Sesar Lembang Bergeser 4 Milimeter per Tahun, BRIN: Gunung Batu Bisa Naik 40 Cm Sekali Gempa, Potensi Gempa 6–7 Magnitudo

INBERITA.COM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) kembali mengingatkan masyarakat mengenai potensi gempa bumi besar yang bersumber dari aktivitas Sesar Lembang.

Peringatan ini disampaikan seiring dengan hasil riset terkini yang menunjukkan bahwa sesar aktif tersebut terus bergerak dan menimbulkan perubahan morfologi di sekitarnya, termasuk fenomena meningginya Gunung Batu di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Sesar Lembang merupakan salah satu sesar aktif yang menjadi perhatian utama para peneliti kebumian di Indonesia. Jalur sesar ini membentang hampir 29 kilometer, mulai dari wilayah Padalarang hingga Cimenyan.

Keberadaannya melintasi kawasan padat penduduk di Bandung Raya membuat potensi risiko bencana yang ditimbulkan tidak bisa diabaikan. Gunung Batu di Lembang, yang terletak tepat di kilometer ke-17 jalur Sesar Lembang, disebut sebagai salah satu bukti nyata morfologi permukaan akibat aktivitas sesar tersebut.

Periset Bidang Geologi Gempa Bumi BRIN, Mudrik R. Daryono, menjelaskan bahwa pergeseran atau kenaikan permukaan tanah di sepanjang jalur sesar merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap kali gempa bumi. Ia mencontohkan, Gunung Batu di Lembang dapat mengalami kenaikan yang signifikan dalam satu peristiwa gempa.

“Gunung Batu bisa naik hingga 40 Cm dalam sekali kejadian gempa, dan naik atau gesernya ini akan menghasilkan gempa bumi,” ungkap Mudrik dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/12/2025).

Menurut Mudrik, fenomena gempa-gempa kecil yang belakangan ini tercatat di sekitar wilayah Bandung, khususnya pada segmen Cimeta dan Sesar Kertasari, merupakan bagian dari dinamika alam yang normal dalam sistem sesar aktif.

Aktivitas tersebut dapat diartikan sebagai pelepasan energi sesar dalam skala kecil yang kemudian berhenti, namun juga bisa menjadi bagian dari rangkaian proses panjang menuju terjadinya gempa yang lebih besar.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini ilmu kebumian belum mampu memprediksi secara pasti apakah gempa-gempa kecil tersebut akan berhenti sebagai pelepasan energi biasa atau justru menjadi tanda awal menuju gempa besar.

“Hingga saat ini, ilmu kebumian belum mampu memprediksi dengan pasti skenario mana yang akan terjadi, karena itulah, sikap paling bijak yang bisa dilakukan adalah tetap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini,” ujar Mudrik.

Sebagai lembaga riset nasional, BRIN terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat upaya mitigasi bencana gempa bumi di Jawa Barat.

Bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah daerah, BRIN secara berkelanjutan melakukan riset, pemetaan zona rawan, hingga edukasi publik terkait potensi bahaya Sesar Lembang.

Langkah ini bertujuan untuk membangun kewaspadaan yang sehat di tengah masyarakat sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terburuk.

Peringatan serupa juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, sebelumnya telah meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan Bandung Raya, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa besar akibat pergerakan Sesar Lembang.

Ia menekankan bahwa pemahaman masyarakat menjadi kunci penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.

“Bapak ibu semuanya, tolong informasikan ke keluarganya, informasikan ke lingkungannya masing-masing, Jawa Barat punya potensi bencana sesar lembang, kami sudah beberapa kali bertemu dengan BMKG dan BRIN, setiap tahun Sesar Lembang bergeser 4 milimeter,” beber Herman, Minggu (28/12/2025).

“Mudah-mudahan tidak ada bencana gempa bumi akibat pergeseran Sesar Lembang, tapi secara scientific dimungkinkan,” lanjutnya.

Herman menjelaskan, berdasarkan kajian ilmiah yang ada, pergeseran Sesar Lembang memang berlangsung secara perlahan namun konsisten. Pergeseran sekitar 4 milimeter per tahun tersebut, jika terakumulasi dalam jangka panjang, berpotensi memicu gempa bumi dengan kekuatan signifikan.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat tidak bersikap panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah serta lembaga terkait. Lebih lanjut, Herman memaparkan bahwa apabila gempa besar yang bersumber dari Sesar Lembang benar-benar terjadi, dampaknya diperkirakan akan dirasakan oleh sedikitnya tujuh kabupaten dan kota di wilayah Bandung Raya.

Daerah yang berpotensi terdampak tersebut meliputi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang.

“Kalau itu terjadi maka potensi bencananya, potensi gempanya 6-7 Magnitud, mudah-mudahan tidak terjadi tapi secara scientific dimungkinkan terjadi, dan kita semuanya harus waspada,” sebutnya.

Peringatan dari BRIN dan Pemprov Jabar ini menjadi pengingat bahwa kawasan Bandung Raya berada di wilayah yang memiliki kompleksitas geologi tinggi. Aktivitas Sesar Lembang, fenomena kenaikan Gunung Batu di Lembang, serta kemunculan gempa-gempa kecil di sekitar Bandung merupakan sinyal alam yang perlu disikapi dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

Pemerintah dan lembaga riset terus berupaya memperkuat mitigasi dan edukasi, sementara masyarakat diharapkan aktif memahami risiko, menyiapkan langkah antisipasi, dan saling mengingatkan di lingkungan masing-masing demi mengurangi dampak jika gempa bumi besar benar-benar terjadi.