Setelah Tertahan Berbulan-bulan, Kapal Pertamina Pride Akhirnya Melintasi Selat Hormuz dengan Aman

Pertamina Pride Berhasil Tinggalkan Selat Hormuz, Kapal Tanker Pembawa 2 Juta Barel Minyak Melaju ke CilacapPertamina Pride Berhasil Tinggalkan Selat Hormuz, Kapal Tanker Pembawa 2 Juta Barel Minyak Melaju ke Cilacap
Pertamina Pride Berhasil Tinggalkan Selat Hormuz, Kapal Tanker Pembawa 2 Juta Barel Minyak Melaju ke Cilacap.

INBERITA.COM, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan pengiriman minyak mentah menuju Indonesia kembali berjalan sesuai rencana setelah kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina Pride berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman.

Kapal berkapasitas sekitar 2 juta barel minyak mentah itu kini melanjutkan pelayaran menuju Terminal Cilacap, Jawa Tengah, yang menjadi salah satu titik penting dalam rantai pasok energi nasional.

Keberhasilan tersebut menjadi perkembangan positif di tengah tingginya perhatian terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk Arab.

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan Pertamina Pride telah berhasil keluar dari area berisiko setelah sebelumnya memulai pelayaran pada Selasa, 7 Juli 2026 pukul 13.00 waktu Dubai. Kapal kemudian berhasil melintasi area kritis, termasuk Selat Hormuz, pada Rabu, 8 Juli 2026.

Menurut Vega, keberhasilan tersebut menyusul kapal Gamsunoro yang lebih dulu berhasil meninggalkan kawasan Teluk Arab. Dengan demikian, dua kapal milik PIS yang sempat tertahan sejak Maret kini telah kembali menjalankan operasional normal.

“Artinya, kedua kapal milik PIS yang tertahan sejak Maret lalu kini bisa kembali melanjutkan perjalanan dan beroperasi seperti biasa,” ujar Vega dalam keterangannya yang diterima wartawan.

Keberhasilan pelayaran ini dinilai tidak terlepas dari langkah mitigasi risiko yang diterapkan perusahaan sebelum kapal diberangkatkan.

PIS melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai aspek keselamatan guna memastikan pelayaran dapat berlangsung dengan aman di tengah dinamika keamanan kawasan.

Vega menjelaskan, keputusan untuk memberangkatkan Pertamina Pride bukan diambil secara terburu-buru. Penentuan waktu keberangkatan hingga rute pelayaran melalui Selat Hormuz telah melalui proses pembahasan yang panjang serta penilaian risiko secara komprehensif.

Berbagai persyaratan harus dipenuhi sebelum kapal memperoleh izin untuk berlayar. Evaluasi dilakukan mulai dari perlindungan asuransi, kesiapan teknis kapal, aspek operasional, keamanan pelayaran, hingga kesiapan seluruh awak kapal yang bertugas selama perjalanan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari sistem manajemen risiko yang diterapkan perusahaan agar operasional tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Selain memastikan kesiapan sebelum keberangkatan, PIS juga menerapkan pengawasan ketat selama kapal berada di laut. Seluruh aktivitas pelayaran dipantau secara berkelanjutan selama 24 jam penuh melalui pusat kendali yang disiapkan perusahaan.

Menurut Vega, awak kapal terus berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di crisis center PIS.

Sistem komunikasi tersebut memungkinkan setiap perkembangan di lapangan dapat dipantau secara real time sehingga langkah antisipasi dapat segera dilakukan apabila muncul potensi gangguan terhadap keselamatan pelayaran.

“Selama pelayaran, kapal dimonitor selama 24 jam penuh. Awak kapal di laut terus berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di crisis center PIS untuk memastikan keamanan pelayaran,” katanya.

PIS juga memastikan seluruh awak kapal Pertamina Pride berada dalam kondisi aman dan selamat. Tidak ada laporan mengenai gangguan terhadap kru maupun kerusakan yang memengaruhi kelangsungan pelayaran.

Dengan kapasitas angkut mencapai sekitar 2 juta barel minyak mentah, Pertamina Pride memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan bahan baku kilang di Indonesia.

Setelah berhasil melewati Selat Hormuz, kapal langsung melanjutkan pelayaran menuju Cilacap untuk mendukung pasokan energi nasional.

Berdasarkan estimasi perjalanan, kapal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 15 hari sebelum tiba di Indonesia. Jika tidak ada kendala selama pelayaran, Pertamina Pride dijadwalkan bersandar di Cilacap pada 23 Juli 2026.

Kelancaran perjalanan kapal tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan distribusi minyak mentah bagi operasional kilang domestik.

Pasokan yang terjaga berkontribusi terhadap stabilitas produksi bahan bakar dan berbagai produk energi yang dibutuhkan masyarakat maupun sektor industri.

Di sisi lain, keberhasilan dua kapal PIS meninggalkan kawasan Teluk Arab menunjukkan pentingnya koordinasi lintas lembaga dalam menghadapi tantangan operasional di jalur pelayaran internasional.

Menurut Vega, perusahaan memperoleh dukungan dari berbagai pihak selama proses pengamanan pelayaran berlangsung.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar RI di Tehran, dan seluruh pihak atas dukungannya selama ini,” ujarnya.

PIS menegaskan pemantauan terhadap kondisi keamanan jalur pelayaran internasional tetap dilakukan secara intensif.

Perusahaan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengantisipasi perubahan situasi yang dapat memengaruhi distribusi energi maupun keselamatan pelayaran.

Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah, memiliki peran strategis dalam rantai pasok energi global.

Setiap perubahan kondisi keamanan berpotensi memengaruhi waktu pengiriman, biaya logistik, hingga stabilitas pasokan minyak dunia.

Karena itu, pengelolaan risiko menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasional perusahaan pelayaran energi. Selain menjaga keselamatan awak kapal, langkah tersebut juga bertujuan memastikan distribusi energi ke Indonesia tetap berlangsung tanpa hambatan berarti.

Menutup keterangannya, Vega menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses pelayaran berlangsung.

“PIS menyampaikan terima kasih atas doa, dukungan, dan perhatian dari seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan sehingga kedua kapal, Gamsunoro dan Pertamina Pride dapat berlayar keluar dari Selat Hormuz,” tutupnya.