Starbucks Amerika PHK 900 Karyawan dan Tutup Ratusan Gerai, Strategi Baru atau Tanda Bahaya?

INBERITA.COM, Raksasa kopi asal Amerika Serikat, Starbucks, mengumumkan langkah besar dalam upaya restrukturisasi bisnisnya dengan rencana pemangkasan 900 karyawan non-ritel serta penutupan sejumlah gerai di Amerika Utara.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi transformasi yang nilainya mencapai US$1 miliar, atau sekitar Rp15,6 triliun (kurs Rp15.600 per dolar AS).

Langkah ini diumumkan langsung oleh CEO Starbucks, Brian Niccol, melalui sebuah memo resmi kepada seluruh karyawan.

Dalam pernyataan tersebut, Niccol menekankan bahwa keputusan ini diambil sebagai bagian dari rencana menyeluruh bertajuk “Back to Starbucks” yang bertujuan memperkuat kembali posisi perusahaan di tengah ketatnya persaingan industri kopi global.

“Meskipun kami telah membuat kemajuan yang baik, masih banyak yang harus dilakukan untuk membangun Starbucks yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih tangguh,” ujar Niccol, dikutip dari ABC.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 900 karyawan tersebut akan difokuskan pada sektor non-ritel, yang artinya tidak akan secara langsung berdampak pada pegawai kedai atau barista di gerai-gerai.

Namun demikian, langkah ini tetap memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap kinerja dan pelayanan perusahaan ke depan.

CBS melaporkan bahwa dari total anggaran restrukturisasi tersebut, sebesar US$450 juta (sekitar Rp7 triliun) akan dialokasikan untuk menutup toko, termasuk biaya pemutusan sewa lebih awal.

Sementara itu, sekitar US$150 juta (sekitar Rp2,34 triliun) digunakan untuk menutupi biaya pesangon dan kompensasi PHK terhadap karyawan yang terdampak.

Meski belum disebutkan secara rinci berapa banyak gerai yang akan ditutup, Niccol menyatakan bahwa penutupan ini akan berimbas pada sekitar 1% dari total jumlah gerai di kawasan Amerika Utara.

Setelah memperhitungkan pembukaan gerai baru, jumlah keseluruhan kedai Starbucks diperkirakan akan menyusut menjadi sekitar 18.300 lokasi pada akhir tahun fiskal berjalan, turun dari 18.424 lokasi yang tercatat pada tahun fiskal 2024.

“Setiap tahun, kami membuka dan menutup kedai kopi karena berbagai alasan, mulai dari kinerja keuangan hingga berakhirnya masa sewa. Ini adalah tindakan yang lebih signifikan yang kami pahami akan berdampak pada mitra dan pelanggan,” ungkap Niccol dalam memonya.

Starbucks menyebut bahwa tinjauan terhadap lokasi gerai dilakukan secara menyeluruh.

Dalam proses tersebut, perusahaan mengidentifikasi kedai-kedai yang tidak mampu menciptakan lingkungan fisik yang sesuai dengan ekspektasi pelanggan dan mitra, atau yang tidak menunjukkan potensi kinerja finansial yang baik.

“Selama tinjauan, kami mengidentifikasi kedai kopi yang tidak dapat kami ciptakan lingkungan fisik yang diharapkan pelanggan dan mitra kami, atau yang tidak memiliki potensi untuk mencapai kinerja keuangan, dan gerai-gerai tersebut akan ditutup,” tegas Niccol.

Perusahaan juga menyampaikan bahwa mereka akan segera menginformasikan kepada karyawan yang terdampak mengenai keputusan penutupan gerai ini dalam minggu ini.

Starbucks berkomitmen untuk berusaha memindahkan karyawan yang terdampak ke gerai-gerai lain, namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, perusahaan akan memberikan pesangon yang disebut sebagai “komprehensif.”

Strategi “Back to Starbucks” diluncurkan di tengah tantangan berat yang dihadapi perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun tetap mencatatkan keuntungan, pertumbuhan penjualan perusahaan menunjukkan tren melambat, terutama karena meningkatnya tekanan dari kompetitor seperti Dunkin’ dan perubahan pola konsumsi pelanggan yang kini lebih selektif akibat tekanan ekonomi.

Starbucks diketahui telah mengalami penurunan penjualan di toko yang sama selama enam kuartal berturut-turut.

Ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan harus mengambil langkah tegas untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pasar dan perilaku konsumen yang terus berubah.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Starbucks telah melakukan sejumlah pembaruan interior di banyak gerainya guna meningkatkan pengalaman pelanggan.

Namun, tidak semua lokasi memungkinkan pembaruan tersebut dilakukan, sehingga keputusan penutupan menjadi langkah yang dinilai paling realistis dan strategis.

Sementara itu, saham Starbucks dilaporkan mengalami sedikit penguatan dalam perdagangan pra-pasar pada Kamis pagi setelah pengumuman ini mencuat ke publik.

Reaksi pasar ini menunjukkan adanya optimisme bahwa langkah efisiensi yang diambil bisa memperkuat kinerja jangka panjang perusahaan.

Dengan target akhir tahun fiskal 2025 mencapai 18.300 gerai di wilayah Amerika Serikat dan Kanada, Starbucks tampak serius dalam menjalankan penataan ulang bisnisnya demi mempertahankan relevansi merek serta meningkatkan daya saing di tengah dinamika industri yang semakin kompleks.

Kebijakan pemangkasan dan penutupan gerai ini menjadi sinyal kuat bahwa Starbucks tengah bersiap menyambut fase baru dalam perjalanannya sebagai salah satu pemimpin global dalam industri kopi.

Transformasi ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang bagi perusahaan untuk menjawab tuntutan pasar yang semakin dinamis. (xpr)