daerah.

Agenda tersebut seharusnya menjadi ajang konsolidasi, pembahasan program, serta penentuan kepemimpinan partai di Sumatera Utara.

Namun, dinamika panas di luar ruang sidang justru mencuri perhatian publik dan menimbulkan kesan kurang kondusif.

Dalam sejumlah video lain yang beredar, terlihat dua kelompok massa berdiri berseberangan cukup lama di Jalan Yos Sudarso.

Sebelum petasan dinyalakan, terdengar teriakan dan provokasi dari masing-masing kubu. Tidak lama kemudian, letusan kecil petasan terjadi berulang kali, menambah ketegangan di lokasi kejadian.

Sebagian massa juga terlihat membawa kayu dengan berbagai ukuran. Kayu-kayu tersebut diduga disiapkan untuk berjaga-jaga apabila bentrokan fisik benar-benar terjadi.

Pemandangan ini semakin menegaskan potensi konflik yang bisa saja membesar jika tidak segera ditangani.

Beruntung, aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi bergerak cepat merespons situasi.

Polisi segera membentuk barikade untuk memisahkan dua kelompok massa agar tidak saling mendekat.

Langkah cepat tersebut dinilai mampu meredam eskalasi kericuhan sehingga bentrokan fisik dapat dihindari.

Meski demikian, peristiwa ricuh di Musda XI Golkar Sumut ini tetap meninggalkan catatan penting.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa agenda politik berskala daerah pun memiliki potensi kerawanan jika tidak diantisipasi dengan pengamanan dan pengelolaan massa yang maksimal.

Hingga kericuhan mereda, sidang Musda di dalam hotel tetap dilanjutkan dengan pengawasan keamanan yang diperketat di sekitar area acara.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas dan ketertiban dalam setiap agenda politik sangat penting, tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi masyarakat luas yang terdampak langsung oleh situasi di lapangan.