Sisi Lain Yayan, Warga Depok yang Jadi Tentara Bayaran Rusia: Tinggalkan Masa Lalu Kelam Demi Perubahan Hidup

INBERITA.COM, Seorang pria kelahiran Depok, Wahyu Oktavian Iskandar alias Yayan, kini menjadi sorotan setelah dikonfirmasi sebagai tentara Rusia dalam konflik melawan Ukraina.

Ketua RW 06 Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Sugeng, mengungkapkan Yayan meninggalkan masa lalu yang kelam untuk memulai hidup baru sebagai tentara.

Yayan dikenal memiliki masa muda yang penuh gejolak, termasuk terlibat perkelahian dan penyalahgunaan narkoba.

Sugeng, yang menjalin hubungan layaknya ayah angkat dengan Yayan, menyatakan pria kelahiran 22 Oktober 1985 itu memutuskan pergi demi perubahan hidup.

“Nangis-nangis, peluk saya waktu pamit dia bilang ingin berubah,” ujar Sugeng saat ditemui wartawan pada Rabu 2 September 2026.

Menurut data Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU), Yayan memiliki visa Rusia berlaku sejak 14 April hingga 11 Agustus 2026.

Ia direkrut dengan janji gaji tinggi untuk bertugas di garis depan peperangan. Sugeng membantah kabar Yayan mendaftar sebagai satpam di Rusia, menegaskan sejak awal Yayan mengetahui pekerjaannya sebagai tentara Rusia.

Teman Yayan dengan inisial SA menyebutkan Yayan merupakan warga sipil biasa tanpa latar belakang pendidikan militer.

Ayah Yayan adalah pensiunan marinir, namun Yayan sendiri belum pernah mendapatkan pendidikan militer dasar.

“Ayahnya pensiunan Marinir,” kata SA kepada wartawan di Jakarta.

Kehadiran Yayan sebagai tentara Rusia menjadi bagian dari delapan WNI yang teridentifikasi bergabung dalam konflik tersebut.

Aparat keamanan kemudian mendatangi rumah orang tua Yayan untuk menggali informasi lebih lanjut. Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga melakukan kunjungan ke rumah tersebut untuk memverifikasi keterangan.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati menerima tawaran pekerjaan dari luar negeri.

Ia menekankan pentingnya mengetahui secara jelas siapa pemberi kerja, jenis pekerjaan, dan lokasi penempatan.

“Jangan mudah tergiur tawaran pekerjaan dengan penghasilan tinggi tanpa mengetahui secara jelas siapa pemberi kerja, apa pekerjaannya, dan di mana mereka akan ditempatkan,” ujar Yusril dalam siaran pers di Jakarta.

Yusril menegaskan perlunya kewaspadaan lebih jika pekerjaan yang ditawarkan berkaitan dengan kegiatan militer atau konflik bersenjata.

Pemerintah juga perlu menelusuri pola perekrutan WNI yang bergabung sebagai tentara Rusia untuk memahami siapa yang merekrut dan prosesnya. Langkah ini penting untuk mencegah potensi pelanggaran hukum atau perdagangan orang.

Kisah Yayan menunjukkan perjalanan hidup yang berubah drastis dari masa muda yang kelam menuju pilihan kontroversial.

Keputusan Yayan meninggalkan Indonesia untuk menjadi tentara asing menimbulkan berbagai pertanyaan tentang motivasi dan dampaknya.

Sementara itu, pemerintah terus berupaya memahami pola perekrutan WNI di luar negeri.